Fajar Ishak: Wajar Kalau Warga Tidak Terima, Menyalahi Perda RTRW

– Polemik Makam di Lr Arthum

Peliput: La Ode Adrian

BAUBAU, BP – Terkait warga RT 01 RW 02 Lr Arthum Kelurahan Katobengke Kecamatan Betoambari yang tidak terima, Taryo menguburkan jenazah ibunya di pemukiman warga, Anggota DPRD Kota Baubau Fajar Ishak Daeng Jaya SE menuturkan, wajar jika warga merasa terganggu dan tidak terima adanya makam tersebut. Mengingat, pemakaman yang dilakukan tidak sesuai dengan peruntukannya dan menyalahi Peraturan Daerah (Perda) Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Kota Baubau.

Dijelaskan kata Fajar, seharusnya hal tersebut tak harus dilakukan yang kemudian menimbulkan polemik ditegah masyarakat saat ini, dikarenakan tempat pengamakaman sudah disiapkan oleh Pemerintah Kota Baubau. Dan dianggapnya, pemakaman yang dilakukan ditengah pemukiman warga tersebut secara positif mengganggu psikologis masyarakat setempat.

“Warga yang tidak terima itu wajar kalau dia merasa dirugikan, karena mereka juga punya hak untuk merasakan kenyamanan dan ketentraman. Kalau seya begini, pemakaman keluarga ataupun pemakaman lainnya, kalau sudah lebih dari satu kuburan, itukan sudah semacam kawasan pemakaman kecil, sehingga kalau sudah berada ditengah pemukiman masyarakat tentu sudah mempengaruhi secara psikologis masyarakat yang berada di sekitar situ. Kemudian, masalah ini sudah tidak bersesuaian dengan Perda RTRW kita,” jelas Fajar, Rabu (19/10).

Dilanjutkan, mengingat pemakaman tersebut sudah terlanjur dilakukan, maka tidak dibenarkan jika ada penambahan makam secara berkelanjutan pada lokasi yang sama.

Namun hal itu akan dibahas pihak DPRD Kota Baubau bersama Pemerintah Kota Baubau dalam rapat kerja atau dengar pendapat dengan mengundang masyarakat yang merasa keberatan serta pihak-pihak terkait, untuk mencari solusi dan jalan keluar agar polemik tersebut tidak berkelanjutan.

“Mungkin sudah terlanjur misalnya terdapat satu atau dua makam, cukuplah sampai disitu jangan lagi ditambah, supaya masyarakat yang bermukim disitu tidak terganggu secara psikologis, mungkin kalau ada keluarga masyarakat yang meninggal dunia jangan lagi dukuburkan disitu, harus memanfaatkan lokasi yang sudah disiapkan oleh pemerintah. Intinya begini, makam-makam disekitar rumah masyarakat yang sudah ada sejak berpuluh tahun lalu, biarlah itu saja jangan lagi ada penambahan supaya tidak lagi mengganggu masyarakat yang bermukim disitu. Kalau ada keluarga yang meninggal, di kebumikan dipemakaman yang sudah diatur oleh pemerintah,” paparnya.

Ditambahkan, sambil menunggu permasalah tersebut dibahas oleh dewan bersama pemerintah dan pihak-pihak terkait mengingat masih banyak agenda dewan yang harus dibahas, masyarakat diharapkan jangan melakukan gerakan tambahan yang dapat memicu terjadinya masalah yang lebih besar.

“Langkah dan solusi apa yang akan dilakukan oleh pihak pemerintah bersama dewan nanti kita akan bahas, cuman waktunya ini sangat terbatas untuk membahas itu. Dan sambil menunggu itu (dubahas), jangan dulu ada pihak-pihak yang menimbulkan silang pendapat ditengah masyarakat, jangan ada kemudian masyarakat yang mengambil langkah-langkah anarkis. Artinya jangan ada pihak yang emosional menanggapi permasalahan ini, masing-masing mendinginkan perasaan dulu sambil dewan mencari waktu untuk membahas ini bersama pemerintah agar persoalan ini selesai,” tandasnya.

Dikutip dari edisi Baubau Post tertanggal 17 Oktober 2016, Masfito yang merupakan warga Lr Arthum Kelurahan Katobengke, secara tegas bersama warga setempat menolak keberadaan makam di pemukiman mereka. Keberadaan makam tersebut dinilainya merupakan sikap arogansi dan tidak menghargai sesama manusia.

Masfito memperlihatkan lembaran penolakan makam yang ditandatangani 15 orang dan dipertegas oleh tandatangan Ketua RT Drs Jufri M. Sebagai bentuk keseriusan, pihak warga sudah melayangkan surat ke Pemerintah Kota Baubau dan pihak kepolisian.

Bahkan saat kuburan dimaksud baru direncnakan, pihak warga sudah meminta kepada Taryo (yang memakamkan ibunya ditengah pemukiman warga, red.) untuk mengurungkan niatnya dan meminta menguburkannya di pemakaman umum.

“Tetapi tetap saja dikuburkan di situ,biasa kita minum-minum kopi dengan teman-teman kita sudah tidak berani mi karena ada kuburan,” kesal Masfito dikutip dari edisi Baubau Post lalu.

Hal senada diungkapkan Hariyono. Kepada koran ini ia mengaku terganggu dengan keberadaan makam di pemukiman mereka. Secara tegas ia mengatakan harga mati kuburan tersebut harus dipindahkan.

Sedangkan menurut Jufri M selaku Ketua RT setempat, konteks kehidupan bermasyarakat ada yang namanya RT dan Lurah. Apalagi Taryo yang merupakan Kabid di Dinas Kebersihan Pertamanan Pemakaman dan Pemadam Kebakaran Kota Baubau, dianggap lebih mengerti aturan ketimbang masyarkat.
Sedangkan dikutip dari Edisi Baubau Post tertanggal 18 Oktober 2016, Taryo menganggap protes warga tersebut sangat berlebihan. Pasalnya, sebelum almarhumah meninggal berpsan atau berwasiat agar di kuburkan di dekat rumahnya. Apalagi lokasi tanah kuburan menjadi hak miliknya.

Taryo mengatakan, jika kedepannya penempatan lokasi makam tidak sesuai dengan tata ruang dan menganggap tidak sesuai dengan aturan, pihaknya siap megikuti arahan tata ruang.(*)

Pin It on Pinterest