Dianiaya, Siswa SD 2 Masiri Laporkan Gurunya Ke Polisi

Peliput: Amirul

BATAUGA, BP– Amd yang merupakan Guru Agama SD 2 Masiri Kecamatan Batauga, Kabupaten Buton Selatan dilaporkan oleh siswanya ke Mapolsek Batauga. Guru tersebut diduga telah melakukan penganiayaan terhadap anak didiknya berinisial Fl (9) siswa kelas V, Senin (7/11).

Aksi penganiayaan oknum guru tersebut dilakukan saat jam istrahat sekitar pukul 10.00 Wita. Tak pelak, korban Fl mengalami luka memar pada lututnya.

Salah satu saksi yang juga teman korban MF (10), menceritakan awal kejadian penganiayaan tersebut pada saat jam istrahat. Dijelaskan, Fl dan Gr yang juga merupakan teman korban beradu jotos diteras kelas. Tiba-tiba dari arah belakang oknum guru inisial Amd langsung menginjak-injak korban Fi dan menendangnya hingga terjatuh dari teras kelas dengan ketinggian kurang lebih satu meter. Akibatnya, lutut Fl mengalami luka memar, sementara Gr tidak diapa-apakan.

“Guru itu dia datang langsung injak-injak dia (korban, Fl), kemudian ditendang hingga jatuh ketanah,” ucap MF.

Lanjutnya, usia menghajar siswanya, oknum guru agama berinisial Amd tersebut langsung masuk kedalam kelas untuk lanjut mengajar bagai tak terjadi kekerasan.

“Habis dia injak-injak dan dia tendang pak guru langsung masuk kelas, sementara Fl pada saat itu pingsan,” tutur MF.

Ditambahkan, aksi kekerasan oknum guru agama itu sering dilakukan. Biasanya siswa yang bandel kepalanya diketok menggunakan ujung spidol.

“kejam guru itu,” pungkasnya.

Sementara ibu korban Wa Jupia (36) warga Kelurahan Molagina mengatakan, terkaget saat melihat anaknya dibawa pulang kerumah oleh teman-teman kelas korban, dan mendapati luka memar pada lutut korban serta model jalan Fl yang sudah terseok-seok akibat memar yang dialaminya.

“Saya kaget lihat anakku kakinya luka akibat ditendang pak guru, maka saya langsung bawa ke kantor polisi untuk diproses,” ucap Wa Jupia.

Menurutnya, jika memang anaknya nakal disekolah bukan berarti harus dianiaya seperti diinjak-injak dan ditendang hingga luka-luka.

“Saya kasi sekolah anakku untuk dididik bukannya diinjak dan ditendang hingga luka.Tidak masalah jika hanya dicubit jika anakku dia nakal. Saya tidak terima gurunya seperti itu, dan saya laporkan ini akan menjadi pelajaran,” tutur Wa Jupia.

Kapolsek Batauga, AKP Anwar SH MH melalui Kanit Bripka Asrun M SH mengatakan, saat ini pihaknya sedang melakukan penyelidikan dengan memeriksa saksi dan korban dengan Laporan Polisi nomor : 22/XI tanggal 7 November 2016.

“Kami sedang melakukan penyelidikan dengan memeriksa saksi-saksi dan korba. Sementara oknum guru yang diduga melakukan penganiayaan akan kami segera panggil untuk dimintai keterangan,” ucap Bripka Asrun

Ditambahkannya, jika oknum guru tersebut tetbukti melakukan penganiayaan terhadap korban, maka akan dikenakan pasal 80 ayat 1 dengan ancaman pidana 3,6 tahun kurungan penjara atau denda sebesar Rp 72 juta.

“Kena pasal penganiayaan dan tindak kekerasan terhadap anak. Undang-undang nomor 35 tahun 2004 tentang perubahan undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak yakni setiap orang dilarang menepatkan membiarkan melakukan atau menyuruh melakukan atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak,” pungkasnya.(*)

Pin It on Pinterest