– Sengketa Lahan Warga dan Karyawan PT Wika Bitumen Saling Tarik Tali Kapal Tongkang

Peliput: Alyakin – Editor: Zaman Adha

PASARWAJO, BP – Warga dan beberapa karyawan PT Wijaya Karya (Wika) Bitumen terlibat saling tarik menarik tali kapal tongkang yang berlabuh di Pelabuhan PT Wijaya Karya (Wika) Bitumen. Peristiwa ini diduga akibat adanya salah paham warga dengan polisi.
Kejadian di bibir pantai ini diawali dengan pihak kepolisian mengambil alih peran sahbandar sebgai petugas pelabuhan. Polisi menyruh pihak PT Wika Bitumen untuk menambatkan tali kapal tongkang di pohon yang tumbuh diatas tanah milik salah seorang warga setempat.
“Anggota polisi berinisai ZR dari Polsek Pasarwajo, menyuruh salah satu kariyawan PT Wika Bitumen untuk kembali mengikat di pohon di atas tanah milik saya. pihak perusahaan tidak meminta izin kepada saya sebagai pemilik tanah sehingga menimbulkan aksi tarik menarik tali kapal ,” kata Drs Mane Adia, Senin (14/11).
Menurutnya, permasalahan terjadi karena adanya aparat kepolisian yang turut campur tangan dengan permasalahnnya. Sebab polisi memerintahkan untuk mengikat kembali tali kapal tongkang di pohon, yang seharusnya tugas dari pihak sahbandar bukan dari kepolisian.
Olehnya itu, tali kapal tongkang, sudah dilepas karena ada kesepakatan antara karyawan PT Wika dan pemilik tanah. Akan tetapi dari pihak perusahaan belum menginzinkannya sebab masih menunggu keluraganya.
“Mereka meminta saya untuk jangan melepaskan tali kapal tongkang yang diikat di pohon sebelum saudara saya datang yang bernama Karim, karena perusahan meminta izin melalui dia,” ucapnya
Kapolsek Pasarwajo, Iptu Baharudin SH saat dikonfirmasi Baubau Post di kantronya Senin (14/11) mengatakan, tindakan yang dilakukan oleh anggotanya adalah untuk menciptakan rasa aman. Namun jikada ada pihak yang merasa keberatan, itu merupakan hak masing-masing. Jika ditemukan ada peristiwa yang memancing kerawanan, maka pihaknya akan memerintahkan anggotanya untuk mengambil tindakan yang tepat sehingga menciptakan rasa aman.
“Intinya kami dari kepolisian tidak berpihak kepada siapapun, kami berusaha untuk menciptakan rasa aman,” tandasnya
Sementara itu, koordinator lapangan perusahaan PT Wika Bitumen, Safrin, yang melakukan aksi tarik tali kapal tongkang dengan Drs Mane Adiaa, dikonfirmasi Koran ini mengakui, ditempat kejadian pada saat itu tidak ada yang memerintahkan dirinya untuk mengikat tali di pohon.
“Pihak kepolisian tidak memerintahkan saya untuk memasang tali kapal tongkang itu di atas pohon, pemasangan tali tersbut atas keinginan saya sendiri sebab kalau dilepas itu sangat berbahaya terutama keselamatan Mobil yang sementara mengangkut aspal di tongkang yang kapan saja bisa hanyut,” katanya
Safrin yang juga keluarga dari Mane Adiaa menambahkan, dia memiliki tugas untuk mengamankan pelaksanaan pemuatan aspal kedalam tongkang. Untuk itu, pihaknya bertanggung jawab untuk menjaga keselamatan karyawan lainnya, yang sedang bertugas mengangkut aspal.
Dengan adanya pihak kepolisian, Safrin cukup terbantu dalam melerai Karim dan Mane Adia yang sempat adu fisik. ” Jika saja tidak ada pihak kepolisian yang datang untuk mengamankan, mungkin akan ada korban sebab sempat terjadi salah paham,” tutupnya. (*)

Pin It on Pinterest