Polres Buton Amankan Empat Ton Miras

image_pdfimage_print

Pembuatan Miras Jenis Arak Terbanyak di Kecamatan Pasarwajo

Peliput Alyakin Editor: Hasrin Ilmi

PASARWAJO, BP – Polres Buton berhasil mengamankan kurang lebih empat ton serta berhasil mengungkap 92 kasus Miras dan Pengedar yang ditangkap sebanyak 74 orang, produsen tiga orang, pengguna tiga orang, serta 13 kasus masih dalam lidik. Pengungkapan kasus ini dilakukan saat operasi cipta kondisi (Cipkon) yang dilaksanakan jajaran Polres Buton sejak 12-30 April 2018.

Dari Operasi Cipkon tersebut lokasi pembuatan Minuman Keras (Miras) tradisonal jenis Arak terbanyak khususnya diwilayah Hukum Polres Buton ternyata di Kecamatan Pasarwajo tepatnya disekitaran Wakokili atau Wangkokea.

Pada operasi Cipta Kondisi (Cipkon) yang dilaksanakan jajaran kepolisian khususnya di Dua wilayah Hukum Polres Buton yakni Kabupaten Buton dan Buton Selatan rupanya Kabupaten Buton terbesar dalam pembuatan Minuman Keras (Miras)

“Hampir setiap kecamatan, setiap Polsek melaksanakan dan itupun rata rata ada hasil, yang terbesar di Wangkokea dan Wakokili,” kata Kapolres Buton, AKBP Andi Herman Sik saat konfrensi Pers di depan Kantor Polres Buton Senin (30/04)

Lebih lanjut dikatakan, Pada saat dilakukan razia di dalam hutan wilayah Wangkokea, Anggota kepolisian yang dipimpin langsung oleh Kasat Reskrim, Kasat Narkoba dan Kabag Ops telah menemukan enam titik tempat penyulingan atau pembuatan minuman keras (Miras) jenis Arak beserta bahan bakunya.

“Enam titik tempat penyulingan, dan saat itu dipimpin langsung Kabag Ops, bersama Kasat Reskrim, Kasat Narkoba dan disitu disita ratusan Arak, dan bahan baku pembuatan Arak tersebut,” Ungkap Andi Herman

Ditempat penyulingan minuman keras jenis Arak tidak ditemukan pemiliknya namun jajaran kepolisian menemukan bahan bahan pembuatannya seperti Drum, tempat masak beserta bahan baku lainya sehingga pihak kepolisian tidak mengambil bahannya tetapi langsung Dimusnakan ditempat karena anggota yang diterjunkan terbatas, namun yang di amankan Arak sebab jarak jarak antara hutan dan kampung kurang lebih empat sampai lima kilo Meter

“Aktif penyulingan kalau dilihat dari tempat itu kelihatannya sudah lama, namun mereka juga berpindah pindah didalam hutan dan itu sekitar 4-5 km ke dalam,
Jadi anggota itu berjalan kaki, bahkan kemarin sampai melewati sungai dan itu harus berenang, medannya sulit, dan susah dijangkau,” Jelasnya

“Pada saat ditemukan barang tersebut tidak ada pemiliknya, ini termasuk barang temuan, termaksud dipenyulingan ini, banyak ditemukan di kebun kebun masyarakat yang ditengah hutan, tapi tidak ada orangnya, tapi tetap dilakukan penyitaan,” Tegasnya

Menurut orang nomor satu di Polres Buton, Masyarakat membuat atau menyuling Minuman Keras (Miras) jenis Arak sudah lama dan pekerjaan yang dilakukannya merupakan mata pencarian masyarakat, dan untuk mengantisipasinya pihaknya akan menghimbau dan terus melakukan razia razia sebab Minuman Keras (Miras) Merupakan penyakit di masyarakat.

“Namun memang kendala, ditempat tersebut mata pencarian masyarakat, ya kebanyakan mata pencarian seperti itu, jadi tetap kita lakukan himbauan dan pencegahan pencegahan berupa razia, sehingga kedepan dengan dilakukan razia secara terus menerus makin berkurang dan tidak ada lagi yang membuat Miras” katanya

Kendati Demikian, Untuk menciptakan kemanan dan kenyamanan, diharapkan Masyarakat mencontoh daerah bebas Miras Misalnya Desa Kondowa dan Dongkala dan Polres Buton.

“Tetap kita lakukan himbauan, dan sekarang sudah ada contoh bebas kampung Miras diwilayah berbeda, dan Mundah Mundahan daerah tersebut mau meniru,” harapnya

Untuk diketahui, Dalam operasi Cipta Kondisi (Cipkon) jajaran Polres Buton berhasil mengamankan Minuman Keras (Miras) jenis Tuak sebanyak 2.050 Tuak dan Arak sebanyak 1950 atau jumlah keseluruhan diperkirakan kurang lebih empat ton serta berhasil mengungkap 92 kasus Miras dan Pengedar yang ditangkap sebanyak 74 orang, produksen tiga orang, pengguna tiga orang, serta 13 kasus masih dalam lidik.

Sedangkan Pemusnahan barang bukti Minuman Keras (Miras) akan dilakukan secara bersamaan di Polda Sultra sebelum memasuki bulan suci ramadhan dan Berdasarkan peraturan Pemerintah Daerah (Perda) atau Tipiring, Pelaku diancam denda dan hukumnya paling lama tiga bulan. (*)

X

Pin It on Pinterest

X
Share This