Per Hari Masyarakat Baubau “Ciptakan” 80 Ton Sampah

image_pdfimage_print

 

SAMPAH menjadi atensi bersama bukan hanya untuk pemerintah, namun juga masyarakat. Untuk Kota Baubau, sampah yang dihasilkan per harinya sudah mencapai 80 ton.

Catatan: Ady Cacung

Berdasarkan informasi yang dihimpun media ini di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Wakonti, 80 ton sampah menjadi nilai stabil yang pasti akan didapatkan dalam satu hari, diantaranya sampah rumah tangga yang mendominasi, mencapai 50 ton per harinya. Angka ini juga akan meningkat jika sudah memasuki H-1 lebaran maupun pasca lebaran.

Truk-truk pengangkut sampah mulai diantarkan setelah mengangkut sampah dari Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang tersebar di beberapa titik di Kota Baubau mulai sekitar pukul 09.00 pagi hingga pukul 09.00 malam. Namun jika sebelum dan sesudah lebaran, eskavator yang mengatur sampah di TPA Wakonti dapat bekerja hingga subuh.

“33 kali mobil truk sampah aktif keluar masuk membuang sampah di TPA per hari jika dikalkulasi. Semua sampah rumah tangga, sampah pasar hingga sampah Kapal Pelni dibuang di TPA wakonti ini, bahkan sampah medis juga dibuang disini yang seharusnya pembuangannnya terpisah,” aku salah satu petugas di TPA Wakonti yang enggan dikorankan namanya.

Sudah dua zona TPA yang digunakan yakni zona A dan zona B. Sekarang telah ditutup kembali dengan menggunakan tanah karena sudah cukup banyak menumpuk sampah. Kedua zona yang telah tertutup tersebut mengangkut sampah kisaran di bawah 75 ton sampah. Namun zona C yang beraktifitas hari ini capai 80 ton setiap harinya. Zona yang seluas kurang lebih 100×50 meter ini aktif menampung sampah mulai tahun 2017 lalu, dan kini diperkirakan hampir full.

Namun belum ada perencanaan ke depan untuk membuka lahan baru, tempat menimbun sampah selanjutnya, karena tidak sembarang untuk menentukan lahan untuk dijadikan pembuangan sampah. Karena jika terkena sumber air masyarakat maka akan berbahaya.

“Empat tahun diperkirakan akan full untuk penggunaan tiap zona pembuangan sampah,” katanya.

Air lindi yang dihasilkan dari tumpukan sampah pada zona A dan B yang tidak digunakan lagi itu ada empat kotak bak. Tak ada solusi untuk penggunaan air lindi tersebut dan jika hujan akan meluap dan terbuang percuma. Padahal air lindi itu sangat berfungsi jika diolah dengan baik. Hanya gas metan yang dihasilkan dari sampah tersebut yang digunakan untuk memasak seadanya oleh para pekerja di TPA Wakonti.

Selain itu, sampah yang berserakan di pesisir laut Kota Baubau menjadi atensi bagi pemerintah dan pemerhati lingkungan ekosistem laut. Karena sampah plastik yang berserakan itu dapat merusak karang indah di laut Kota Baubau. Kesehatan masyarakat pesisir pantai juga harus menjadi perhatian pemerintah.

Untuk membantu pekerjaan para petugas sampah di Kota Baubau, masyarakat perlu untuk memilah sampah sebelum di buang ke TPS. Hal ini pula telah disampaikan beberapa kali oleh Dinas Lingkugan Hidup (DLH) terkait pemilahan sampah.

“Sebelum membuang sampahnya, masyarakat diwajibkan untuk memilah dahulu barang apa yang bisa didaur ulang, lalu kemudian sampahnya dibuang,” imbau Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sunarto La Nae.

Terkait kinerja petugas kebersihan (pasukan kuning dan hijau), mendapat apresiasi dari Walikota Dr HAS Tamrin MH saat penyambutan piala adipura keempat Kota Baubau belum lama ini. Petugas kebersihan diajak untuk tetap saling kompak dalam bekerja untuk memberikan hasil terbaik untuk kebersihan Kota Baubau.

Pemerintah Kota Baubau telah menargetkan untuk meraih piala adipura kencana, yang merupakan penghargaan secara khusus diberikan kepada kabupaten atau kota yang dinilai telah memenuhi syarat dalam mengelola kebersihan dan lingkungan secara berkelanjutan. (#)

X

Pin It on Pinterest

X
Share This