Mencium Aroma Bawang Merah Bima Ditanah Busel

BATAUGA,BP-Amirudin warga lingkungan Kolowu Kelurahan Masiri Kecamatan Batauga, berhasil mengembangkan bawang merah asli Bima diwilayahnya. Hasil panen bawang yang ditanam bulan April lalu dan panen Juni kemarin. Nilai ekonominya bawang merah ini juga cukup mengiurkan.

Lahan yang digunakan hanya 0.2 hektar, ditanami benih bawang merah 200 kilogram dapat menghasilkan 1,5 ton bawang merah segar berwarna merah cerah dengan umbi yang cukup besar

.

“Baru sekali panen, dari tanam benih hingga panen dibutuh waktu 60 hari,” ucap Amirudin saat ditemui lahan pertaniannya, Senin (08/07).
Pria kelahiran Bima ini menuturkan, panen bawang merah perdana diumur 60 hari dianggap terlalu muda, karena bawang merah dipanen diumur 60 hari tidak dapat dijadikah benih untuk ditanami kembali. Terkecuali dipanen diumur 70 hari.

“Tanam berikutnya saya harus mengambil benih baru di Bima, tetapi kedepan untuk membudidayakan bawang merah ini tanpa mengambil bibit ke Bima lagi, maka panen berikutnya harus diumur 70 hari,” jelasnya.

Saat ini Amirudin bersama keluarganya telah menyiapkan lahan baru disekitar lahan sebelumnya, dengan luas 1,5 hektar. Hasil surveinya, tanah dilahan baru lebih baik. Dia mentaksir, setengah hektar dapat menghasilkan 3 ton lebih bawang merah.

Sejauh ini, Amirudin telah membentuk kelompok tani bernama Ngaha Aina Ngoho, yang terdiri dari petani asal Bima yang ahli menanam bawang merah dan warga lingkungan Kolowu, Kelurahan Masiri.

“Kami sudah buat kelompok yang terdiri dari kakak dan adik saya serta beberapa orang diambil dari sini satu lingkungan, kita sudah menganggap saudara kami. Rencananya mereka dapat belajar dan mengikuti jejek saya menanam bawang merah,” tuturnya.
Dikatakannya, kesulitan dalam membudidayakan bawang merah adalah alat dan mesin pertanian, seperti traktor serta kutivator. Sementara untuk benih, Amirudin akan mengusahakan sendiri.

“Kami berharap ada bantuan fasiltas alat dan mesin pertanian dari pemerintah daerah khususnya Dinas Pertanian Buton Selatan, sehingga bawang merah asli Bima yang dibudidayakan di Masiri dapat berkembang dengan baik,” ujarnya.

Ditambahkannya, kedepan bawang merah di Buton Selatan bisa surplus dan menopang kebutuhan pasar akan bawang merah, misalnya Kota Baubau dan sekitarnya.
Sementara itu, Koordinator PPL Balai Pertanian Batauga Muhammad Syarief mengatakan kegiatan Amirudin merupakan usaha mandiri, tenaga teknisnya adalah kerabatnya yang didatangakan dari Bima. Amirudin hanya menyiapkan sarana produksi (saprodi), misalnya bibit, lahan dan alat lainnya.

Kata Syarief, secara teknis budidaya bawang merah yang diterapkan di Bima dicoba diterapkan di Buton Selatan, hasilnya cukup menjanjikan, bahkan hasil panen bawang merahnya lebih bagus dari hasil panen di Bima.

“Mungkin karena faktor kesuburan tanahnya masih asli, jadi belum banyak menggunakan pupuk, hasil panennya lebih bagus dibanding jika di tanam di Bima,” kata Syarief.

Tidak bisa dipungkiri, kesulitan terbesar Amirudin bersama kelompok taninya adalah alat dan mesin pertanian, karena pengolahan lahannya masih menggunakan alat manual.

“Jadi kita fasilitasi dengan alat dan mesin, ada kultivator, bahkan kita siapkan traktor,” ucapnya.

Menurut Syarief, apa yang dilakukan oleh Amirudin dan kelompok taninya harus diapresiasi. Bisa jadi, kedepan langkah yang dilakukan Amirudin dapat menular ke kelompok tani lainnya.

“Jika ada kelompok baru dan cenderung kearah itu, Dinas Pertanian melalui BPT pasti akan bantu menfasilitasi dari segi teknis maupun pembinaan kelompok,” tukasnya.

Peliput : Amirul

Pin It on Pinterest