Syahbandar Wajibkan Nahkoda Kapal di Baubau Pakai Master Cable

BAUBAU, BP – Syahbandar Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP) Murhum kelas 1 Baubau telah mewajibkan nahkoda kapal di Baubau menggunakan Master Cable sejak awal Juli 2019.

“Sekarang sudah berjalan per 01 juli lalu di navigasi, telah disosialisasikan untuk semua kapal GT 35 ke atas, untuk wajib menggunakan Master Cable,” kata Kepala Seksi Kesyahbandaran KUPP Murhum, Muh Irfan Jayadinata ditemui pekan lalu.

Dijelaskan, master cable merupakan berita atau kawat yang dikirim nakhoda kapal tentang perkiraan kedatangan kapal di pelabuhan. Berita itu berisi nama kapal, call sign, panjang dan lebar kapal, draft kapal, posisi kapal, pelabuhan tolak dan pelabuhan tujuan, jenis muatan yang dibawa, serta estimasi waktu kedatangan kapal. Agar lebih memudahkan koordinasi Syahbandar KUPP Murhum bersama para nahkoda kapal para nahkoda diminta untuk menginformasikan terlebih dahulu pra kedatangannya 48 jam sebelum sandar ke pelabuhan.

“Informasinya minimal 48 jam sebelum kedatangan sudah harus sampai ke syahbandar,” ungkapnya.

Menurutnya, sebelum Surat Persetujuan Berlayar (SPB) terbit, seharusnya telah ada master cable lalu kemudian Automatic Identification System (AIS) atau sistem pelacakan otomatis.

Pihaknya menyatakan, sebenarnya hal itu telah lama disosialisasikan. Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 26 tahun 2011 tentang Telekomunikasi Pelayaran bahwa kapal di bawah 300 GT yang tidak memiliki AIS wajib melaksanakan master cable. Namun, baru awal bulan Juli ini pihaknya menerapkanya di Kota Baubau dan direspon baik para nahkoda kapal.

“Itu memang kewajiban, jadi tidak bisa ditolak, kita sosialisasi tidak ada kendala karena mereka mengerti aturan itu ada, ” kata Irfan.

Dikatakan, sosialisasi itu berjalan dengan baik dan tidak ada masalah, kini apa yang telah disampaikan itu sudah berjalan termasuk Kapal Pertamina, Kapal Pelni, Dharma Feri.

Untuk diketahui, SPB merupakan surat pernyataan yang dibuat oleh Nakhoda atau Master Sailing Declaration yang menerangkan bahwa kapal, muatan, dan awak kapalnya telah memenuhi persyaratan keselamatan dan keamanan pelayaran serta perlindungan lingkungan maritim untuk berlayar ke pelabuhan tujuan. Sedangkan AIS adalah sebuah sistem pelacakan otomatis digunakan pada kapal dan dengan pelayanan lalu lintas kapal (VTS) untuk mengidentifikasi dan menemukan kapal oleh elektronik pertukaran data dengan kapal lain di dekatnya, BTS AIS, dan satelit. (*)

Peliput : Asmaddin

Pin It on Pinterest