Seminar World Food Day ,Gubernur Sultra Daulat Sagu Jadi Komoditas Pangan Utama

KENDARI, BP- Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia ke-XXXIX (39) tahun 2019 dilaksanakan di Sulawesi Tenggara (Sultra). Diketahui, kegiatan itu dihadiri tamu undangan dari seluruh provinsi dan juga dari manca negara, dilaksanakan di Hotel Claro pada Jumat (01/11).

Dihadiri Delegasi FAO (Food And Agriculture Organization) untuk indonesia dan timur leste Mr Stephen Rudgard serta perwakilan Mentri Pertanian Dr Agung Hendriadi, Gubernur Provinsi Sultra Ali Mazi sangat mengapresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini.

” Segenap peserta yang berkenan menghadiri acara seminar nasional pangan sedunia ke-39 dengan tema pemanfaatan sumber daya pangan lokal untuk mewujudkan keanekaragaman pangan keluarga, demi mewujudkan kedaulatan pangan nasional dan untuk menuju lumbung pangan 2045,” ungkap Ali Mazi dalam sambutannya.

Selain menampilkan pameran cemilan produk pangan non beras serta beberapa program komoditas pangan lainnya, seminar ini juga menampilkan keberhasilan komoditas Hortikultura dan komoditas pertanian serta peternakan. Ali Mazi mengungkapkan bahwa saat ini persoalan pangan masih menjadi isu utama dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, bukan hanya dilevel daerah dan nasional saja namun sudah menjadi isu global yang harus ditangani bersama secara serius sebagai salah satu agenda dan tujuan pembangunan berkelanjutan.

” Begitu pula Provinsi Sultra, pangan telah menjadi salah satu isu utama pembangunan daerah tahun 2018-2023, hal tersebut berdasarkan permasalahan yang sedang dihadapi di Provinsi Sultra. Antara lain, kerentanan terhadap kerawanan pangan dan prevalensi stunting provinsi lebih tinggi dibanding dengan angka nasional,” terang Ali Mazi.

Berdasarkan data ketahanan pangan, kementrian pertanian menyebutkan bahwa menurut data pengentasan daerah rentan rawan pangan, Sultra merupakan salah satu dari 17 provinsi yang menjadi titik daerah rentan rawan pangan, dengan dua kategori “Rentan” dan “Cukup Rentan”.

” Sedangkan terkait persoalan stunting kita ketahui bahwa prevalensi stunting disultra pada anak usia balita tahun 2018 mencapai 36,4 persen, dengan tahun yang sama ditingkat nasional mencapai 30,8 persen. Artinya kondisi ini menggambarkan bahwa capaian Provinsi Sultra berpengaruh negatife terhadap capaian Nasional,” jelasnya.

Melihat situasi ini, Ali Mazi mengatakan saat ini Provinsi Sultra tengah berupaya melakukan upaya pembenahan keterpunahan pangan masyarakat bersama pemerintah kota/kabupaten se-Sultra agar terbebas dari ancaman kelaparan dan kurang gizi dengan memanfaatkan sumber daya pangan lokal.

“Antara lain komoditi sagu, dimana sagu merupakan salah satu bahan┬ámakanan pokok yang dikonsumsi oleh sebagian masyarakat Sultra. Luas areal tanaman sagu saat ini mencapai 5.105 hektar dengan produk sebesar 6.967 ton pertahun, yang dimana salah satu sentra produksi sagu di Sultra berada di Kota Kendari,” urai Ali Mazi pula.

Olehnya itu, Gubernur berharal kedepannya komoditas sagu di Sultra dapat dikembangkan lebih baik baik lagi dan bisa menjadi salah satu komoditas yang dapat diekspor nantinya.

” Produksi sagu dari beberapa wilayah di Sultra tidak hanya memenuhi kebutuhan konsumsi lokal masyarakat tetapi juga untuk memenuhi permintaan dari luar provinsi yang juga mulai meningkat. Namun luas area tanam sagu saat ini sangat menipis akibat banyaknya lahan yang kini terkonversi menjadi lahan persawahan dan juga perkebunan, bahkan yang paling parah saat ini masuk kewilayah konsesi tambang,” tuturnya.

Kiranya ali mazi juga berharap pengembangan agro-industri budidaya sagu dapat menjadi komoditi yang berkelanjutan dan bisa menjadi sumber penghasilan daerah nantinya.

Peliput: Risnawati

Pin It on Pinterest