AS Tamrin Kisahkan Perjuangan Pengusulan Sultan Himayatuddin Jadi Pahlawan Nasional

  • Spirit Terbentuknya Provinsi Kepton

BAUBAU, BP – Perjuangan Pemerintah Kota (Pemkot) Baubau untuk mewujudkan Sultan Himayatuddin sebagai pahlawan nasional memerlukan waktu yang cukup panjang. Ide ini rupanya sudah tercetus sejak 17 tahun yang lalu.

AS Tamrin berkisah, saat itu beberapa tokoh Buton membentuk yayasan Wolio Molagi di Kendari. Salah topik pembahasannya yakni pengusulan Oputa Yii Koo atau Sultan Himayatuddin menjadi pahlawan nasional. Saat itu mereka berpatokan pada kajian akademis Susanto Zuhdi dalam disertasinya.

“Pada zamannya pak Amirul Tamim mengusulkan lagi dengan membentuk tim, namun saya tidak ikuti lagi. Setelah saya menjabat Walikota Baubau di peridoe pertama ada acara di palagimata kebetulan ada pak Susanto Zuhdi, kemudian saya tanyakan lagi soal pengusulan pahlawan nasional untuk Sultan Himayatuddin,” jelasnya saat ditemui di Rumah Jabatannya, Minggu (01/12).

Rupanya saat itu pengusulan gelar kepahlawanan Oputa Yii Koo mandek, karena saat itu yang diprioritaskan hanya Soekarno dan Moh Hatta. Sementara usulan lainnya digugurkan.

Lanjutnya, Walikota AS Tamrin kemudian kembali fokus untuk memperjuangkan hal itu, dengan melibatkan akademisi yang memahami bidang antropologi. Maka ditunjuklan Dr Tasrifin Tahara untuk memimpin tim Tim Pengkaji Peneliti Pahlawan Daerah, yang didalamnya juga terdiri dari beberapa tokoh Buton.

“Saya hubungi pak Tasrifin untuk membuat tim di bidang antropologi dan kemudian menelusuri dokumen yang ada, kalau kurang lengkapi. Setelah kita urus itu saya ke Jakarta lagi ketemu pak Susanto Zuhdi, saya disarankan untuk bertemu salah satu anggota dewan gelar Prof Jimly Asshiddiqie,” paparnya.

Ternyata gayung bersambut, pengusulan Sultan Himayatuddin sebagai pahlawan nasional mulai mendapatkan titik terang. Apalagi saat itu, pemberian gelar pahlawan nasional difokuskan kepada provinsi yang sama sekali belum memiliki pahlawan nasional, sementara Sulawesi Tenggara belum memiliki satu pun pahlawan nasional.

Karena ini membawa juga nama provinsi, maka harus juga yang mengusul dari gubernur, lalu gubernur menyetujui,” katanya.

Teryata hal itu belum cukup, masih perlu dilakukan seminar nasional mengenai Sultan Himayatuddin. Tidak ada aral yang melintang, Gubernur Sultra Ali Mazi langsung menyetujui hal itu dengan menggelar seminar nasional di Kota Kendari.

Setelah itu, masih ada syarat lainnya yakni harus ada ahli waris. Setelah dilakukan kajian, Ali Mazi ternyata masuk dalam salah satu ahli waris. “Dari pada kita susah-susah, karena tidak mungkin menelusuri semua ahli waris, apalagi yang diminta juga hanya satu,” tandas AS Tamrin.

Setelah semua persyaratan dilengkapi, mulai dari dokumen-dokumen, ahli waris, seminar nasional, hingga lokasi makam ditetapkan, pihaknya kemudian kembali menghadap di Kementerian Sosial untuk memastikan pengusulan Sultan Himayatuddin sebagai pahlawan nasional sudah dimasukkan.

“Setelah lengkap semua, kita upayakan lagi ke Jakarta, setelah itu finalisasi. Saya dengan pak Ali Mazi menghadap lagi ke Menteri Sosial. Setelah bertemu dengan menteri, kami membahas usulan mengenai pahlawan nasional dari Sultra. Setelah dicek, di bidang kepahlawanan ternyata sudah masuk dan diajukan ke Presiden,” urainya.

Dengan ditetapkannya Sultan Himayatuddin sebagai pahlawan nasional, AS Tamrin berharap, dapat menjadi spirit bagi masyarkat Buton untuk terbentuknya Provinsi Kepulauan Buton (Kepton). Sehingga dirinya meminta agar masyarakat selalu kompak bersatu dan tidak perlu mempolemikkan soal ahli waris Sultan Himayatuddin.

“Kalau kita sudah bersatu ada-ada saja berkat Tuhan, maka kita perlu bahu membahu bagi terwujudnya Provinsi Kepton. Jangan sampai ada yang memojokkan, yang penting sudah jadi pahlawan nasional dan, Presiden sudah mengeluarkan Keppres,” ujarnya.

Ketua Tim Pengkaji Peneliti Pahlawan Daerah, Dr Tasrifin Tahara menambahkan, dengan adanya pahlawan nasional dari Buton, secara tidak langsung masyarakat Buton dapat dihitung secara nasional. Sehingga spirit perjuangan Sultan Himayatuddin di masa lalu dapat menjadi pemersatu masyarakat Buton untuk terbentuknya Provinsi Kepton.

“Kita berharap Sultan Himayatuddin bisa menjadi tokoh pemersatu untuk terbentuknya Provinsi Kepton, asalkan kita bersatu dengan mengambil spirit kepahlawanan Sultan Himayatuddin,” pungkas Tasrifin.

Peliput: Zaman Adha

Pin It on Pinterest