Sejarah Ritual Adat Picundupia di Buton

PASARWAJO, BP – Pelaksanaan pesta adat tahunan warga Takimpo, Kambulambulana dan Pasarwajo ditandai dengan ritual adat Picundupia sebagai awal dimulainya prosesi adat. Riwayat singkat picundupia dibacakan Aris saat itu di Pantai Wajo, Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton pada Minggu (01/12).

Kata Aris, ritual adat picundupia merupakan tradisi turun temurun yang dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian pesta adat Pasarwajo. Prosesi ini dilaksanakan dengan memberikan darah ayam pada anak pertama, diikuti dengan mandi dan makan bersama di Pantai Wajo.

“Setiap keluarga yang memiliki anak Cumpe (anak pertama) diwajibkan mengikuti ritual ini sebagai penanda keturunan tersebut telah menjadi keluarga Takimpo, Pasarwajo, Kambulambulana. Diharapkan agar anak tersebut menjadi anak yang baik, taat Kepada Allah SWT, mencintai keluarga, bangsa dan tanah air serta berbakti kepada orang tua,” katanya.

Lanjutnya, jauh sebelum itu, cerita lahirnya ritual Picundupia ini dimulai dari adanya keajaiban yang manan ada sebuah kapal besar sedang berlayar menyusuri tepian pantai menuju daratan Buton, tiba-tiba mengalami perubahan penampakan. Tampak dari kejauhan seperti perahu phinisi, makin dekat seolah berubah menjadi perahu lambo. Kemudian perahu lambo tadi makin dekat berubah menjadi sampan, dan ketika bersandar disalah satu gua di Wajo (Bolonco), perahu sampan tadi berubah menjadi pelepah pinang (kochibo).

Lanjut cerita, seketika itu pula terdengar suara tangisan bayi, sehingga menarik perhatian seorang ibu bernama Wambeka. Wambeka penasaran mencari sumber tangisan bayi itu, ternyata bayi itu ada pada salah satu liang batu, bayinya dalam keadaan baru saja lahir ditandai dengan plasenta atau ari-ari masih ada ditubuh sang bayi.

Wambekapun membawa bayi tersebut, merawatnya dan memisahkan plasentanya kemudian plasenta itu ditanam diarea Wajo. Disaat bayi itu mengangis tidak henti-hentinya, Wambeka mencoba merayu dan membelai agar bayi behenti dari tangisanya. Meski telah berusaha, bayi tersebut tidak juga berhenti menangis.

Kemudian Wambeka berinisiatif mengambil perahu lalu mendayung perahunya mengelilingi teluk Pasarwajo sambil menyanyikan lagu kabanti. Tiba-tiba keajaiban muncul dihadapannya, sejumlah penyu atau kura-kura mengawal perahu itu, sampai ditempat peristirahatannya. Air laut yang dilaluinya menjadi tawar. Itu dimulai dari daerah Wajo, lia (goa) disekitar pasar lama, bente disekitar SMPN 1 Pasarwajo, Batumatongka dan di Asa. Airnya berbeda dengan tepi pantai lainnya di Pasarwajo.

Selama diperahu, Wabengka melantunkan syair kabanti, membuat tangisan si bayi mereda mendengarkan syair kabanti. Kemudian pulang kerumahnya ditemani seekor penyu. Beberapa hari kemudian anak tersebut diberi nama Salim, sekaligus dijadikan ritual Picundupia.

Menurut penuturan tradisi lisan kata Aris, beberapa tahun kemudian bayi yang diberi nama Salim menghilang dengan ajaib ditempat Picundupia. Sehingga ini diwasiatkan pada seluruh masyarakat Takimpo, Kambulambulana dan Pasarwajo setiap lahir anak pertama maupun yang ada dirantuan, bila ia sudah kembali atau lahir diperantauan biar sudah dewasa maupun berumah tangga wajib untuk melakukan proses Picundupia.

Masyarakat percaya bayi yang mengikuti ritual ini bila besar nanti akan menjadi anak yang baik, menghormati orang tua, wali guru. Menjadi anak yang mencintai keluarga, masyarakat dan menyayangi teman dan mejadi anak yang mencintai tanah air, bangsa dan negar. Menjadi anak yang menunaikan ibadah sesuai dengan ajaran agamanya dan melaksanakan etika dan akhlak yang mulia, berkepribadian yang tinggi sebagai kehidupan bayi ajaib dilingkungan Takimpo, Kambulambulana dan Pasarwajo.

Adapun syair kabanti yang dilantunkan Wabengka untuk menenangkan si bayi ” Erante nombose, nombose-mobose bhay oh sandarano, rato-rato nipukuno wajo, kabhae bhaeno, wantobhodhae landealarenco, nomo meko santano gola, dhae nangku bhai yaya, marinjendena, nangku bhai yaya”. Artinya, bersama berdayung, berdayung-dayung bersama-sama, ditujuan kita bersandar sampai, sampai ditepian wajo, pasir putih berasnya wantoho dengan teman, berteman kasihan larenco, manisnya seperti santan dan gula, dengan ibu yang ada datanglah jangan tingalkan aku, ibu yang ada.

Peliput : Asmaddin

Pin It on Pinterest