PASARWAJO, BP – Wakil Bupati (Wabup) Buton Iis Eliyanti sangat serius mengkampanyekan penanganan pencegahan stunting se Kabupaten Buton. Pasalnya, menurut riset kesehatan dasar (riskesdas) Kementerian Kesehatan pada 2018 lalu menemukan 30,8 persen balita mengalami stunting.

Walaupun prevalensi stunting menurun dari angka 37,2 persen pada tahun 2013, namun angka stunting tetap tinggi dan masih ada 2 (dua) provinsi dengan prevalensi di atas 40 persen. Prevalensi stunting selama 10 tahun terakhir menunjukkan tidak adanya perubahan yang signifikan dan ini menunjukkan bahwa masalah stunting perlu ditangani segera karena pencegahan stunting telah menjadi isu nasional.

Oleh karena itu, orang nomor dua di Kabupaten Buton ini dengan tegas mengkampanyekan keseriusannya dalam pencegahan staunting serta menyeru kepada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) agar serius dalam penanganan pencegahan stunting.

“Semua OPD dan pihak yang berkompeten dalam pencegahan stunting untuk serius melakukan intervensi dalam upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Buton,” tegas Iis pada kegiatan Kampanye Penggerakan Massa dan Pencegahan Stunting di Takawa, Kamis (05/12).

“Dinas Kesehatan sebagai instansi yang sangat berperan dalam pencegahan stunting melalui intervensi gizi spesifik harus bisa memainkan perannya dengan optimal. Seperti pemeriksaan ibu hamil, ibu hamil mendapatkan tablet FE, pemenuhan gizi, persalinan di faskes, imunisasi, pemberian obat cacing pada balita,” tambahnya.

Lanjutnya, pencegahan stunting melalui intervensi gizi sensitif yang banyak diperankan oleh instansi di luar kesehatan harus bisa bersinergi positif satu dengan lainnya dalam pencegahan stunting.

Misalnya saja, intervensi sensitif seperti akses air minum yang aman, akses sanitasi yang layak, akses pelayanan pelayanan KB, akses JKN dan lain sebagainya.

Ia memaparkan, berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, itu menunjukkan 30,8 persen atau sekitar 7 juta balita menderita stunting masalah gizi lain, terkait dengan stunting yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat adalah anemia pada ibu hamil 48,9 persen, berat bayi lahir rendah (BBLR) 6,2 persen, balita kurus atau wasting 10,2 persen dan anemia pada balita.

Sehingga, Iis mengajak kepada semuanya agar bersama melakukan upaya percepatan penurunan stunting demi terwujudnya generasi sehat di Kabupaten Buton.

“Marilah kita kosentrasikan segenap potensi kekuatan dan kebersamaan kita untuk dapat melakukan upaya-upaya inovasi untuk percepatan penurunan stunting demi terwujudnya generasi sehat dan indonesia unggul,” ajaknya.

“Kita berharap generasi sehat yang kita perjuangkan bersama dapat menjadi sumber daya manusia unggul yang akan mengisi pembangunan di daerah kita ini,” tambahnya.

Usai kampanye pencegahan stunting di Kabupaten Buton, dirangkaikan dengan lomba memasak menu Ibu hamil dan lomba penyuluhan pencegahan stunting yang diikuti, seluruh Puskesmas, Kades Posyandu, PKK dan dharma wanita.

Untuk diketahui, stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat gizi kekurangan kronis terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK). Stunting mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak. Anak stunting juga memiliki risiko lebih tinggi menderita penyakit kronis di masa stunting.

Peliput : Asmaddin

By admin

Pin It on Pinterest