BAUBAU, BP- Salah satu ibu di Lakologou, Nurlia harus bekerja sebagai pengrajin kain tenun untuk menopang kehidupan keluarganya. Pasalnya suaminya saat ini sedang menderita penyakit diabetes melitus.

Nurlia salah seorang masyarakat Lakologou, saat ditemui beberapa waktu yang lalu mengatakan, pekerjaan menenun kain sudah lama digeluti sejak gadis. Hal ini dikarenakan kebanyakan masyarakat Siompu merupakan penenun kain.

” Pekerjaan menenun sudah dari cewek, dikarenakan pekerjaan turun temurun dari orang tua saya,” jelasnya.

Jenis kain yang dibuat yakni kain samasili dengan harga kisaran 200.000 sampai 250.000 dibuat sekitar 7 sampai 10 hari dalam 1 bulan dapat menghasilkan 2 sarung jika tidak ada kendala. Ada juga tergantung dari pesanan pembeli saat membuat kainnya.

“Tergantung dari minat pembeli sarung yang memilih warna apa yang mereka inginkan, harga satu kain kisaran 200.000 sampai 250.000 dibuat sekitar 7 sampai 10 hari dalam 1 bulan dapat menghasilkan 2 sarung jika tidak ada kendala,” ujarnya.

Suaminya tidak dapat bekerja lagi, dan hanya bisa terbaring untuk beberapa tahun terakhir karena terkena penyakit gula. Olehnya itu dirinya bekerja dengan menenun kain agar kebutuhan rumah tangga dapat terpenuhi.

” Suami saya hanya bisa baring-baring, karena penyakit gula, makanya saya menenun untuk dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga walaupun belum bisa mencukupi sepenuhnya,” pungkasnya. (#)

Peliput: Nelvida A

By admin

Pin It on Pinterest