Warga Buton Disandera Abu Sayyaf, Keluarga Harap Pemerintah Selamatkan

PASARWAJO, BP – Salah satu korban disandera kelompok Abu Sayyaf La Baa berasal dari Desa Kamelanta, Kecamatan Kapontori, Kabupaten Buton.

Dengan kondisi lemah tidak lagi dapat berjalan Bapak korban La Saali hanya bisa menaruh harapan besar kepada masyarakat untuk dapat membebaskan anaknya.

Anak ke enam dari Bapak La Saali itu telah terbiasa merantau sejak umuran 20 tahun dikampung orang dengan niat mengais rezeki untuk keluarganya. La Baa dikenal anak yang rajin dalam keluarga, acap kali membantu saudaranya yang kesusahan.

Kini sosok La Baa dirindukan keluarga untuk dapat berkumpul kembali bersama.

“Harapan kami sekeluarga semoga Pemerintah RI menyelamatkan dan membawa adik kami (La Baa) pulang kekampung kumpul kembali bersama keluarga,” tutur Wa Ini kakak korban (La Baa).

Dengan raut wajah sedih ditambah lagi mata berkaca-kaca Wa Ini mengungkapkan keprihatinannya kepada sang adik.

Kata, Wa Ini, pihak keluarga tidak bisa berbuat banyak hanya bisa mengirim doa agar anggota keluarganya selamat.

Padahal, akhir komunikasi keluarga bersama La Baa pada akhir Desember 2019 (tahun baru) La Baa ingin sekali pulang berkumpul bersama keluarga, namun sayangnya, gajinya belum juga dibayarkan oleh Tokenya (Bos tempat La Baa bekerja) sehingga La Baa menyampaikan kepada keluarga untuk menunda kepulangannya itu menunggu gajinya.

Mungkin karena gajinya terhambat atau mungkin biaya hidup cukup besar diperantauan sampai selama merantau, La Baa hanya mampu menyisihkan separuh gajinya mengirim kepada kedua orang tuanya dikampung dua kali saja.

Keluarga mendapat kabar burung terkait saudaranya disandera oleh seorang pemuda tetangga kampung menyampailan bahwa da kabar buruk tentang La Baa.

“Datang La Domi berasal dari tetangga kampung menyampaikan kepada keluarga, kalau ada musibah tetang La Baa berita buruk dari perantauannya,” kata Wa Ini kepada awak media dihalaman rumah orang tuanya, Selasa (21/01).

Lanjut Wa Ini menerangkan, La Domi ini telah mendapat kabar bahwa kapal yang ditumpangi La Baa beserta kru lainnya disandera, tapi La Domi tidak tahu juga siapa perompak yang sandera yang kini menjadikannya tawanan.

Sontak mendengar kabar itu keluarga panik, pasalnya La Domi ini merupakan rekan tetangga kampung yang dahulu bersama merantau di Negeri Jiran Malaysia itu. Tapi, La Domi telah lama kembali beserta enam orang lainnya asal kampung yang sama-sama dengan La Baa.

“Perasaan kami kaget bagaimana dengan adikku. Keluarga tidak tahu mau berbuat apa, hanya bisa bersimpuh kepada bantuan pemerintah saja saat ini,” pintanya.

Sampai sekarang, kata dia, belum ada kabar atau telephone informasi dari Pemerintah Indonesia bahwa anggota keluarganya disandera.

Sebelumnya, berdasarkan informasi tertulis dari Kepolisian Tambisan, Sabtu (18/1), lokasi penculikan La Baa Cs pada Kamis (16/01) malam, tidak jauh dari lokasi hilangnya Muhammad Farhan (27) dan kawan-kawan pada 23 September 2020, tepatnya di Perairan Tambisan Tungku Lahad Datu.

Saat itu, La Baa Cs menangkap ikan menggunakan kapal kayu. Sementara enam penculik menggunakan kapal cepat dilengkapi topeng (penutup kepala).

Setelah mendapatkan laporan itu, aparat kepolisian negara itu bergerak melakukan pencarian hingga akhirnya melihat kapal bergerak dari arah Filipina memasuki perairan Malaysia. Keberadaan kapal yang digunakan WNI tersebut terpantau radar Pos ATM Tambisan pada Jumat sekira pukul 21.10 waktu setempat.

Aparat Kepolisian Maritim Lahad Datu menahan kapal tersebut sambil melakukan penggeledahan dan ditemukan tiga kru semuanya WNI.

Ketiga WNI yang ditemukan bersama kapalnya adalah Abdul Latif (37), Daeng Akbal (20), dan Pian bin Janiru (36) Sementara, lima rekannya, Arsyad bin Dahlan (42) dari Wakatobi selaku juragan, Arizal Kastamiran berasal dari Wakatobi(29), La Baa (32) berasal dari Buton, Riswanto bin Hayono (27) berasal Palopo, dan Edi bin Lawalopo (53) asal Buton dipastikan disandera.

Informasi itu didapat ketika aparat Kepolisian Maritim Lahad Datu itu menyebutkan hasil interogasi terhadap ketiga WNI yang dilepaskan itu. Ketiganya menceritakan bahwa pada saat sedang menangkap ikan, mereka didatangi enam orang bertopeng menggunakan kapal cepat. Rekan-rekannya langsung dibawa bersama kapalnya ke wilayah perairan Filipina.

Peliput: Asmaddin

Pin It on Pinterest