-Jaman: Kadang-kadang Ada Guru yang Tidak Paham Dengan Implementasi Belajar Daring

Peliput: Arianto W — Editor: Ardi Toris

BAUBAU, BP- Dunia pendidikan mulai terguncang. Implementasi kebijakan belajar dari rumah (daring/jarak jauh) kini menjadi polemik di kalangan pelajar termaksud masyarakat.

La jaman SPd

Banyak indikator dalam aspek pendidikan yang dinilai justru malah membebani siswa termaksud psikologis orang tua. Salah satunya, pemenuhan pulsa data internet untuk siswa, keterbatasan fasilitas Handphone (Hp) Android, dan banyaknya tugas sekolah yang diberikan oleh guru kepada siswa.

Saat dikonfirmasi Baubau Post, Senin (27/07) Kepala Kantor Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (KCD Dikbud) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) Rayon Kota Baubau-Kabupaten Buton Selatan (Busel) La Jaman SPd membenarkan hal tersebut.

Dikatakan, pada dasarnya Proses Belajar Mengajar (PBM) daring tidak cocok jika diterapkan untuk siswa, terlebih kepada masyarakat yang notabenenya masuk golongan ekonomi menengah ke bawah.

“Proses pembelajaran daring ini sebenarnya tidak cocok untuk kita. Karena ketika siswa harus mengerjakan tugas secara daring, kadang-kadang itu menjadi beban bagi orang tua. Salah satunya menyiapkan fasilitas belajarnya seperti mengupayakan Hp Android, membelikan pulsa data internet, belum lagi ketika melihat anaknya pusing mengerjakan tugas sekolah yang begitu banyak,” ungkap Jaman.

Melihat kondisi ini, Jaman menjelaskan, PBM daring memiliki deatline waktu. Dimana, setiap guru mata pelajaran khsususnya di sekolah jenjang SMA/SMK/Sederajat dianjurkan untuk mengurangi jam wajib belajar dari yang sebelumnya 1 jam 45 menit menjadi 1 jam 35 menit.

Tak hanya itu, tegas Jaman pula, idealnya PBM di masa Covid19 ini hanya diefektifkan sampai pukul 12.00 Wita. Artinya, jika sudah lewat jam 12 siang maka siswa tidak wajib mengikuti PBM daring. “Karena anak-anak juga punya hak untuk istrahat,” ujarnya.

Merasa prihatin dengan kondisi siswa tatkala mengerjakan tugas sekolah yang begitu banyak hingga harus menguras waktu siswa sampai sore bahkan malam hari, Jaman mengatakan, terkadang ada guru yang tidak paham dengan anjuran atau instruksi yang diberikan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) dalam hal ini Disdikbud Sultra mengenai implementasi kebijakan belajar daring.

“Melalui workshop peningkatan mutu guru, pendidikan berbasis ITE, sudah disampaikan bahwa setiap sekolah itu tidak diwajibkan bagi guru memberikan pertanyaan ke siswa dan tidak semua materi itu harus ada tugas yang harus dikerjakan,” tuturnya.

“Pada saat kita adakan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) di setiap satuan pendidikan, ada juga guru yang kadang-kadang tidak paham (miskomunikasi-red) sehingga orang tua menjadi beban dari banyaknya tugas yang diberikan oleh guru ke siswa,” lanjutnya.

Untuk itu, Jaman mengimbau kepada seluruh bapak/ibu dewan guru di satuan pendidikan jajaran Disdikbud Sultra Rayon Baubau-Busel agar tidak melaksanakan PBM yang sifatnya menekan dan/atau membenani siswa.

“Kedepan ini saya akan turun lagi di sekolah, saya akan sampaikan bahwa proses pembelajaran ini hanya berlaku sampai jam 12 siang. Kalau soal tugas itu ada keterbatasan, tidak diwajibkan bagi semua guru untuk memberikan soal kepada semua siswa,” terangnya.

“Karena kalau dalam satu hari ada lima guru yang mengajar, dan semua memberikan tugas maka siswa akan mengerjakan berapa soal? Apa lagi kalau itu mata pelajaran mate-matika, fisika, dan kimia maka anak-anak habis waktu dan habis juga pulsa datanya,” pungkas Jaman. (*)

By admin

Pin It on Pinterest