UMKM Baubau Didorong Naik Kelas Lewat Affiliate Marketing dan Live Shopping hingga Tingkat KelurahanUMKM Baubau Didorong Naik Kelas Lewat Affiliate Marketing dan Live Shopping hingga Tingkat Kelurahan

BAUBAU, BAUBAUPOST.COM – Pemerintah Kota Baubau mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) beradaptasi dengan perubahan pola perdagangan melalui penguatan keterampilan digital. Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Baubau menerapkan pola jemput bola dengan mendatangi langsung pelaku UMKM untuk memberikan pendampingan literasi dan keterampilan digital. “UMKM Baubau Didorong Naik Kelas Lewat Affiliate Marketing dan Live Shopping hingga Tingkat Kelurahan,”

UMKM Baubau Didorong Naik Kelas Lewat Affiliate Marketing dan Live Shopping hingga Tingkat Kelurahan
UMKM Baubau Didorong Naik Kelas Lewat Affiliate Marketing dan Live Shopping hingga Tingkat Kelurahan

Pendekatan tersebut diarahkan untuk memperluas kemampuan pelaku usaha memanfaatkan teknologi, terutama melalui affiliate marketing dan live shopping. Diskominfo menilai penguasaan teknologi menjadi semakin penting agar pelaku UMKM di tingkat akar rumput tidak tertinggal dalam perkembangan ekonomi digital.

Kepala Diskominfo Kota Baubau H. Andi Hamzah Machmud, S.Sos., M.Si., mengatakan pendampingan langsung diperlukan karena sebagian pelaku UMKM masih menghadapi kendala dalam memahami teknologi dan mengoperasikan perangkat pintar. “Pendampingan langsung ini menjadi kunci untuk meruntuhkan hambatan teknis yang sering dihadapi pelaku UMKM tradisional,” katanya.

Menurut Andi Hamzah, kehadiran aparatur di lapangan sekaligus mengubah pola pelayanan pemerintah dari sekadar menunggu masyarakat menjadi lebih aktif mendatangi dan membantu masyarakat. Aparatur sipil negara (ASN) ditempatkan sebagai fasilitator dan edukator agar proses adopsi teknologi dapat berlangsung secara praktis.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari arah pembangunan Kota Baubau yang tercantum dalam RPJMD 2025–2030. Penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu pijakan, termasuk mendorong masyarakat dan pelaku UMKM memiliki daya saing melalui penguasaan teknologi digital.

“Pelaku UMKM harus memiliki daya saing yang lebih tinggi melalui penguasaan teknologi digital,” ujar Andi Hamzah. Pemanfaatan teknologi, lanjut dia, juga membuka peluang bagi produk lokal Baubau untuk menjangkau pasar yang lebih luas, mulai dari tingkat nasional hingga internasional.

1 8

Dorongan digitalisasi UMKM bukan semata agenda daerah. Secara nasional, UMKM telah lama menjadi salah satu penyangga perekonomian Indonesia. Pemerintah mencatat sektor tersebut berkontribusi sekitar 61 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja nasional. Pada 2008, pemerintah juga menetapkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM sebagai salah satu landasan hukum pengembangan sektor tersebut.

Transformasi digital kemudian menjadi tantangan baru. Pada 2022, pemerintah mencatat sekitar 64,2 juta UMKM di Indonesia, tetapi baru sekitar 17,5 juta yang telah masuk ekosistem digital dan memanfaatkan perdagangan elektronik. Pemerintah saat itu mendorong digitalisasi karena teknologi dapat memperluas basis konsumen, meningkatkan pendapatan, serta menekan biaya pemasaran dan distribusi.

Perubahan tersebut semakin terasa secara global setelah pandemi Covid-19 pada 2020. UNCTAD mencatat pembatasan mobilitas mempercepat penggunaan perdagangan elektronik dan teknologi digital; porsi perdagangan ritel elektronik global meningkat dari sekitar 14 persen pada 2019 menjadi sekitar 17 persen pada 2020. Perubahan itu menunjukkan bahwa kemampuan beradaptasi secara digital semakin menentukan daya tahan pelaku usaha.

baca juga:

  1. Kementan Bidik Hilirisasi Jambu Mete di Baubau, Nilai Tambah Jadi Sasaran
  2. Hilirisasi Jambu Mete di Baubau Dibidik, Kementan Soroti Penyakit Tanaman

Diskominfo Baubau berharap pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan dapat meningkatkan omzet sekaligus mempercepat kemandirian ekonomi daerah. “Kami berharap literasi digital dapat merata di seluruh kecamatan dan kelurahan se-Kota Baubau sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan pelaku UMKM,” kata Andi Hamzah. Upaya tersebut diharapkan memperkuat ekonomi kerakyatan berbasis digital sekaligus membuka jalan bagi produk lokal Baubau menuju pasar yang lebih luas.(*)

baca berita lainnya:

 

BAUBAU, BAUBAUPOST.COM – Kota Baubau didorong mengambil posisi lebih strategis dalam rantai industri jambu mete di Sulawesi Tenggara dengan tidak lagi bertumpu pada perdagangan bahan mentah. Penguatan industri pengolahan dari hulu hingga hilir dinilai dapat membuka nilai tambah bagi petani, memperluas ruang usaha UMKM, menciptakan lapangan kerja, sekaligus menjadikan Baubau sebagai pintu pemasaran produk olahan bernilai ekonomi lebih tinggi. “Utusan Presiden Wahyu Andrianto Dorong Baubau Jadi Pusat Hilirisasi Mete, Minta Libatkan Petani dan UMKM,”

Utusan Presiden Wahyu Andrianto Dorong Baubau Jadi Pusat Hilirisasi Mete, Minta Libatkan Petani dan UMKM
Utusan Presiden Wahyu Andrianto Dorong Baubau Jadi Pusat Hilirisasi Mete, Minta Libatkan Petani dan UMKM

Dorongan tersebut disampaikan Asisten Utusan Khusus Presiden Bidang UMKM, Ekonomi Kreatif dan Digital, Wahyu Andrianto, seusai menemui Wali Kota Baubau untuk membahas pengembangan potensi komoditas jambu mete di Kota Baubau, Rabu (2/9/2026). Ia menilai posisi Baubau sebagai salah satu pusat perdagangan dan jasa di kawasan Kepulauan Buton dapat menjadi modal penting untuk membangun ekosistem industri mete.

Menurut Wahyu, hilirisasi harus membuat komoditas yang berasal dari daerah menghasilkan manfaat lebih besar di daerah asalnya. Karena itu, investasi tidak cukup hanya menjamin penyerapan bahan baku, tetapi harus disertai pembangunan industri, penyerapan tenaga kerja lokal, serta pertumbuhan UMKM.

“Sesuai dengan arahan Bapak Presiden, semua harus ada nilai tambah. Itu tercermin dari program hilirisasi kita. Kita masuk dari kacang mete atau produk kacang-kacangan lainnya, harus ada nilai tambahnya agar nantinya dinikmati mulai dari industri yang ada di sini, baik UMKM bahkan petani,” ujar Wahyu.

Gagasan tersebut sejalan dengan arah kebijakan industrialisasi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah menempatkan hilirisasi sebagai strategi untuk memperdalam struktur industri dan meningkatkan nilai tambah komoditas di dalam negeri. Kementerian Perindustrian mencatat kebijakan hilirisasi diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan nilai produk, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, menarik investasi, memperkuat industri nasional, dan meningkatkan devisa ekspor.

Dalam konteks jambu mete, peluang hilirisasi tidak sebatas menghasilkan kacang mete siap konsumsi. Secara global, tanaman Anacardium occidentale berasal dari Brasil dan menyebar ke berbagai kawasan tropis setelah dibawa bangsa Portugis ke India dan Afrika pada abad ke-16. Setelah Perang Dunia II, produksi dan konsumsi mete dunia meningkat tajam sehingga komoditas tersebut berkembang menjadi salah satu kacang perdagangan penting dunia.

Sejarah perdagangan mete juga menunjukkan bahwa pengolahan dapat menjadi penentu posisi suatu negara dalam rantai nilai global. India, misalnya, mulai memanfaatkan perdagangan internasional kernel mete pada awal abad ke-20 dan kemudian berkembang menjadi salah satu pemain penting dalam perdagangan produk mete dunia. Data tersebut memberi gambaran bahwa komoditas yang tumbuh di wilayah tropis dapat berkembang menjadi industri apabila didukung pengolahan, perdagangan, teknologi, dan pasar.

Karena itu, Wahyu menilai investasi dari luar daerah maupun luar negeri tetap diperlukan selama memberikan nilai tambah bagi perekonomian lokal. “Siapapun yang mau berinvestasi di Indonesia selama itu memberikan nilai tambah dan bisa meningkatkan industrialisasi di sini, itu pasti kita sangat dukung,” tegasnya. Kehadiran investor diharapkan membantu menjamin ketersediaan bahan baku, membuka akses pasar, dan menciptakan peluang harga yang lebih baik bagi komoditas petani.

Namun, industrialisasi mete di Sulawesi Tenggara tidak boleh berjalan terpisah dari masyarakat. Wahyu menekankan pentingnya membangun mata rantai yang menghubungkan petani sebagai pemasok bahan baku, industri sebagai pengolah, serta UMKM dan tenaga kerja lokal sebagai bagian dari ekosistem produksi. “Harus dibarengi dengan pembangunan dan investasi industri yang ada di Sulawesi Tenggara dan melibatkan atau bisa menyerap tenaga kerja yang ada di sini. Juga dicari cara bagaimana agar UMKM-nya bisa tumbuh di sini,” ujarnya.

Perhatian juga diarahkan kepada Generasi Z yang dinilai memiliki karakter berbeda dalam memasuki dunia usaha. Mereka diharapkan tidak hanya menjadi tenaga kerja, tetapi dapat masuk ke rantai industri melalui pengolahan, pemasaran digital, pengembangan merek, inovasi produk, dan kewirausahaan. Dari sisi tugasnya di bidang UMKM, ekonomi kreatif, dan digital, Wahyu menyebut pemanfaatan teknologi informasi serta pengembangan kekayaan intelektual menjadi dua hal yang akan diperhatikan untuk disampaikan kepada Presiden.

“Bagaimana kekayaan intelektual itu menjadi sumber harta karun, supaya industri mete itu dengan sentuhan kreatif bisa membuat ekonomi yang baru,” katanya.

baca juga:

  1. Rute Baubau-Makassar Dibuka Lagi, Terbang Setiap Hari Super Air Jet Pasang Tarif Rp800 Ribu Mulai …
  2. Kebakaran Lahan di Baubau Meluas, Rumah Warga hingga Kapal Nelayan Bekas Ikut Dilalap Api, , Warga Kembali Diingatkan Soal Pembakaran dan Terus Waspada

Dengan posisi Baubau sebagai salah satu simpul perdagangan dan jasa di Kepulauan Buton, penguatan konektivitas dan layanan perdagangan dinilai menjadi bagian penting dari agenda tersebut. Baubau diharapkan mampu menjadi pintu pasar bagi produk-produk dari daerah sekitar, termasuk komoditas perkebunan jambu mete. Jika ekosistem itu terbentuk, hilirisasi tidak hanya mengubah bentuk komoditas, tetapi juga menggeser pusat manfaat ekonomi dari sekadar penjualan bahan mentah menuju industri, inovasi, UMKM, tenaga kerja, dan pasar yang lebih luas. (*)

 

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *