LABUNGKARI, BP – Sahlan balita berumur enam tahun warga Desa Waliko, Kecamatan Gu Kabupaten Buton Tengah (Buteng), yang mengidap gizi buruk telah memasuki fase pemulihan dan peningkatan medis. Dengan demikian, balita tersebut dinilai beranjak pulih dari status gizi buruk menjadi gizi kurang.

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Buteng, dr Karyadi saat dikonfirmasi beberapa awak media kemarin mengatakan, sejak dirawat di RSUD sejak 13 Januari kemarin, telah menujukan perkembangan kearah perbaikan.

“Hemoglobin (Hb) mulai naik setelah mendapatkan transfusi darah dan asupan gizi dapat dicerna dengan baik. Ini sesuai siklus dijadwalkan oleh dokter yang menanganinya,” jelasnya.

Lanjutnya, berat badannya yang sebelumnya hanya 10 kilo, kini telah naik 10,4 kilo. Ini menujukan perbaikan, setelah diberikan obat cacing, banyak juga cacing yang keluar. Itu juga menjadi awal menghambat pertumbuhan, sehingga kurang gizi.

“Dia juga sudah mulai minta makan, tapi untuk asupan yang penting saat ini gizi dulu seperti susu, untuk memulihkan organ tubuhnya agar normal kembali,” tuturnya.

Awal pertama Sahlan masuk di RSUD Buteng, ia memiliki Hb sangat rendah yaitu 1,5. Untuk potensi kesembuhan sangat sulit, sebab Hb rendah itu mengangkut oksigen, sari-sari makanan, maka kecenderungannya sesak, dan kekurangan gizi berat.

“Hb rendah itu potensi sembuh sangat kecil, tapi karena transfusi darah berjalan baik, kini perubahan warna kulit dari sebelumnya pucat, kini telah kembali normal,” ungkapnya.

Selama penanganan balita itu, secara umum tidak ada kendala, dimana keluarga balita itu juga sangat mendukung sistem penanganan selama di rumah sakit. Cuman yang menghambat itu ketersediaan kebutuhan-kebutuhan ada. Seperti darah, pihak harus berkoordinasi lagi dengan PMI Baubau, susu-susu jenis tertentu yang tidak ada di Kota Baubau, maka pihaknya mengupayakan di luar daerah.

“Semua itu bisa kami atasi, terkait kekurangan-kurangan yang ada. Mudah-mudahan apabila berjalan dengan baik, setelah dua minggu di evaluasi nanti diliat apakah masih mau dirawat atau sudah bisa di pulangkan,” ucapnya.

Selain itu, untuk biaya pengobatan sesui arahan Bupati Buteng H Samahuddin SE, itu semuanya gratisankan, selama obat, bahan makan, ada dirumah sakit. Apabila sudah tidak ada ketersediaan di rumah sakit, maka pihaknya berkoordinasi dengan pihak dinas terkait untuk mengupayakan.

“Seperti darah, susu, atau obat suntik yang tidak ada di rumah sakit, namun kita tidak bebankan di keluarga pasien, kita tetap berkoordinasi dengan pihak terkait, yaitu Dinas Sosial dan Kesehatan,” tutupnya.

Peliput: Hengki TA

Pin It on Pinterest