Kendari, – Badan Pertolongan dan Pencarian (Basarnas) Kendari memberikan pelatihan SAR daerah dan sosialisasi sistem deteksi dini terhadap bencana atau kecelakaan kapal yang terjadi di laut kepada 45 orang potensi SAR dari berbagai unsur di Kendari, Senin.

Direktur Sistem Komunikasi Basarnas, Brigjen TNI Widjang Pranjoto usai membuka kegiatan tersebut, mengatakan kegiatan itu untuk menyinergikan dan menyamakan persepsi dalam pelaksanaan operasi SAR saat terjadi bencana maupun kecelakaan, meningkatkan kualitas dan kompetensi para potensi SAR agar selalu siap dalam mendukung operasi SAR serta memberikan gambaran tentang sistem deteksi dini yang dimiliki dan dikelola oleh Basarnas.

Direktur Sistem Komunikasi Basarnas, Brigjen TNI Widjang Pranjoto , Kepala Basarnas Kendari, Aris Sofingi
Direktur Sistem Komunikasi Basarnas, Brigjen TNI Widjang Pranjoto , Kepala Basarnas Kendari, Aris Sofingi

“Sosialisasi ini untuk menyebarkan informasi tentang deteksi dini, tentang penyelamatan nyawa manusia dengan adanya teknologi yang sekarang, (karena) masih banyak masyarakat yang belum tahu alat-alat yang bisa kita gunakan untuk memberikan titik-titik yang paling cepat karena ditangkap langsung oleh satelit,” kata Brigjen Widjang.

Ia mengatakan pentingnya diberikan pelatihan SAR untuk mengkoordinasikan semua personel atau instansi dan potensi SAR ketika memberikan pertolongan, sehingga tidak terjadi korban jiwa.

Ia mengajak semua komponen yang mempunyai radio beacon agar meregistrasikan ke Basarnas. Karena, dengan meregistrasikan radio beacon yang dimiliki, secara tidak langsung berkontribusi dalam peningkatan kecepatan tanggap Basarnas dan bisa berdampak pada meningkatnya jumlah korban yang dapat diselamatkan saat terjadi kecelakaan.

Sementara itu, Kepala Basarnas Kendari Aris Sofongi mengatakan selama ini pihaknya sedikit mengalami hambatan ketika memberikan pertolongan saat terjadi kecelakaan di laut karena para nelayan tidak memiliki peralatan deteksi dini, salah satunya personel locator beacon (PLB).

“Kesulitan kami selama ini kapal-kapal, khususnya kapal rakyat atau nelayan tidak dilengkapi dengan peralatan deteksi dini, salah satunya PLB, sehingga kita dalam memberikan aksi penyelamatan masih meraba kejadian di mana. Kadang pelaporan dari kejadian prosesnya juga lama, bahkan kadang-kadang sudah satu hari kejadian baru laporan kepada kami (Basarnas),” kata Aris.

Aris berharap dengan adanya pelatihan sosialisasi deteksi dini tersebut, masyarakat tahu dan paham serta bisa memiliki peralatan-peralatan dini seperti PLB guna membantu Basarnas dalam menemukan titik lokasi saat terjadi kecelakaan.

Aris mengungkapkan bahwa sosialisasi deteksi dini dan pelatihan SAR dilaksanakan selama dua hari, 14-15 September 2020 dan diikuti 45 orang potensi SAR, terdiri dari unsur TNI-Polri, perhubungan laut, pemangku kepentingan lainnya yang ada di Sultra khususnya di Kota Kendari.

Kegiatan itu dibuka oleh Direktur Sistem Komunikasi Brigjend TNI Widjang Pranjoto dan dihadiri oleh Wakil Wali Kota Kendari, Ketua DPRD Kota Kendari, unsur pimpinan TNI/Polri, Instansi terkait dan perwakilan perusahaan kapal.(ANTARA)

Nonton Video Berikut dari YouTube BaubauPost TV Channel:

WA TINI, WARGA LIA MAWI, KAB WAKATOBI MENGAMUK KARENA TIDAK DAPAT BANTUAN TERDAMPAK COVID 19

Seorang Warga Wakatobi bernama WaTini mengamuk di Kantor Desanya karena tidak mendapatkan bantuan terdampak Covid-19. Wa Tini merasa dianaktirikan karena senmua jenis bantuan yang disalurkan tak satu pun yang dia dapatkan. Meja dan kursi dalam kantor pun menjadi sasaran amukannya.@BAUBAUPOST TV CHANNEL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pin It on Pinterest