PASARWAJO, BP- Tekad Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buton di bawah Nakhoda Drs La Bakry MSi dan Iis Elianti, untuk mensejahterakan masyarakat Buton, tidak pernah kendur. Gebrakan tahun 2020 dimulai dengan alokasi 26 ribu pohon pala untuk petani di Buton.

Perwujudan program “Palanisasi” di Jazirah kabupaten Buton untuk kemakmuran masyarakat. Kini untuk menepis desas desus halayak ramai, di tahun 2020 selangkah lagi program itu terwujud.

Melalui rilis Dinas Komunikasi dan Persandian Buton, bersama dinas teknis terkait dan DPRD Buton, Bupati La Bakry melakukan koordinasi dengan Pemerintah Maluku Tengah di Banda Naira untuk menjajaki pengembangan dan budi daya tanaman Pala di Desa Lonthoir, Kecamatan Bandam Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, pada Jumat (10/01). Hasilnya Pemda Buton bakal mengalokasikan 26 ribu pohon.

“Sejak tahun 2019, Bupati Buton sudah mencanangkan pengembangan Pala itu, sehingga ditahun 2020 Bupati Buton membuat gebrakan pengembangan Pala yang dinamai Palanisasi. Sebagai Dinas dinas teknis yang membidangi perkebunan, kita (Dinas Pertanian) mengakolakosikan pala sebanyak 26.000 pohon untuk masyarakat Kabupaten Buton secara umum,” kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Buton, Dewangga SP ketika mendampingi Bupati Buton dalam lawatannya di Banda Naira.

Bukan hal baru komoditas ekspor ini bagi Pemkab Buton, sejak tahun 2019 lalu telah dikembangkan. Tidak hanya sekedar mengembangkan, Buton bahkan telah melakukan riset selama dua tahun. Jadi, sebagai langkah awalnya petani disarankan agar menanam pala dengan jumlah sekitar 20-25 pohon.

Sehingga, pengembangan dan budidaya tanaman Pala akan disebar di wilayah di Kabupaten Buton yakni Siotapina, Wolowa, Lasalimu Selatan, Lasalimu dan Kapontori.

Sementara itu, Ketua DPRD Kabupaten Buton, Hariasi Salad, SH sangat mendukung terwujudnya program dari Bupati La Bakry itu.

Menurutnya, itu merupakan langkah yang strategis dilakukan Bupati.

“Dewan mendukung program pemkab Buton tersebut dalam menggalakkan program Palanisasi Buton sebanyak 26.000 pohon,” ungkapnya.

Kata dia, program itu tentu sangat bersentuhan dengan masyarakat. Kewenangan DPRD adalah tentang Budgeting. “Secara otomatis kami akan membackup semua program pemerintah daerah yang memang langsung bersentuhan dengan masyarakat,” kata Hariasi.

Dikatakan, pihaknya (8 orang anggota Dewan) tidak menampik datang mendampingi Bupati tidak lain guna memastikan pengembangan kualitas Pala Banda yang sudah terkenal di dunia inilah adalah bukti keseriusan Bupati Buton kepada masyarakatnya.

“Kita melihat secara langsung bagaimana cara pembibitan, penanaman termasuk bagaimana perlakuan petani itu terhadap pala itu sendiri,” paparnya

Sehingga, kata dia, program ini tidak salah-salah dalam pengembangannya jika diaplikasikan di Buton, terutama dalam pembibitan dan penanaman nantinya.

“Kami mendatangi tempat-tempat yang mengembangkan Pala di Pulau Banda. Walaupun dengan bersusah payah, naik kapal menyebarang lautan dengan ombak yang besar. Tapi inilah tugas kami selaku DPRD untuk selalu mengawal kebijakan pemerintah daerah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Buton,” pungkasnya.

Di lokasi yang sama, Bupati Buton, La Bakry dengan tegas mengatakan pencanangan program Palanisasi Buton tidak terlepas dari sejarah yang mencatat bahwa Buton pernah jaya dengan rempah-rempahnya dahulu.

Namun, kata La Bakry, yang paling mendasari ide dan pemikiran ini adalah apa yang disampaikan oleh Pak Presiden tentang 100 tahun Indonesia meredeka yakni pada tahun 2045. Di mana pada tahun itu presiden berharap Indonesia sudah masuk peringkat 5 besar ekonomi dunia. Pendapatan perkapitan masyarakat berada di level 27 juta perorang per bulan.

“Sekarang saya ingin memberi motivasi pada masyarakat Kabupaten Buton yang bisa mempersiapkan dirinya pada 25 tahun yang akan datang tepat 100 tahun Indonesia merdeka,” katanya.

Orang nomor satu di Kabupaten Buton itu menuturkan kalau mengharapkan jambu mete, itu hanya berbuah setahun sekali. Demikian juga dengan tanaman palawija yang lain tidak terlalu punya prospek yang jelas.

Menurutnya, dua komoditas tanaman yang paling memungkinkan untuk mendukung program pemerintah pusat itu adalah Pala dan Kelapa.

“Ke depan kita akan kembangkan tanaman Pala,” jelasnya.

Ia menerangkan bahwa selama ini masyarakat yang sudah menanam Pala dan menikmati harga jual Rp 80 ribu per kilogram, di tahun 2045 diharapkan di Buton sudah sebagian masyarakat terutama para petani yang punya lahan yang cocok ditanami Pala dan Kelapa.

“Masyarakat dapat kan penghasilan seperti yang dinginkan pemerintah pusat. Menurut saya untuk memberi kepastian 25 tahun yang akan datang, tanaman Pala adalah yang paling menjanjikan. Tentu saja kita juga akan mengembangkan sektor pertambangan dan sektor lainnya. Namun, tidak semua orang bekerja di sektor pertambangan, sebab sebagian masyarakat kita adalah petani,” terangnya.

“Jika melihat kehidupan masyarakat Kepulauan Banda dengan penghasilan utamanya adalah pala, rata-rata mereka ‘sejahtera’,” tutupnya.

Peliput: Asmaddin

Pin It on Pinterest