BANJARMASIN, BP- Dailog Anugerah Kebidayaan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tahun 2020, di Hotel Mercure, banjarmasin, kalimantan Selatan, Jumat (07/02), Walikota Baubau Dr HAS Tamrin MH memaparkan nilai budaya Polima (PO5) yang terimplementasi dalam sistem birokrasi yang dipimpinnya.

Dialog yang merupakan rangkaian dari Peringatan Hari Pers nasional (HPN) 2020 diikuti para walikota/bupati penerima Anugerah Kebudayaan PWI tahun 2020. Namun yang hadir hanya lima diantara 10 walikota/bupati penerima yaitu Walikota Baubau Dr HAS tamrin MH, Walikota Ambon Richard Louhenapessy, Walikota Banjarmasin Ibnu Sina, Bupati Halmehera Barat Danny Missy dan Bupati Serdang Bedagai Soekirman.

Walikota Baubau Dr HAS Tamrin MH ketika menjadi pembicara pada dialoh anugerah kebudayaan oleh PWI Pusat di HPN 2020 Foto Prasetyo M

Hadir juga dalam dialog tersebut Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Mihadjir Effendy, Ketua Dewan Pers M Nuh dan Ketua PWI Pusat Atal S Depari.

Sebagai pembicata ketiga, Dr AS Tamrin mengatakan peradaban bangsa saat ini sudah mengarah ke perubahan industri 4.0. Olehnya dibutuhkan suatu nilai untuk mendasari semua perubahan itu.

“Makanya pokok-pokok pikiran pembangunan di Kota Baubau itu berlandaskan kebudayaan. Apalagi Baubau adalah pusat eks kesultanan Buton yang menjunjung tinggi nilai budaya peninggalan masa lalu,” katanya.

Nilai luhur budaya sebagai pedoman kehidupan masyarakat Buton ini, lanjutnya, diimplementasikan dalam satu sistem yang dia sebut Polima. Budaya Polima ini memuat lima nilai dasar kehidupan yang berkaitan dengan nilai luhur pancasila sebagai dasar negara.

Dalam kesempatan itu, Walikota Baubau juga memaparkan budaya Polima ini telah dituangkannya dalam sebuah karya tulis berjudul “Polima, Gema Pancasila dari Baubau”. Buku ini akan dibedah dan dilaunching di Hotel Golden Tulip Banjarmasin pada Sabtu 8 Februari 2020.

Sementara itu, Ketua Anugerah Kebudayaan PWI Pusat, Yusuf Susilo mengatakan dialog ini melengkapi anugerah kebudayaan yang akan diterimakan di puncak HPN 2020.

“Acara ini merupakan yang kedua setelah dilaksanakan pada 2016 lalu di NTT. Mereka ini dipilih secara langsung oleh lima juri berdasarkan penilaian yang ketat,” katanya.

Tema yang diusung adalah kemajuan kebudayaan di kabupaten/kota termasuk peluang dan tantangan. Tujuannya mendorong kebudayaan sebagai salah satu sektor pembangunan.(*)

Pin It on Pinterest