BAUBAU, BP – Sebagian petani di Kelurahan Waliabuku Kecamatan Bungi mengeluhkan kurangnya debit air untuk mengairi persawahan. Padahal saat ini masih masuk musim penghujan.

Menurut Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kota Baubau, Muhammad Rais, kurangnya pasokan air di sebagian persawahan karena adanya penggundulan hutan.

“Yang jadi kendala juga ini ada semacam lingkaran setan. Di satu sisi dengan ketersediaan air agak berkurang di sawah kita sekarang, karena hutan gundul, chainsaw bunyi terus,” ungkapnya saat ditemui di ruang kerjanya belum lama ini.

Meski demikian pihaknya tidak bisa menindaklanjuti hal tersebut secara langsung. Soal kehutahan saat ini merupakan gawean Dinas Kehutanan Sulawesi Tenggara (Sultra).

“Kalau masih di sini bisa kita antisipasi secepatnya, sehingga kita agak kerepotan juga. Akhirnya sumber air kita menipis,” tandasnya.

Dengan berkurangnya pasokan air lanjut Rais, menyulitkan petani untuk melakukan tanam serentak. Padahal tanam serentak memiliki manfaat, salah satunya untuk menangkal peningkatan hama tikus yang saat ini menyerang sebagian lahan persawahan di Kecamatan Bungi.

Sebelumnya, salah satu petani di Waliabuku Suharman mengeluhkan kurangnya pasokan air untuk lahan persawahan. Hal ini juga diperparah dengan saluran irigasi di wilayah tersebut yang tidak berfungsi untuk mengairi persawahan.

“Sistem irigasi ada namun tidak difungsikan dan debit airnya kecil. Hal ini dipengaruhi oleh tambang serta sebagian airnya diambil untuk subsidi Kota,” ungkapnya.

Sehingga kata dia, hampir keseluruhan petani di wilayah Kecamatan Bungi terpaksa mengundur waktu tanamnya pada musim tanam pertama, karena menunggu adanya debit air yang besar untuk pengelolaan sawah.

“Pada musim tanam pertama kita terlambat mengelola karena terkendala dengan air. Kemudian kita walaupun musim hujan belum tentu ada air, dikarenakan sehari hujan ada air kemudian pas terik matahari, air hilang,” jelasnya.

Peliput: Zaman Adha

Pin It on Pinterest