– Kalau Alinatan Hanya Mengikut Ajakan La Ode Tarmin
Laporan: Ardi Toris

BATAUGA, BP- Jelang pemilihan Bupati Buton Selatan,
(Busel), banyak pahlawan kesiangan yang bermunculan
mengaku sebagai pejuang pemekaran Busel. Karena itu La
Ode Tarmin yang kini menjabat sebagai kepala lingkungan
di Busel, mengaku tahu persis bagaiman perjalanan Busel
itu mekar dan siapa sesungguhnya yang jadi motor
penggerak Busel itu hingga bisa menjadi daerah otonomi
baru (DOB).

La Ode Tarmin menjelaskan awal perjuangan pemekaran Busel
ditandai dengan adanya tim pemekaran dan tim pejuang.
“Akan tetapi tim pemekaran ini dia berhenti ketika ada
moratorium DOB pada tahun 2011-2012. Sedangkan kami
berada pada posisi tim pejuang Busel” ungkapnya. Lalu
dipenghujung tahun 2012 dibuka kembali pemekaran DOB dan
ada 19 calon DOB yang akan dibahas pada komisi II DPR RI
diantara di Sultra masuk Buton Selatan.
La Ode Tarmin mengatakan sebelumnya ketika ada
penghentian moratorium pemekaran DOB pihaknya disampaikan
staf ahli La Ode Ida yang saat itu meruopkan senator DPD
RI bernama Marwan bahwa kenapa teman-teman di Busel
tidak urus pemekaran padahal secara administrasi dokumen
Busel itu paling lengkap meskipun sebetulnya masih ada
syarat administrasi yang belum lengkap berupa penetapan
tapal batas dan penyerahan aset kabupaten Buton induk ke
Kota Baubau.

“Mendengar kabar itu, lalu saya bersama Jalal dan Herman
ke Jakarta untuk menginvetigasi dokumen Busel, waktu itu
saya ingat betul tanggalnya yaitu 12/12/2012 lahirlah cek
list kelengkapan dokumen bahwa untuk Busel sisa dua
sarat tadi yang belum dilengkapi. Setelah keluar dari
Kemendagri kami pulang ke daerah untuk mengurusnya.
Ketika bekas ini belum lengkap, dokumennya kami serahkan
ke komisi II DPR RI yaitu bendaharanya bernama ibu maryam
,” kata La Ode Tarmin.
Selanjutnya, pada sidang pertamam di Komisi II DPR RI, La
Ode Tarmin dkk mengundang Aliadin yang ketika itu
menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD. Sidang pertama itu
merupakan rapat dengar pendapat yang juga dihadiri La Ode
Ida dan Gubernut Sultra H Nur Alam SE. “Jadi Pak Alinatan
belum terlibat dalam urusan pemekaran Busel sampai dengan
tahap ini,” kata La Ode Tarmin lugas.

Keterlibatan Alinatan pada perjuangan Busel itu, lanjut
La Ode Tarmin, ketika dia menghadiri acara keluarganya di
Masiri. Alinatan datang kerumah keluarganya atas ajakan
La Ode Tarmin dan langsung mengajaknya ikut bergabung
bersama-sama memperjuangkan Busel.
“Jadi Alinatan ini saya yang ajak dia bergabung dan
selama proses perangkuman dokumen dia tidak terlibat sama
sekali. Kita keCibinong saja untuk merampungkan tapal
batas, Alinatan tidak terlibat. Untuk penetapan rtapal
batas ini, Umar Samiun yang sudah menjabat Bupati Buton
ketika itu belum mau menandatangani tapal batas pertama
yang disusun pada era Bupati Buton Syafei Kahar. Nanti
sudah digeser kebagian atas, baru kemudian Pak Umar
Samiun menandatangani tapal batas itu,” jelas La Ode
Tarmin.

Sementara peran Agus Feisal kata La Ode Tarmin, merupakan
tokoh utama dari tim pejuang Busel yang selalu siap
mendanai secara probadi dan secara langsung apa saja yang
dibutuhkan oleh tim pejuang Busel untuk melakukan gerakan
percepatan pemekaran Busel.

“Agus Feisal Hidayat yang mesupport materi yang
dibutuhkan teman-teman. Sebenarnya tahun 2013, Busel ini
sudah ketuk palu bersama-sama dengan Kabupaten Konaweb
kepulauan. Terhanbat hanya karena waktu itu tidak ada
dukungan anggaran,” kenang La Ode Tarmin.

Hanya orang-orang tertentu saja yang tahu persis
keterlibatan Agus Feisal Hidayat dalam mengendalikan
pergerakan teman-teman yang berjuang untuk Busel.

“Kalau ke Jakarta rumah Pak Agus itu di Puloraya kami
gunakan untuk tidur dan jadi posko utama. Bahkan Pak Agus
Feisal Hidayat sendiri yang biasa masak makanan untuk
kami. Kalau kita ditahu ada di Puloraya, kita bergeser
lagi ke rumahnya Pak Ridwan BAE, tapi Pak Agus Feisal
Hidayat yang bawakan kami beras bersama ikannya. Karena
kita tidak punya uang,” katanya menceritrakan.

Sementara Alinatan posisinya hanya membantu dalam proses
perjuangan, “Ingat hanya membantu saja dia, karena memang
saya yang ajak dia untuk bergabung,” tuturnya. Alinatan
pernah pergi ke Jakarta dua kali dan tinggal di kamar
Sintiong. Disitu, Kata La Ode Tarmin, mereka bertujuh
yaitu ada dia, Rizal, Gunawan, Alinatan Ruslan, Jalal,
dan Herman.

“Ini agar masyarakat tahu bahwa posisi Alinatan bukan
tokoh utama dan dia itu posisinya hanya mengikut saja.
Kalau saya mari bicara yang sesungguhnya jangan saling
mendusta dan membohongi masyarakat. Kita bicara yang
jujur-jujur saja bahwa Pak Agus Feisal Hidayat, Paslon
nomor urut tiga itu itu punya peran besar dalam
pemekaran,” jelasnya.
La Ode Tarmin juga mengingatkan bahwa tahun 2013 Alinata
pernah ikut rapat bersama 26 orang lainnya dirumah
Alirman. Dalam rapat itu juga hadir La Hijirah, Zakir,
Aliadin, Firman, Pomili wonal dan semua perwakilan
tokoh-tokoh kecamatan se Busel ada di situ untuk
menyatakan kesamaan misi memperjuangkan pemekaran Busel
dibawah kendali sang tokoh Agus Feisal Hidayat. Karena
hanya dia yang memang bisa mengayomi pemekaran Busel.

“Dalam pertemuan 27 orang itu, Alinatan ikut
menandatangani bahwa sepakat Agus Feisal Hidayat
ini kita jadikan tokoh perjuangan Busel dan bersama-sama
memperjuangkan Busel,”katanya mengingatkan. La Ode Tarmin
mengulangi bahwa yang dimaksud tim pemekaran Busel itu
ada 13 orang yang dibentuk Bupati Buton Syafei Kahar,
dimana ketuanya adalah Pak Darmin. Sedangkan pejuang
pemekaran itu, lanjutnya lahir dengan sendirinya.

“Namun tim 13 itu bubar karena ada moratorium pemekaran.
Jadi pejuang pemekaran ini lahir dengan sendirinya dengan
diawali pertemuan di song bids sebanyak tiga kali rapat
dan Pak Natan belun terlibat. Ada pembicaraan krusial di
song bids terkait pendanaan pemekaran itu Alinata tidak
terlibat. Dia itu terlibat nanti diujung kesuksesan
pemekaran,” jelas La Ode Tarmin.

Agus Feisal juga berperan dalam membebaskan 43 orang
Busel yang ‘terbakar’ dengan arus pemekaran. Agus Fisal
Hidayat mendorong pergerakan memperjuangkan Busel namun
dia meminta agar tidak sampai chaos.

“Saya ingat tahun 2014 ada demo di batauga dan ada
pendemo yang dipukul aparat sampai kakinya patah. Kalau
tidak salah namanya Pak Wahid. Ketika dia kena musibah
hanya Agus Feisal Hidayat yang memperhatikannya. Lalu
juga pada tahun 2014 ada demo di Kendari, nah di sini
Alinatan ikut Demonstrasi. namun dibelakang demo itu ada
Agus Feisal Hidfayat. Dia sengaja kami kasih diluar pagar
agar bila ada kendala, maka pak Agus Feisal Hidayat yang
bisa melihat dan menolong kita. Berankat naik super jet
ke Kendari saja kami tidak uang, maka Pak Agus Feisal
inilah penyelamat kita,” ucapnya lagi. (***)

Pin It on Pinterest