Peliput: Anton

LABUNGKARI, BP – Proses mediasi untuk meredam konflik horisontal antara para pendukung Pasangan Calon (Paslon) Bupati/Wakil Bupati yang terjadi di Kabupaten Buton Tengah, dipimpin langsung oleh Kapolda Sulawesi Tenggara (Sultra) Brigjen Pol Andap Budhi Revianto SIK.

Langkah ini merupakan tindak lanjut aparat keamanan atas konflik yang telah terjadi di Kelurahan Watolo Kecamatan Mawasangka pada Sabtu malam (4/2). Rapat mediasi tersebut berlangsung di gedung Dinas Kesehatan di Kecamatan Lakudo Kabupaten Buton Tengah pada Senin sore (6/2).

Hadiri pula Wakapolda Sultra Kombes Pol Drs Bambang Priambada MH MHum, Dansat Brimobda Sultra Kombes Polisi RM Kasero Manggolo SIK SH MH MSi, Pj Bupati Buteng Drs H La Ode Ali Akbar MSi, Kapolres Baubau AKBP Suryo Aji SIK, Dandim 1413 Buton Letkol Arh Rudi Ragil SSos MSi, Paslon nomor urut 1 dan 2, para Kepala SKPD se Buton Tengah, serta para tim inti dari kedua paslon.

Ketika konferensi pers pasca rapat Kapolda Sultra mengatakan bahwa pihaknya datang memediasi terkait permasalahan antara para tim sukses Paslon nomor urut 1 dan 2.

“Yang pasti kita datang kesini untuk memediasi, termasuk pasangan calon nomor 1 dan 2 termasuk juga dengan para tim suksesnya, dan melibatkan Kepala Daerah, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) yang ada disini, kita mau bawa kemana sih,” ulasnya.

Kapolda juga mengingatkan tentang proses deklarasi damai yang pernah digelar, bahwa tujuan yang ingin dicapai bersama yakni situasi yang aman dan kondusif di Buteng yang merupakan salah satu prasyarat dalam mewujudkan pembangunan nasional.

“Dulu satu tujuannya adalah Buton Tengah yang aman dan kondusif, karena itu adalah salah satu prasyarat untuk pembangunan nasional yang ada disini. Kita mau mewarnai apa kesannya terhadap Buton Tengah ini, apa masyarakat yang tak karuan atau masyarakat yang tertib, kita kembalikan kepada masyarakat, saya yakin masyarakat disini juga nda mau kan rusak-rusakan,” ungkapnya.

Ketika ditanya mengenai tindakan khusus apa yang akan dilakukan terkait dengan polemik di Buteng, ia menjawab bahwa pihaknya datang memediasi pertikaian antar pendukung kedua kubu paslon, dan hal ini tidak ada unsur paksaan. Ia juga meminta kepada pihak media agar senantiasa obyektif, tidak provokatif dan mendinginkan suasana saat memberitakan.

“Kita kan datang memediasi, ya namanya mediasi kita sampaikan berupa masalah apa, ini ada masalah kaya begini- begini, kalau itu tidak tercapai ya kita akan lakukan penegakkan hukum, tapi kalau mediasi itu tercapai ya sudah, itu sebagai komitmen yang kita kerjakan bersama, sebagai kesepakatan kita bersama, tidak ada unsur paksaan, kan kira-kira seperti itu, saya rasa peran wartawan juga harus ada, harus obyektif juga memberitakan, untuk mendinginkan situasi juga, jangan sampai justru nanti pemberitaannya hanya memprovokasi, itu ngga baiklah,” pungkasnya.

Kapolda sangat berharap agar seluruh elemen masyarakat yang ada di Kabupaten Buton Tengah untuk saling memahami, tidak gampang terprovokasi. Kemudian yang terpenting bila telah diadakan kesepakatan bersama ternyata masih dilanggar maka pihak aparat kepolisian akan melakukan penegakkan hukum secara tegas.

“Harapan saya selaku Kapolda seperti itu, masyarakat harus bisa saling memahami, tidak turut terprovokasi, pihak media juga harus bisa memberitakan yang sejuk, karena itu penting nanti tanggal 15, setelah itu juga penting untuk kita melaksanakan pembangunan. Yang pasti kalau itu sudah jadi kesepakatan bersama terus itu kemudian dilanggar, maka kita akan laksanakan penegakkan hukum secara tegas,” tutupnya. (*)

Pin It on Pinterest