Peliput: Gustam Editor : Hengki TA
BAUBAU, BP – Dalam Napak Tilas Perjalanan Arung Palakka yang dilaksanakan di Benteng Keraton Buton, Selasa (27/12), yang pertama kali dilaksankan di Kota Baubau, dimana untuk mengenang kembali sosok Arung Palakka yang perna datang di Pulau Buton.

Sejarah ini menunjukan Buton dan Bone bagaikan dua keping mata uang yang tidak di pisahkan, teringat salah satu teori mengatakan dua sisi mata uang tidak dapat di pisahkan antara sisi sebelah dengan sisi sebelahnya, ketika ini hilang satu maka dia tidak akan bisa di gunakan sebagai mata uang, mungkin inilah makna dari pesan leluhur kita, bahwa ketika Buton bersebrangan dengan Bone, maka hancurlah kedaulatan antara kedua daerah ini

Bupati Bone DR H Andi Fahsar M Padjalangi MSi dalam sambutannya mengatakan, rangkaian prosesi Napak Tilas Arung Palakka dari Bone tanjong Palampe sampai kepada Pulau Buton, ini merupakan suatu pembuktian Kota Baubau (pusat eks Kesultanan Buton-red) sebagai suatu daerah kerajaan, yang selalu menjunjung tinggi budayanya, adatnya, leluhur, dan para pahlawannya.

“Untuk itu, kembali lagi kami ingin menyampaikan rasa bangga dan apresiasi yang sangat luar biasa. sebagai suatu wujud kecintaan orang Baubau sama kita dan harus kita buktikan dengan menyempatkan menghadiri kegiatan ini,” jelasnya.

Dengan suatu perwujudan kecintaan kepada leluhur, kepada pahlawan, tidak salah falsafah mengatakan, daerah yang besar adalah daerah yang menjunjung dan menghargai para leluhur, budaya, adat, dan pahlawannya. Inilah bentuk kebesaran Kota Baubau, dan tentu merupakan bagian dari pada Kabupaten Bone yang perlu dijaga dan dipelihara.

Menyimak sejarah perjalan Arung Palakka berangkat dari Bone, ketika itu belum di nobatkan menjadi raja, Arung Palakka meninggalkan Bone, ketika itu belum di nobatkan menjadi pemimpin bangsa di Sulawesi, tetapi memiliki sifat kepemimpinan yang sangat kuat, karena suatu janji dan tekat dia mengatakan bahwa dia ingin berangkat ke Buton.

Datangnya Arung Palakka di Pulau Buton, disambut dengan baik oleh Sultan Buton. Satu sambutan dan pesan Arung Palakka yang teringat, dan terngiang terus bagi leluhurnya di Kabupaten Bone mengatakan bahwa, Bone adalah Buton yang tidak bisa di pisahkan, Buton adalah Bone di barat, dan Bone adalah Buton di timur.

Dengan menjunjung tinggi bahwa, sakitnya Buton adalah merananya Bone, senangnya Bone adalah semangatnya Buton. Dimana Perjalanan, dan perjuangan Arung Palakka di dalam membebaskan perbudakan-perbudakan, penindasan-penindasan di Sulawesi, itu di wujudkan ketika ia berangkat dan mendapat berkah, rahmat di tanah Buton ini.

“Kami meyakini banyak sejarah yang lahir, dan sebagian kami meyakini bahwa telapak kali yang ketika dia menghentakkan kaki kanannya dari Bone untuk berangkat di Buton, kami juga meyakini kaki kirinya adalah yang ada di sekitar sini. Itu mendadakan bahwa langkahan antara Bone dengan Buton begitu dekat, kedekatan yang terjadi,” pungkasnya.

Dari meninggalkan Bone yang hendak ke Pulau Buton, Arung Palakka bersumpah menghadap ke barat dan mengatakan, akan berangkat ke Pulau Buton dan berjanji tidak akan memotong rambutnya, sebelum mampu menghilangkan perbudakan, menghilangkan penjajahan di tanah Bugis. Dengan datang di Pulau Buton untuk berguru kepada Sultan Buton, maka di ikatlah rambutnya kemudian di lanjutkan janjinya.

“Apabila dai mampu membebaskan perbudakan di tanah Bugis dan penjajahan di tanah Bugis, dia juga akan mengkurbankan seribu ekor kerbau, dan ujung tanduknya adalah terbuat dari emas, dan pada saat itu juga kurban satu orang bangsawan murni Gowa dan makan jantungnya secara bersama-sama. Itu semua dia buktikan setelah dia berangkat ke Buton bersama pasukannya,” jelasnya.

Kurang lebih tiga tahun di Pulau Buton, luar biasa ilmu yang dia dapatkan, terutama ilmu agama islam pada waktu itu. Diamana islam masuk ke Bone pada masa Arung Palakka islam belum sempurnah. Yang memasukan islam pertama di Bone dan yang menerima hal terebut yaitu kakek Arung Palakka, dan itulah Raja Bone yang paling cepat pemerintahannya selesai hanya tiga bulan.

“Karena di tolak oleh rakyat Bone agama islam. Tetapi bersisih teguh akhirnya dia tinggalkan Bone ke Bantaeng dan di gantikan oleh anaknya, dan anaknya inilah melanjutkan perjuangan, sampai kepada setelah Arung Palakka berangkat ke Buton, dan dari Buton ke Batavia,” tuturnya.

Setelah Batavia kembali menyerang dan Sultan Hasanuddin, sepanjang sejarah takluklah Sultan Hasanuddin, sehingga hilanglah semua perbudakan, penindasan, dan kembali dia melaksanakan hajadnya. Setelah melaksanakan hajadnya disitulah Arung Palaka memotong rambutnya, namun bukan lagi menghadap ke Bone melainkan menghadap ke Buton, sebagai tanda bahwa perjuangan Sultan Buton ini sudah berhasil.

“Inilah sejarah yang tidak bisa kami lupakan, itulah polemik sejarah yang ingin kami sampaikan, walaupun banyak berita yang mengatakan, tetapi kami meyakini bahwa perjuangan Arung Palaka adalah perjuangan untuk kemanusiaan tanpa melihat kepentingan,” pungkasnya.

Pada perayaan tersebut, juga dihadiri oleh Wali Kota Baubau, DR A S Tamrin MH, Wakil Wali Kota Baubau, Hj Wa Ode Maasra Manarfa SSos MSi, Ketua DPRD Baubau, Hj Roslina Rahim, Dandim Buton/1413, Letkol Arh Rudi Ragil SP, Sekretaris Daerah, Drs Muhammad Djudul MSi, Serta Seluru SKPD Kota Baubau.(#)

Pin It on Pinterest