Peliput: Amirul

BATAUGA, BP – Debat kandidat Paslon Bupati dan Wakil Bupati Busel periode 2017-2022 di Gedung Lamaindo berlangsung sengit. Para kandidat saling serang pertanyaan ke Paslon lain. Begitu juga Paslon nomor urut 3 Agus Feisal ketika bertanya ke paslon nomor urut 4 Agus Salim – La Ode Agus terkait isu pemekaran.

Agus Feisal diberi waktu oleh panelis Prof La Sara untuk bertanya ke paslon Agus – La Ode Agus. “Bagaimana menurut kakanda jika Busel ini tidak mekar?,” tanya Agus Feisal.

Dengan waktu 1 menit 30 detik, Agus Salim ‘menyikat’ pertanyaan itu secara fair, bahwa pemekaran pada intinya permintaan dan permohonan kepentingan masyarakat. Dijelaskannya, negeri ini dimekarkan bukan karena kepentingan personal atau pribadi-pribadi negeri ini, tetapi dimekarkan negeri ini untuk seluruh kepentingan masyarakt untuk dua hal.

“Satu pendekatan pelayanan publik, kedua putra-putri daerah diberikan ruang untuk berkomptesi dinegerinya sendiri yaitu busel. banyak putra-putri busel yang terbaik mampu mensejahtera negeri bukan tanggung jawab seseorang. Bupati Buton induk ikut bertanggungjawab dalam pemekaran karena dialah yang memiliki tanggungjawab kekuasaan untuk melepas Busel sehingga mandiri,” jawab paslon jalur independen Agus Salim – La Ode Agus.

“Sehingga tugas kita adalah mensejahterakan rakyat busel bukan kepentingan individu yang kita bawa masuk untuk membangun negeri ini. Agus Salim dan La Ode Agus insya Allah akan berbakti kepada negeri ini,” tambah Agus Salim.

Agus Feisal kembali menanggapi, terkait pemekaran itu, “Tadi saudara menyatakan bahwa bupati menjadi penentu proses pemekaran. Di Batauga ini, didepan kantor bupati itu itu adalah saksi sejarah bagaimana masyarakat dan seluruh warga Busel memperjuangkan keinginan untuk mekar. Patah kaki, penangkapan di penjara sampai tujuh orang itu adalah sebuah sejarah yang tidak bisa dihapus pemerintah menyetujui pemekaran dibawah paksaan dari publik. Seandainya pemerintah punya keinginan yang besar terhadap Busel maka tidak ada demonstrasi di Sampolawa di Batauga, di Kendari bahkan sampai di Jakarta sana. Dimana kepedulian pemerintah saat itu,” tanya Agus Feisal lagi.

Agus Salim kembali menjelaskan masyarakat Busel perlu mengingat bahwa dimasa lalu Agus Salim Mbaeda bersama masyarakat berjuang lima tahun bagaimana pemindahan penempatan Ibukota Kabupaten Buton antara Pasarwajo atau Batauga.

“Agus Salim ikut serta berperan, saya merobekan SK karena memindahkan ibukota Kabupaten Buton dari Batauga ke Pasarwajo saya salah satu pejuangnya di dalam. Saya pernah diundang H Arusani memang betul aspirasi masyarakat bagaimana kepentingan publik bisa terorganisir sehingga kepentingan publik menyuarakan dan pemerintah merespon atau tidak itu tanggung jawab pemerintah masih berada di Buton induk,” jawabnya.

“Saya kira pemekaran bukan perdebatan yang perlu diperdebatkan insya Allah Agus Salim dan Agus Lao kami kalau diberikan kepercayaan tidak pernah menghilangkan catatan sejarah, sepupuh saya, orang tua saya La Ode Alirman tau sejarah Busel saya paham Paslon nomor tiga adalah pejuang Busel tapi semua komponen masyarakat, pemekaran bukan keinginan priibadi, bukan kepentingan pribadi saya kira itu jawaban saya,” tutup moderator Prof La Sara menghentikan waktu 1 menit 30 detik yang diberikan telah habis.(*)

Pin It on Pinterest