– Breafing Para Kabag dan Asisten

Peliput: Iman Supa Editor: Zaman Adha

RAHA, BP – Guna menjalin kerja prima dan bermartabat, maka Sekda Muna Nurdin Pamone mengumpulkan jajarannya yang bersemayam dilingkup Setda Muna untuk mencari formulasi baru dan memberi arahan dalam kerja nyata kedepannya.
Sesuai perintah Bupati Muna LM Rusman Emba, paradigma pegawai dalam mengemban tanggung jawab perlu dipertegas lagi. Persoalan disiplin yang sering menjadi masalah akan mendapat perhatian cukup serius, terlebih lima hari kerja akan diterapkan.
Sehingga, Nurdin mengajak para kepala bagian dan asisten untuk menunjukkan komitmennya dalam menjabarkan perintah bupati. Ia mengajak kepada jajarannya ini untuk memberi panutan pada bawahannya dalam penegakkan disiplin.
“Contoh harus ditingkat atasan. Susah menerapkan kalau kita sendiri tidak awali. Untuk apel pagi masing-masing asisten mengawal bawahannya. Kalau perlu pegang absen sendiri,” katanya saat memimpin rapat di ruang rapat Sekda, kamis (12/1).
Selanjutnya untuk menertibkan sistem kehadiran, Nurdin bakal menggunakan jasa Polisi Pamong Praja, untuk penerapan program apel pagi dan siang. Penekanan lain pula ditunjukan kepada personil dalam ruangan kerja bagian-bagian di Kantor Bupati. Kehadiran pegawai dalam ruangan juga perlu diawasi dengan baik.
“Titik tekan ini banyak dialamatkan kepada pegawai yang bermukim di kantor Sekretariat Daerah. Karena menurutnya kantor ini merupakan sentrum pemerintahan di Kabupaten Muna. Kantor ini menjadi rujukan dalam penegakkan disipli pegawai.
Bukan tak mungkin pula ketegasan ini akan berimplikasi pada permintaan perjalanan keluar daerah,” lanjutnya.
Nurdin tidak sungkan untuk menolak permintaan tersebut, karena pertimbangan utamanya adalah aktifitas displin yang akan jadi parameter. Ia tak ingin memberi kasih yang berlebih bagi pada abdi negara yang dianggap tidak taat displin. Terkecuali perintah itu lahir dari pimpinan. Namun pada prinsipnya adalah komitmen terhadap perintah bupati.
Sementara Kabag Kemasyarakatan Muna Fajar Fariki mengungkapkan kegelisahannya selama menjadi imam diruang abdi barunya. Ruang dialektika yang diselaminya belum tumbuh dan berkembang.
“Masih terbersit bayangan hitam yang mengganjal arah berpikirnya. Tugas dan tanggungjawabnya belum cair dalam pemahamannya,” ungkapnya.
Menurutnya dalam kendali kewenangan, pegawai yang terkumpul dalam wadah Setda Muna punya porsi lebih besar. Hal ini dikarenakan kepala bagian memikul beban kerja pimpinan untuk sebagiannya. Sehingga memudahkan tangan pimpinan dalam mengatur kendali pemerintahan.
Pemikiran lain yang cukup mengganjal adalah kebutuhan materi keuangan pegawai. Gaji yang dinanti tak kunjung datang. Gaji menurutnya bagian dari kemasyarakatan, karena pegawai juga masyarakat. Ini mungkin akan mempengaruhi sejarah dalam bekerja bila materi belum tercipta. (*)

Pin It on Pinterest