Laporan: Ardi Toris

MASIH bersama dengan Walikota Baubau Dr HAS Tamrin MH dalam bincang-bincang budaya. Kali ini AS Tamrin mengungkapkan bagaimana konsep PO5 itu bisa lahir dari pemikirannya. “Sebagai nilai budaya, PO5 ini kan ada lima PO. Jadi ini sebuah nilai instrumental dari warisan leluhur yang dikasih kepada kita-kita sesungguhnya bukan hanya untuk masyarakat Buton tetapi untuk seluruh umat manusia,” terangnya.

AS Tamrin menguraikan apa saja yang dimaksud dengan lima PO atau PO5. Pertama, Pomamaasiaka. Artinya saling sayang menyanyangi, saling cinta mencintai, saling kasih mengasihi. Kedua, POpiapiara. Artinya saling mengayomi, saling memelihara. Ketiga, POmaemaeaka. Artinya saling menangggung rasa malu terhadap perbuatan yang tercela, tenggang rasa. Keempat, POangkaangkataka. Artinya saling menghargai, saling menghormati didalam kata-kata dan perbuatan yang cair dalam sebuah akhlak, akhlatul karima, dan harus terbukti dalam tingkah laku. Kelima, PObinci-bincikikuli dimana maknanya tersirat dalam mukadimah, dan sebagai causa prima.

Walikota Baubau Dr HAS Tamrin MH bersama Wakilnya La Ode Ahmad Monianse ketika mengikuti upacara HIUT RI ke 75 secara virtual

“Akan tetapi dalam tataran implementasi PObinci-binciki Kuli ini menjadi paradigma dalam kehidupan masyarakat. Jadi bedanya ini ada dalam tataran implementasi,” ulasnya.

AS Tamrin menceritakan penerapan masa lalu tanpa sadar PO5 ini sebenarnya sudah dipraketekan dalam ucapan. Dia mencontohkan misalnya bila ada konflik dalam keluarga terkait harta warisan, selalu diucapkan “Yindamo Dangia a POmamasiaka Manga Yincia yitu” (Tidakmi dia POmaamasiaka mereka itu-red). “Padahal kita pada zaman itu belum mengenal Sarapatanguna,” sambungnya.

Dalam perjalanan Waktu, lanjutnya, nilai-nilai budaya itu sudah mulai tergerus. Dalam menceritakan sebagian dari perjalanan hidupnya ketika menjadi Kanwil BPN di Sultra, lalu Kanwil BPN di Jambi dan kembali dipercaya menjadi Kanwil BPN di Makassar, Dr HAS Tamrin melihat ada nilai budaya di daerah dimana dia tugas. Misalnya di Jambi ada pitata-petiti, pantun, dan seloka, termasuk filsafat persatuan yang dibanggakan masyarakatnya.

Begitu juga ketika dia berada di Kota Makassar ada nilai budaya ‘Taro Ada Taro Gau’ yang juga menjadi nilai kebanggan mereka dan menjadi sprot dalam kehidupan. “Saya pikir di Buton juga punya nilai-nilai budaya yang sama dengan dua daerah itu dan nilai-nilai budaya ini juga bisa berlaku universal dan menjadi sprit hidup,” tuturnya.

Setelah membanding nilai yang ada di dua daerah tersebut, akhirnya AS Tamrin mencoba melihat kenyataan yang terjadi di masyarakat dimana ada pemimpin yang tergelincir tidak bisa jadi panutan lagi meskipun masih banyak yang berprilaku baik juga. Contoh lainnya dia melihat ada kelompok massa yang melakukan demonstrasi anarkis, intoleran, bentrok antar kampung, bentrok antar sekolah, muncul LGBT yang membuat hatinya galau dan menimbulkan keprihatinan.

“Muncul keprihatinan saya, Sebetulnya kalau nilai-nilai PO5 ini diimplemntasikan, rasa-rasanya tidak akan terjadi hal-hal seperti itu. Muncul kesadaran saya itu mengenai PO5 ketika saya kembali tugas jadi Kakanwil BPN Makassar dan berdasarkan nilai dua perbandingan daerah lain saya cetak baju dengan tulisan ‘SADAR POLIMA”. Saya bagikan baju itu di Sultra di masa Ali Mazi maju sebagai Gubernur SUltra saat itu. Saya bagikan ini untuk menyetuh psikologis generasi muda. Target saya ketika itu semoga ada kedamaian pada tiap komunitas di Sultra,” tuturnya.

Ketika istila “SADAR POLIMA’ itu diluncurkan lewat sablon baju, AS Tamrin tidak pernah terpikir akan mencetak buku mengenai nilai-nilai PO5 seperti sekarang ini. Dengan berpegang teguh pada nilai-nilai itu, AS Tamrin mencoba bertarung dalam pemilihan Walikota tahun 2013 dan berkat PO5 dia akhirnya terpilih menjadi Walikota Baubau bersama wakil Hj Wa Ode Maasra. Demikian juga ketika bertarung di periode keduanya dia berhasil kembali terpilih menjadi Walikota tahun 2018 bersama Wakilnya La Ode Ahmad Monianse.

“Tahun 2013 alhamdulillah dengan berpegang pada PO5 ini saya menang. Lalu tidak Lama Pak Jokowi jadi presiden dan mencanangkan nilai-nilai revolusi mental, ee…tambah semangat saya. Sebab ini program revolusi mental merubah mental secara drastis, sama dengan tujuanku menggemakan PO5 ini. Tapi revolusi mental ini kan hanya pernyataan saja dan pasti dia membutuhkan instrumental yaitu pancasila. nah di daerah kita ini ada nilai-nilai yang disebut dengan PO5,” katanya lugas.

Walikota Baubau AS Tamrin berkali-kali dalam berbagai kesempatan berdiskusi tentang PO5 selalu mengatakan PO5 ini berangkat dari saduran Sarapatanguna. Akan tatapi, lanjutnya, dalam tataran implementasi memang berbeda. Nilai-nilai PO5 yang dia gemakan itu secara filosofis berlandaskan Sarapatanguna, secara idiologis berlandaskan Pancasila, dan secara operasional berlandaskan revolusi mental, “Karena tujuannya merubah mental,” tambahnya.

baca juga: AS Tamrin Tekankan Budaya Berwujud Benda dan Berwujud Nilai-Nilai di Tanah Buton Harus Dilestarikan (BAGIAN 1)

Dia pun berkeyakinan bahwa dalam menjalankan pemerintahannya berdasarkan nilai-nilai PO5 ini (kepemimpinan PO5-red) apa yang direncanakan dalam pembangunan akan terlaksana. “Coba kalau kita sementara mau membangun lalu ada yang unjuk rasa, pasti kita tidak bisa bekerja,” tuturnya.

Bahwa dalam implementasinya tidak mudah bahkan berat menjalankannya, kata AS Tamrin tidak apa-apa. “karena tujuan kita itu memberikan penyadaran terutama kepada adik-adik, anak-anak kita jangan baku hasut-hasut. Itu sasaran saya,” katanya lugas. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pin It on Pinterest