Peliput: Nelvida A
BAUBAU, BP- Puskesmas Bungi menemukan lima pasien positif terkena Demam Berdarah Bengue (DBD) di awal tahun 2019. Penyakit tersebut merupakan salah satu penyakit yang cukup berbahaya.
Dokter Puskesmas Bungi dr Anna Yuliana saat ditemui Baubau post, beberapa waktu lalu mengatakan pada bulan Januari pihaknya menemukan tiga pasien, dan di bulan Febuari pihaknya kembali menemukan dua pasien.
” Kasus Demam berdarah yang marak pada awal bulan Januari sampai Februari. Pada bulan Januari sebanyak tiga pasien dan di bulan Februari sebanyak dua pasien,” kata Anna.
Setelah memasuki bulan Maret, jumlah kasus DBD berkurang bahkan tidak ada, hingga di awal dibulan April 2019 pasien DBD belum ditemukan. Pihak Puskesmas rutin melakukan sosialisasi dan penyuluhan di seluruh lingkungan yang masuk dalam lingkup wilayah kerja, dengan memberikan beberapa pemahaman terkait dampak dan cara mengantisipasi terjangkitnya panyakit DBD.
” Kita beri pemahaman kepada mereka terkait dampak dan proses masuknya virus yang berasal dari gigitan nyamuk,” kata Anna.
Dalam upaya penyembuhan, pihaknya selalu berusaha semaksimal mungkin untuk mengobati pasien. Berbagai hal dilakukan, salah satunya uji darah dilaboratorium RSUD.
” Hasil laboratorium kami akan dikirim ke RSUD Kota Baubau untuk didiagnosa, guna mengetahui apakah pasien positif atau negatif terkena DBD,” ungkapnya.
Jika hasil trombosit yang dimiliki pasien menurun sampai di bawah 50 ribu, pihak Puskesmas tidak bisa melakukan penanganan lebih lanjut. Selain itu, fasilitas ruangan ICU di Puskesmas Bungi belum tersedia, sehingga dalam upaya mencegah terjadinya pendarahan pada pasien DBD, pihak Puskesmas memilih untuk dirujuk ke RUSD Kota Baubau.
” Jika penyakit DBD telah memasuki hari ke lima dan hasil trombositnya sudah jauh sekali turunnya, maka sudah fase kritis. Untuk itu, harus segera dirujuk ke RSUD, karena Puskesmas ini belum memiliki ruang ICU. Takutnya, jangan sampai pendarahan,” tutupnya (#)

