Site icon BAUBAUPOST.COM

Kaopi’ku, Inovasi Tepung Ubi Instan Asal Busel

F2.3 Ketua KWT Bangun Sejahtera Desa Bola Kecamatan Batauga Mariana Bendahara Wa Uliyati dan Sekretaris Wa Ode Upiarn

BATAUGA, BP – Sebagai orang Buton pasti tidak lepas dari penganan dari olahan singkong yakni kasoami, tuli-tuli, sanggara banda dan lainnya. Panganan tradisional khas Buton tersebut dengan bahan baku Kaopi sangat digemari bagi masyarakat Buton. Namun bagaimana orang-orang Buton yang di tanah rantau dan menikmati panganan tradisional tersebut, sementara bakan baku Kaopi sulit ditemukan di daerah itu.

Permasalahan itu ditangkap oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Bangun Sejahtera Desa Bola, Kecamatan Batauga, Kabupaten Buton Selatan, dengan membuat terobosan tepung kaopi instan dengan nama Kaopi’ku.

Ketua KWT Bangun Sejahtera, Mariana saat ditemui beberapa waktu lalu, mengatakan pembuatan
tepung kaopi instan (Kaopi’ku) sama seperti halnya membuat kaopi secara tradisional, bedanya pengolahannya sudah menggunakan alat berteknologi, misalnya memarut singkong menggunakan mesin parut, menghilangkan kadar air dengan mesin pres, dan pengeringnya menggunakan oven berbahan baku gas. Bahan jadinya berupa tepung kaopi instan telah dikemas secara modern .
Kata Mariana, Kaopi’ku tanpa bahan pengawet dan dapat bertahan hingga enam bulan. Sebagai bahan baku membuat panganan tradisional yakni kaoami, tuli-tuli dan sanggara banda serta panganan lainnya, Kaopi’ku telah dipasarkan hingga keluar daerah di Sulawesi Tenggara.

“Kaopi’ku sudah sampai di Bandung, Semarang, Ambon, Sorong, Makassar, Kalimantan. memang belum banyak permintaan dari luar daerah karena ongkos kirimnya yang agak mahal,” ujarnya.

Sementara Bendahara KWT Bangun Sejahtera, Wa Uliyati mengatakan satu bungkus Kaopi’ku di jual seharga Rp 15.000. Estimasi harga ini setelah menghitung biaya produksi dengan mengambil keuntungan yang tidak begitu besar. Produksinya sehari hanya bisa mencapai 10 hingga 12 bungkus.

Kata dia, kapasitas oven sehari melakukan proses pengeringan cukup lama, daya tampungnya hanya sampai lima sampai enam bungkus perlima jam. Sehari hanya dua kali bahan baku masuk ke oven.

“Biasanya hingga jam 11 malam baru selesai, anggota KWT ini ada 15 orang, hanya dibagi tiga kelompok kerja atau hanya lima orang yang kerja perhari,” tuturnya.
Uliyati bersama anggota yang tergabung dalam KWT Bangun Sejahtera berharap, produksi Kaopi’ku yang masih berskala industri rumahan mendapat perhatian lebih, baik pemerintah daerah maupun provinsi dalam meningkatkan produksititasnya, seperti penambahan alat oven dan dibantu pemasaran yang lebih baik, sehingga produksi lokal ini dapat dinikmati kalangan luas.

Peliput : Amirul

This website uses cookies.

This website uses cookies.

Exit mobile version