BAUBAU, BP- Meski populasinya sedikit, ternak sapi di Kota Baubau cukup menjanjikan. Di beberapa wilayah, justru menjadikan ternak sapi sebagai usaha utama.
Kabid Peternakan Dinas Pertanian Baubau drh Jusriati menyebut, peternak sapi terbanyak ada di Kecamatan Bungi, mengingat mayoritas penduduk di sana adalah transmigrasi.
“Terbesar itu di Kecamatan Bungi, karena di situ banyak penduduk trans, hampir setiap rumah mereka punya (sapi-red), baru kemudian Kecamatan Lea-Lea, Sorawolio, Wolio, dan Betoambari bagian Waborobo,” sebutnya.
Pun demikian, ada juga beberapa masyarakat perkotaan yang ikut berternak sapi. “Sebenarnya orang-orang di perkotaan banyak yang ingin (ternak sapi-red), tapi mereka pelihara di kebunnya masing-masing,” kata Jusriati.
Menurut dia, banyak kendala dalam berternak sapi, diantaranya adalah penyiapan area gembala yang luas, serta ancama pencurian. “Masalah juga saat ini adalah pencurian sapi,” tuturnya.
Saat ini, Pemerintah Kota (Pemkot) tengah menggenjot Program Upaya Khusus Sapi Wajib Bunting (Upsus Siwab) melalui Inseminasi Buatan (IB) dalam meningkatkan populasi sapi di Kota Baubau.
“Sekarang kan ada program Upsus Siwab untuk meningkatkan populasi sapi, tapi dengan melalui IB. Itu (Program Upsus Siwab-red) dari tahun 2017 programnya pak menteri, jadi sampai tahun depan kayanya masih,” jelas Jusriati.
Sejauh ini, lanjut dokter hewan itu, untuk memenuhi kebutuhan daging sapi masyarakat Baubau, Pemkot terpakasa mendatangkan daging dari luar daerah, yang masih diragukan kehigienisannya.
“Terus terang kita banyak disuplay impor (daging sapi-red) dari luar daerah, sedangkan daging dari luar daerah itu, ditakutkan tidak sehat,” pungkasnya. (*)
Peliput: Gustam

