F4.3 Wa Ode SorayaWa Ode Soraya

BAUBAU, BP- Tingginya angka kekerasan terhadap anak dan perempuan di Kota Baubau yang mencapai 58 kasus hingga bulan Oktober ini, menjadi perhatian khusus Pemerintah Kota (Pemkot).

Melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), Pemkot Baubau terus melakukan sosialisasi pencegahan kekerasan anak dan perempuan di beberapa sekolah di semua tingkatan SD, SMP dan SMA.

“Iya, kalau sosialisasi terus kita lakukan (di sekolah-red), kita memberikan edukasi (pencegahan kekerasan-red) kepada para siswa,” kata Kepala DP3A Baubau Wa Ode Soraya kepada Baubau Post via telpon.

Pemkot berkomitmen untuk meminimalisir tindak kriminalisasi anak dan perempuan di Baubau, mengingat kota yang berjuluk Negeri Khalifatul Khamis itu kini tengah menggenjot Kota Layak Anak (KLA) di tahun 2020 mendatang.

Sebelumnya, Wakil Walikota Baubau La Ode Ahmad Monianse kepada segenap awak media menyebut, tingginya angka kekerasan anak dan perempuan di Kota Baubau bukan salah satu ukuran atau hambatan dalam menggejot KLA.

Menurut orang nomor dua di Kota Baubau itu, tingginya angka kekerasan anak dan perempuan di Kota Baubau bisa jadi merupakan prestasi pemkot yang mampu mendorong para korban untuk tidak sungkan melaporkan diri.

“Saya kira tidak bisa mengukur Kota Layak Anak ini dari itu (angka kekerasan anak dan perempuan-red), tapi sebisa mungkin kita akan eliminir,” ucap Monianse.

Untuk diketahui, angka kekerasan anak dan perempuan di Kota Baubau tertinggi ketiga se Prov Sultra setelah Konawe Selatan dan Kendari. (*)

Peliput: Gustam

Visited 1 times, 1 visit(s) today