Site icon BAUBAUPOST.COM

Mengenal Ritual Ago-ago Tei, Oleh Masyarakat Boneatiro Kabupaten Buton

F2.3 Ritual Ago ago Tei oleh Masyarakat Boneatiro

Ritual Ago-ago Tei oleh Masyarakat Boneatiro

PASARWAJO, BP- Secara simbolis, Ritual Ago-ago Tei diartikan sebagai kegiatan ziara kubur, yang dilakukan setiap tahun oleh masyarakat Desa Boneatiro Kecamatan Kapuntori Kabupaten Buton, dalam rangka memperingari momentum acara tradisi kebudayaan “Pesta Nelayan”.

Pada prinsipnya, Ago-ago Tei merupakan wujud syukuran atas segala nikmat yang telah diberikan sang pencipta (Allah SWT) kepada masyarakat Boneatiro yakni nikmat rezeki, nikmat kesehatan, dan nikmat kekuatan. Kemudian, hasil dari nikmat yang diperoleh akan dituangkan dalam bentuk perayaan adat yang dikenal dengan istilah Pesta Nelayan. Tidak heran, mayoritas masyarakat lokal bermata pencaharian sebagai nelayan.

Untuk diketahui, ritual Ago-ago Tei telah dipercayai oleh masyarakat setempat sejak tahun 1971 dan sampai saat ini masih dilakukan. Konon, jika ritual ini diabaikan maka akan terjadi bencana, musibah, serta malapetaka yang menimpah Desa Boneatiro.

Dalam prosesi ritual Ago-ago Tei, sebelumnya para tokoh adat akan membacakan doa syukuran di tiga lokasi makan para leluhur yang dipercayai sebagai penjaga desa yakni makam La Balongka, makam La Pao, dan makan Raja Mulae atau Raja ke-5 Kerajaan Buton.

Ketua Tokoh Adat Desa Boneatiro H Harun saat ditemui Baubau Post usai melakukan ziara kubur di makan Raja Mulae, mengungkapkan bahwa prosesi ziara kubur yang dilakukan oleh para tokoh adat di tiga titik makan para leluhur tersebut diefesiensikan secara bersamaan. Artinya, ada tiga kelompok yang sengaja bagi guna memaksimalkan waktu dalam tempo bersamaan.

Harun menegaskan bahwa Ago-ago Tei bukanlah ritual meminta perlindungan kepada Jin dan Syetan. Pasalnya, doa yang dipanjatkan dengan penuh kepercayaan dan keyakinan ini terkhusus ditunjukan kepada sang khalik Allah SWT.

” Disamping kita mensyukuri rezeki yang diberikan oleh sang pencipta, juga mensyukuri kekuatan lahir dan batin, serta kita dijauhkan dari bencana dan malapetaka. Selalu kita minta keselamatan kepada Allah SWT, agar apa yang kita lakukan selalu disertai dengan kekuatan dan kesehatan serta diturunkan rezeki, utamanya di laut. Sebab, mayoritas masyarakat di Boniatiro bermata pencaharian di laut,” terangnya.

Kegiatan ini kemudian ditutup dengan pembacaan doa bersama dirumah Ketua Tokoh Adat, dan di hadiri oleh seluruh perangkat adat Desa Boneatiro. Tidak berhenti sampai disitu saja, karena kegiatan ini mengusung tema pesat nelayan, sehingga dipenghujung acaranya terdapat satu kegiatan serimonial penyempurnaan ritual Ago-ago Tei yaitu tradisi Pikande-kandea yang diikuti oleh seluruh masyarakat dan dilaksanakan di Galampa (Rumah Adat).

” Setalah kita dari Ziara kubur, nanti ditutup dengan pembacaan doa di rumah tokoh adat. Kemudian, kegiatan ini diakhiri dengan acara pikande-kandea, digalampa. Seluruh masyarakat diimbau untuk membawakan talang untuk masing-masing keluarga,” pungkasnya.

Ditambahkan, pada dasarnya ritual Ago-ago Tei dilaksanakan setiap pertengahan bulan Juli. Namun karena ada beberapa pertimbangan sehingga jadwalnya diundur pada bulan September, dan hal itu mulai akan diberlakukan pada tahun 2020 mendatang.

Peliput: Arianto W

This website uses cookies.

This website uses cookies.

Exit mobile version