F04.2 Suasana debat kandidat Bupati dan Wakil Bupati Buton Selatan empat paslon dengan moderator Prof La Sara Ph di Gedung Lamaindo Batauga 2 Suasana debat kandidat Bupati dan Wakil Bupati Buton Selatan, empat paslon dengan moderator Prof La Sara Ph, di Gedung Lamaindo, Batauga

– Debat Kandidat

Peliput: Amirul

BATAUGA, BP – Dalam debat kandidat Paslon Bupati Buton Selatan beberapa lalu, moderator bukan hanya mencecar pertanyaan untuk menguji wawasan, kebijakan maupun panajaman program serta langkah-langkah startegis para paslon untuk Kabupaten BOD Buton Selatan.

Tetapi pertanyaan panelis yang dibacakan moderator pada debat publik itu juga menyisir para calon Bupati/Wabub Buton Selatan bagaimana atau stategi apa untuk mencegah peredaran narkoba dan barang terlarang lainnya yang masuk di Buton Selatan.

Jawaban masing-masing kandidat calon Wabub Busel berbeda-beda sesuai dengan wawasan dan pengetahuan bagaimana melakukan pencegahan narkoba masuk di Busel sesuai pertanyaan yang disusun oleh Panelis.

Dipandu moderator Prof La Sara PhD soal isu narkoba, bahwa narkoba tidak lagi mengenal usia. Tua muda, pelajar, kaya miskin, bahkan pejabat bisa mengkonsumsi barang haram tersebut. Jadi bagaiamana strategi Paslon terhadap dampak pemberantasan peredaran narkoba?

Kesempatan pertama menjawab pertanyaan tersebut dari Cawabub Paslon nomor empat dari jalur independen yakni La Ode Agus. Ia menyatakan bahwa kebijakan yang akan dilakukan menurutnya yakni mensosialisikan kepada masyarakat, RT, RW tentang bahaya narkoba. Ia juga menyampaikan lebih mengedepankan langkah sosialisasi melalui pendidikan non formal dan mengingatkan tentang bahaya narkoba.

“Kami memberikan spesifikasi khsususnya anak muda memberikan pendidikan non formal terkait bahaya narkoba,” jawab La Ode Agus.

Prof La Sara mengingatkan waktu yang diberikan kepada Paslon ini, masih banyak untuk menyampaikan langkah kebijakan yang dilakukan namun tak lagi dimanfaatkan untuk menjawab.

Sementara itu Paslon nomor tiga La Ode Arusani menyatakan starateginya untuk mengatasi hal tersebut yang sudah terkena dampak peredaran narkotika. Dengan langkah yang akan dilakukan adalah mengatasi masalah narkoba dengan mensosialisasikan kepada masyarakat akan dampak barang haram itu. Ia juga akan meminta para guru untuk melakukan tes narkoba kepada siswa di sekolah.

“Sosialisasinya dari masyarakat, guru-guru mengadakan tes kepada muridnya. Intinya memekarkan saja Busel sudah bisa apalagi memberantas narkoba pasti bisa,” ujarnya.

Waktu yang diberikan Paslon ini juga masih tersisa cukup banyak untuk memberikan argumentasi, moderator Prof La Sara sudah mengingatkan sisa waktu untuk menjawab masih banyak kepada Cawabub La Ode Arusani namun tak lagi dimanfaatkan. “Pass,” kata Arusani.

Sementara itu menanggapi pernyataan yang sudah disusun panelis terkait letak geografis Busel yang berbatasan langsung dengan daerah lain di Sultra dan laut Flores, kodisi seperti ini tidak menutup kemungkinan masuknya barang-barang haram seperti narkoba melalui laut. Strategi apa yang dilakukan paslon untuk mencegah peredaran narkoba antara daerah.

Paslon Wabub Hasniwati menjelaskan Narkoba adalah hal yang membahaya untuk kehidupan manusia. Untuk itu paslon dua menyatakan akan berperang untuk menuntaskan peredaran narkoba.
“Kami kalau terpilih nanti disamping penyuluhan tentang dampak negatif narkoba bagi anak sekolah juga kami tidak memberikan izin untuk pendirian kafe-kafe remang-remang di Busel. Karena kafe-kafe itu merupakan gampang salah satu tempat peredaran narkoba dan miras,” ujarnya.

Ia juga mengaku akan bekerjasama dengan Polri untuk mencegah hal ini dengan baik, ada angkatan laut yang akan mengawasi masuknya narkoba melalui perdagangan laut, dan instansi lainnya.

Sedangkan Paslon nomor urut satu Wabub Busel Yasin Welson menjelaskan ada tiga cara mencegah masuknya narkoba dan barang-barang terlarang masuk di Busel, pertama melakukan koordinasi dengan aparat baik angkatan laut, angkatan darat, angkatan udara, kepolisian dan pihak Pelabuhan Pelindo serta beberapa pihak lainnya. Kemudian seluruh ASN harus diadakan musyawarah atau kordinasi untuk mencegah hal itu.

“Paling penting adalah memfungsikan kerja RT/RW atau kepala dusun itulah yang harus dicegah. Jika diperketat pengawasan insya Allah tidak akan masuk barang-barang seperti itu. Disamping itu juga harus dimulai diri sendiri, bagaimana menjaga moral, etika dan menjadi pribadi-pribadi pemimpin itu sebab kehilangan idola dinegeri kita ini, kehoilangan figur untuk didengarkan perkataanya didengarkan kepemimpinanya,” tutupnya.(*)

Visited 2 times, 1 visit(s) today