199541320 2885822701731895 5626477459265826299 nKetua DPD RI La Nyala ketika berkunjung di Kota Baubau

Laporan Prasetyo M

BAUBAU, BP-Ketua DPD RI Ir La Nyalla Mattalitti saat malam ramah tamah Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Gubernur Sultra dan Sekjend MAKN, Kamis malam (17/6/2021), di rujab Wali Kota Baubau, mengatakan kalau dulu orang menyebut nama pulau Buton pasti orang akan menyebutkan aspal buton sebab memang di tempat ini, aspal buton ditaksir dapat melayani aspal nasional. Dan tahun 2024 merupakan tahun penting bagi aspal buton. Karena aspal buton akan genap berusia 100 tahun atau 1 abad.

Namun demikian, pertanyaannya sekarang ini apakah kita akan bersuka cita dalam menyambut 1 abad spal buton atau justru bersedih karena pemerintah belum mampu mendayagunakan anugerah Tuhan ini dengan maksimal dan optimal dan kemajuan bangsa dan negara ini.

199541320 2885822701731895 5626477459265826299 n
Ketua DPD RI La Nyala ketika berkunjung di Kota Baubau

Menurut La Nyalla, pemerintah terus membangun infrastruktur jalan tanpa menggunakan aspal Buton. Dengan segudang alasan, termasuk dengan tidak apresiasinya aspal buton. Sehingga lebih baik, pemerintah melakukan impor aspal minyak. Upaya-upaya pemerintah dalam mencari solusi untuk menyelesaikan permasalahan aspal Buton, pada saat ini masih kurang tepat sasaran dan tidak menyentuh dinding subtansi dari permasalahan sebenarnya, sebagaimana dirilis Kominfo Baubau

Yang selalu menjadi perhatian pemerintah adalah bagaimana mengoptimalkan produksi aspal Buton untuk mengurangi impol aspal minyak. Pada saat ini produksi aspal buton dalam bentuk reguler, adalah tidak lebih dari 7000 ton per tahun. Sedangkan kebutuhan aspal nasional adalah 1,5 juta ton. Dimana lebih dari 1 juta ton per tahun masih harus dipenuhi dari aspal minyak impor. Dan kalaupun sekarang ini, pemerintah berhasil mengupayakan untuk mengoptimalkan produksi aspal buton reguler dari 70.000 ton pertahun menjadi 350.000 ton pertahun. Maka tetap saja, Indonesia masih akan harus mengimpor aspal minyak sebesar 650.000 ton pertahun.

La Nyalla mengakui, pemerintah bisa mengurangi sebagian impor aspal minyak dari 1 juta ton pertahun menjadi 650.000 ton pertahun. Tetapi upaya-upaya ini masih kurang tepat sasaran, dan tidak menyentuh inti subtansi dari permasalahan aspal Buton yang sebenarnya.
Karena kenyataannya, masih akan tetap saja harus terus menerus menjadi impor team aspal minyak. “Kita masih belum mampu, berswa sembada aspal. Dan aspal Buton pun masuh belum mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Tahun 2024, di mana menjadi tahun bersejarah aspal Buton. Sudah seharusnya menjadi tonggak nasionalisme kita sebagai bangsa Indonesia, dengan menjadikan aspal Buton sebagai pengganti aspal minyak impor. Hal itu seharusnya, bisa dilakukan dengan misi besar kita sebagai sebuah bangsa yang besar terutama dengan cadangan deposit aspal Buton yang sangat berlimpah dan mampu menggantikan aspal minyak impor sebanyak 1 juta ton pertahun,”ujarnya.

Ditambahkan, untuk menggantikan aspal minyak impor 1 toh pertahun, aspal Buton harus diproses terlebih dahulu menjadi aspal buton full ekstasi. Teknologi untuk melakukan proses ektasi secara handal dan ekonomis, sekarang ini sudah ada dengan ansumsi kandungan bitumen, rata-rata adalah 20%. Karena itu, untuk menghasilkan aspal Buton fulk ekstasi, sejumlah 1juta ton pertahun diperlukan bahan baku sebanyak 5 juta ton pertahun.

Dengan mengetahui inti permasalahan aspal Buton yang sebenarnya, maka pemerintah harus mengupayakan langka-langkah strategis sebagai yakni, pertama, pemerintah harus membuat road map untuk mampu menggantikan 1 juta ton pertahun aspal minyak impor dengan 1 juta pertahun aspal Buton ful ekstasi dalam kurun waktu 10 tahun. Kedua, Pemerintah harus melakukan assessment dan pengkajian yang mendalam terhadap kehandalan dan perekonomian dari teknologi ekstasi. Ketiga, Pemerintah harus menunjuk sebuah BUMN atau BUMD, untuk segera membangun pabrik ekstasi Aspal Buton. Keempat, Pemerintah harus melakukan penataan ulang piur2 untuk mendukung penyediaan bahan baku 5 juta ton pertahun dalam kurun waktu 10 tahun kedepan. Kelima, Pemerintah harus menghentikan impor aspal Minyak dan menggantikannya dengan aspal Buton full ektasi secara bertahap apalagi tahun 2024, tidak akan lama lagi.

Oleh karena itu, pemerintah harus segera memberikan langkah-langkah konkrit, praktis, dan strategis agar sesuatunya dapat berjalan sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan dalam road map.

Lebih lanjut dijelaskan, permasalahan lain yang perlu dibenahi masih cukup banyak, dan bervariasi namun dengan adanya acuan road map untuk kurun waktu 10 tahun ke depan, maka segala sesuatunya akan dapat dikelola dengan baik dan berharap terutama hal-hal yang berkaitan dengan masalah-masalah kawasan ekonomi khusus investasi, infrastruktur,terbukanya lapangan kerja baru, keselamatan kerja, dan lingkungan hidup.

“Dan pada tahun 2024, saat kita memperingati 1 abad aspal Buton, pabrik ekstrasi aspal Buton harus sudah selesai dibangun, pabrik sudah harus dapat beroperasi dan berproduksi secara optimal, produk akhir yang akan dihasilkan adalah aspal Buton full ekstrasi, penetrasi 60-70 yang mampu menyajikan aspal minyak impor. Saya yakin pemerintah dan masyarakat Buton mampu mendorong terwujudnya cita-cita besar tersebut dengan momentum 1 abad aspal Buton.
Apalagi masyarakat Buton adalah keturunan dari para resi yang disebut oleh Abu prabaja dalam kitab negara Kertagama sebagai negeri keresian atau tempat tinggal para resi. Sehingga tidak heran, bila di sini banyak sekali warisan leluhur yang ditinggalkan, seperti naskah kuno, kuburan raja dan sultan, benteng pertahanan Buton, masjid dan meriam-meriam tua.

baca juga: DPD RI Gelar Raker Pengawasan dan Penyaluran Bantuan UMKM dan Pembiayaan 2021

La Nyalla juga berkesempatan melaksanakan shalat Jumat di masjid agung keraton Buton dan usai shalat Jumat meninjau istana Sultan Buton Kamali Baadia yang merupakan tempat tinggal Sultan Buton Jumat siang (18/6/2021). Saat kunjungan ke Kamali Baadia, La Nyalla bersama anggota DPD RI lainnya yakni Drs H MZ Amirul Tamim,M.Si, Selvi dan Andi Nirwana diterima Sultan Buton ke-40 dr H La Ode Izat Manarfa dan perangkatnya. Turut pula Wali Kota Baubau Dr H AS Tamrin, MH, Sekda Kota Baubau Dr Roni Muhtar, M.Pd.(***)