F01.1 2

Peliput: Hengki TA

BAUBAU, BP – Sultan Buton ke 40 La Ode Muhammad Izat Manarfa, menganugerahi gelar adat dan budaya kepada Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo (Jokowi), dengan gelar La Ode Muhammad Joko Widodo Lakina Bhawaangi Yi Nusantara.

Penyematan gelar tersebut, ditandai dengan pemberian Tongkat dan songkok Maulana oleh Bontona Siompu di Baruga Keraton, Selasa (27/09/2022). Dengan gelar tersebut Jokowi resmi dinobatkan sebagai warga, kerabat serta sesepuh Kesultanan Buton.

F01.1 2

Dalam arti La, merupakan ungkapan atau panggilan yang diberikan kepada nama laki-laki orang Buton, Ode pujian atau sanjungan yang diberikan kepada seseorang. Diberikan karena memiliki kharisma atau sifat-sifat yang mulia. Kemudian, Lakina dalam perspektif kearifan lokal Buton adalah jabatan, pimpinan dalam sebuah kadie atau digeneralisir lagi sebagai sebuah wilayah, daerah atau negara.

Bhawangi, batas wilayah atau ruang lingkup kerja. Misalnya Bhawangi di Indonesia, maka ruang lingkupnya dalam kewenangannya di Indonesia atau Nusantara. Tangungjawab untuk mengelola semua potensi, sumber daya ada pada wilayah itu. Sedangkan Nusantara, dari perkataan atau Bahasa Kawi dipengaruhi oleh Bahasa Sansekerta. Nusa artinya pula, antara berarti luas.

Sehingga, La Ode Muhammad Joko Widodo, artinya seorang laki-laki yang memiliki sikap dan prilaku yang mulia dalam kacamata sebagai pimpinan. Siang, malam berpikir untuk kesejahteraan dan kemakmuran warga atau rakyat yang dipimpinnya.

Dalam sambutannya, Presiden Jokowi mengucapakan terimakasi kepada Sultan Buton ke 40 La Ode Muhammad Izat Manarfa, Gubernur Sultra Ali Mazi, Wali Kota Baubau La Ode Ahmad Monianse dan jajaran lembaga adat atas anugrah yang diberikan.

Ditambah, La Ode Muhammad Joko Widodo sangat takjub dengan cara masyarakat Buton dalam berkepribadian dalam berkebudayaan, meskipun moderenisasi dan budaya asing yang terus gerogoti budaya-budaya.

baca juga: Taman BRI di Pusat Kota Baubau Akan di Manfaatkan Pelaku UMKM

“Saya menghargai, dipeliharanya adat, tradisi dirawatnya kearifan lokal, di Kesultanan Buton ini, meskipun daya asing, yang terus gerogoti budaya-budaya kita, tetapi saya melihat adat, budaya, tradisi kearifan lokal, tatakrama tetap dipelihara di Kesultanan Buton ini,” ungkapnya.(*)