BAUBAU, BP – Upaya memperkuat pelayanan publik di tingkat lingkungan kembali ditegaskan Pemerintah Kota Baubau dengan dikukuhkannya 738 Ketua RT dan RW untuk masa bakti 2026–2028. Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat di halaman Kantor Wali Kota Baubau, Senin sore (9/2/2026), dan menjadi momentum penting bagi perangkat lingkungan sebagai garda terdepan pemerintahan. “Wali Kota Baubau H Yusran Fahim Nilai RT/RW Adalah Fondasi Harmoni Masyarakat,”

Pengukuhan tersebut dipimpin langsung oleh Wali Kota Baubau, H. Yusran Fahim, SE. Dalam kegiatan itu, tercatat sebanyak 569 Ketua RT dan 169 Ketua RW menerima amanah baru untuk melanjutkan pengabdian kepada masyarakat.
Dalam arahannya, Yusran Fahim menegaskan bahwa tugas RT dan RW tidak hanya sebatas formalitas administratif. Ia menyebut bahwa keberadaan pengurus lingkungan merupakan fondasi stabilitas sosial yang harus dijaga bersama. “RT dan RW adalah ujung tombak pelayanan publik. Mereka punya peran strategis dalam menjaga harmoni masyarakat,” ujarnya.
Penegasan tersebut mencerminkan pentingnya kolaborasi pemerintahan modern yang semakin menuntut kehadiran figur-figur lingkungan yang responsif. Wali Kota menekankan pentingnya keikhlasan dan integritas dalam menjalankan amanah. “Jabatan ini bukan untuk mencari keuntungan pribadi, tetapi untuk melayani,” tegasnya.
Di sisi lain, Yusran mendorong seluruh Ketua RT dan RW untuk memperkuat hubungan kerja dengan para Lurah dan Camat. Koordinasi yang solid dinilai menjadi kunci penyelesaian persoalan warga, terutama melalui pendekatan kekeluargaan yang selama ini menjadi karakter masyarakat Baubau.
Prosesi tersebut bukan hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan efektivitas layanan dasar. Hal ini selaras dengan tren global di mana pemerintahan lokal menjadi instrumen kunci pembangunan, sebagaimana dipraktikkan di berbagai kota dunia seperti Seoul dan Singapura yang berhasil meningkatkan kualitas layanan melalui penguatan struktur lingkungan.
Secara historis, peran RT dan RW di Indonesia telah berkembang sejak masa pascakemerdekaan ketika pemerintah membutuhkan struktur sosial yang mampu mendistribusikan layanan dan informasi secara cepat. Model ini kemudian menjadi instrumen penting dalam pembangunan komunitas, termasuk dalam program nasional seperti sensus, posyandu, hingga penanganan pandemi COVID-19.
Dalam konteks internasional, pola pengelolaan organisasi lingkungan juga dapat ditemukan pada sistem “neighborhood councils” di Amerika Serikat atau “community committees” di beberapa negara Skandinavia yang terbukti efektif memperkuat demokrasi lokal dan pelayanan publik.
baca juga:
- 738 RT/RW Se-Kota Baubau Dikukuhkan, Wali Kota H Yusran Fahim Sebut Mereka Ujung Tombak
- MPP Baubau Sepi Pengunjung, DPMPTSP Evaluasi Akses dan Opsi Relokasi
Yusran Fahim pun menyinggung pentingnya adaptasi teknologi di era digital. Ia mendorong RT dan RW untuk mulai memanfaatkan aplikasi layanan warga, sistem pelaporan cepat, dan media komunikasi digital. “Di era sekarang, pelayanan harus cepat, tepat, dan transparan. Teknologi adalah jembatan untuk mencapai itu,” katanya.
Selain inovasi digital, Wali Kota juga mengajak seluruh perangkat lingkungan memperkuat nilai gotong royong sebagai identitas budaya Baubau yang kini diarahkan menuju visi kota yang Ramah, Cerdas, Sejahtera, dan Bermartabat.
Dengan pengukuhan tersebut, Pemerintah Kota Baubau berharap sinergi antara pemerintah, RT/RW, dan masyarakat menjadi semakin kuat untuk menyelesaikan berbagai tantangan sosial serta mempercepat terwujudnya pemerintahan yang inklusif.
Wali Kota menutup sambutannya dengan seruan optimistis agar seluruh Ketua RT dan RW memulai masa bakti mereka dengan semangat pengabdian. “Mari jadikan momentum ini sebagai awal pengabdian yang lebih baik dan penuh dedikasi,” pungkasnya.(*)
baca berita lainnya:
Dr Moh Tasdik Sebut Pemkot Baubau Bekali Purna Paskibraka Nilai Kebangsaan dan Persatuan

Penguatan wawasan kebangsaan tersebut digelar sebagai upaya menjaga semangat persatuan di tengah pesatnya arus globalisasi. Tantangan zaman dinilai membutuhkan generasi muda yang tidak hanya disiplin, tetapi juga memiliki pemahaman kuat tentang identitas bangsa.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pembinaan berkelanjutan Pemkot Baubau kepada para Purna Paskibraka, mengingat peran strategis mereka sebagai simbol keteladanan di lingkungan sosial masing-masing.
Mantan Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga, Muhammad Tasdik, yang mewakili Wali Kota Baubau Yusran Fahim, menekankan bahwa pembinaan wawasan kebangsaan menjadi fondasi penting untuk membangun masyarakat yang berkarakter. “Wawasan kebangsaan akan membentuk pemahaman generasi muda tentang sejarah, budaya bangsa, serta nilai toleransi,” ujar Tasdik.
Ia mengatakan, Paskibraka sejak dahulu dikenal sebagai representasi kedisiplinan. Menurutnya, nilai itu perlu terus dipertahankan agar tidak luntur ditelan perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang semakin cepat.
“Paskibraka adalah simbol kedisiplinan dan keteladanan, sehingga keberadaannya diharapkan mampu memperkuat rasa cinta tanah air,” ucapnya. Tasdik juga menegaskan bahwa para Purna Paskibraka harus mampu menjadi motivator bagi masyarakat di sekitarnya.
Dalam kesempatan itu, Tasdik mengingatkan pentingnya regenerasi karakter kebangsaan melalui jalur kepemudaan. Ia menyampaikan bahwa pembinaan ini tidak hanya seremonial, tetapi bagian dari investasi jangka panjang bagi masa depan daerah.
Menurut Tasdik, setiap anggota Purna Paskibraka memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan. “Purna Paskibraka harus menjadi penggerak semangat kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” katanya.
Sosialisasi tersebut juga menyoroti pentingnya sejarah nasional sebagai pijakan utama dalam membangun jati diri generasi penerus. Nilai perjuangan bangsa yang diwariskan sejak era Proklamasi 1945 ditegaskan kembali agar tetap relevan dalam pembentukan karakter generasi muda.
Secara historis, penguatan wawasan kebangsaan telah menjadi salah satu strategi banyak negara dalam menjaga stabilitas nasional. Amerika Serikat, misalnya, memiliki program citizenship education sejak awal abad ke-20 untuk menanamkan nilai patriotisme. Jepang juga memasukkan pendidikan moral dan kebangsaan dalam kurikulum pascaperang untuk memperkuat identitas nasional.
Di Indonesia sendiri, program serupa telah dilakukan sejak masa Orde Baru melalui Pendidikan Moral Pancasila (PMP), kemudian berkembang menjadi Pendidikan Kewarganegaraan di era reformasi. Pembentukan Paskibraka yang dimulai pada tahun 1946 juga menjadi bagian dari sejarah pembinaan kedisiplinan generasi muda.
baca juga:
- DPMPTSP Evaluasi MPP Baubau yang Sepi, Akses Dinilai Jadi Kendala Utama
- DPMPTSP Baubau Pastikan Izin Ruang Laut Bukan Ranah Daerah, Semua Kendali Pusat
Kegiatan di Baubau ini menjadi lanjutan dari tradisi panjang pembentukan karakter bangsa tersebut. Pemkot berharap agar sosialisasi ini dapat membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh dalam menjaga jati diri bangsa.
Tasdik menutup kegiatan tersebut dengan ajakan kepada seluruh peserta agar tetap konsisten menjaga nilai persatuan. “Kami sangat menyambut baik kegiatan ini sebagai langkah memperkuat nasionalisme generasi muda,” ujarnya.(*)

