PAGI di MTsN 1 Konawe Selatan itu tidak sepenuhnya biasa. Udara terasa segar, namun ada sesuatu yang lebih dari sekadar rutinitas sekolah. Di halaman yang telah disiapkan, para siswa berdiri berbaris, sebagian memegang bibit pohon, sebagian lagi hanya memperhatikan dengan rasa ingin tahu. “Menanam Pohon, Menyemai Janji: Ujian Nyata Gerakan Hijau dan Sekolah Aman di Sultra,”

Di antara mereka, para guru, pejabat daerah, dan tokoh masyarakat berkumpul dalam satu ruang. Sebuah tombol digital ditekan, disusul tepuk tangan yang menggema. Program Go Green Kemenag Sultra Action resmi diluncurkan, bersamaan dengan Deklarasi Madrasah dan Pondok Pesantren Aman, Nyaman, dan Menyenangkan.
Namun bagi sebagian orang, momen itu bukan sekadar seremoni. Ia adalah jawaban—atau setidaknya upaya menjawab—dua kegelisahan besar yang perlahan menjadi nyata: kerusakan lingkungan dan rapuhnya rasa aman di dunia pendidikan.
Bibit-bibit pohon mulai ditanam. Tanah yang digali menjadi saksi awal sebuah harapan. Sebanyak 22.463 pohon akan ditanam secara serentak di berbagai wilayah Sulawesi Tenggara. Angka yang besar, tetapi sekaligus mengandung pertanyaan yang lebih besar: apakah semua itu akan tumbuh?
Di tingkat global, dunia telah lama menyadari ancaman krisis lingkungan. Sejak disepakatinya Paris Agreement, negara-negara didorong untuk menekan emisi karbon dan menjaga keseimbangan bumi. Indonesia, sebagai salah satu negara dengan hutan tropis terbesar, memikul tanggung jawab yang tidak kecil.
Namun realitas di lapangan sering kali berbeda. Deforestasi, perubahan cuaca ekstrem, dan bencana ekologis terus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Di Sulawesi Tenggara, dampaknya mulai terasa—banjir, panas yang semakin menyengat, dan lingkungan yang perlahan berubah.
Di tengah kondisi itu, gerakan menanam pohon menjadi simbol sederhana dari perlawanan. Ia mungkin kecil, tetapi bukan tanpa makna.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Tenggara, Muhamad Saleh, berdiri di hadapan peserta dengan nada suara yang tegas. Ia tahu bahwa program seperti ini sering kali dipandang sebagai formalitas.
“Ini bukan sekadar seremoni, tetapi gerakan nyata yang harus kita jalankan bersama,” ujarnya, Sabtu 15 Februari 2025
Pernyataan itu terdengar seperti pengingat. Bahwa yang paling sulit bukan memulai, melainkan menjaga agar gerakan itu tetap hidup.
Namun persoalan yang dihadapi tidak berhenti pada lingkungan. Ada kegelisahan lain yang tak kalah mendesak—keamanan anak-anak di sekolah.
Kasus perundungan, kekerasan, hingga pelecehan seksual menjadi bayang-bayang yang semakin sering muncul dalam pemberitaan. Sekolah, yang seharusnya menjadi ruang aman, terkadang justru menjadi tempat di mana luka itu bermula.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Laporan UNESCO mencatat bahwa jutaan pelajar di dunia pernah mengalami kekerasan di lingkungan pendidikan. Angka yang besar, dan mungkin lebih besar dari yang tercatat.
Di Konawe Selatan, deklarasi madrasah aman menjadi respons atas kenyataan tersebut. Sebuah komitmen untuk menciptakan ruang belajar yang tidak hanya mendidik, tetapi juga melindungi.
“Madrasah harus menjadi tempat yang ramah, aman, dan menyenangkan,” kata Saleh.
Namun seperti halnya menanam pohon, membangun lingkungan pendidikan yang aman juga bukan pekerjaan instan. Ia membutuhkan waktu, konsistensi, dan keterlibatan banyak pihak.
Di era digital, tantangan itu bahkan semakin kompleks. Perundungan tidak lagi terbatas pada ruang kelas. Ia berpindah ke layar ponsel, ke media sosial, ke ruang-ruang yang sering kali luput dari pengawasan.
Karena itu, solusi tidak bisa hanya berhenti pada deklarasi. Dibutuhkan penguatan literasi digital, pendidikan karakter, serta peran aktif guru, orang tua, dan masyarakat.
Di tengah keramaian acara, seorang siswa tampak menanam pohon dengan hati-hati. Tangannya kotor oleh tanah, tetapi wajahnya terlihat serius. Ia mungkin tidak memahami sepenuhnya tentang krisis iklim atau kebijakan pendidikan. Namun apa yang dilakukannya hari itu adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Pohon yang ia tanam mungkin baru akan tumbuh bertahun-tahun kemudian. Ia akan membutuhkan air, perawatan, dan perlindungan. Sama seperti harapan yang kini sedang dibangun.
Gerakan ini memang tidak menjanjikan hasil instan. Tidak ada jaminan bahwa semua pohon akan hidup. Tidak ada kepastian bahwa semua sekolah akan benar-benar bebas dari kekerasan. Namun setiap perubahan selalu dimulai dari langkah kecil.
Dari tanah yang digali di Konawe Selatan, dari bibit yang ditanam oleh tangan-tangan muda, dari komitmen yang diucapkan di hadapan banyak orang. Di sanalah harapan itu mulai berakar.
Dan seperti pohon yang tumbuh perlahan, masa depan yang lebih hijau dan lebih aman juga membutuhkan waktu—serta kesediaan untuk terus merawatnya, bahkan ketika sorotan telah beralih ke tempat lain.(*)



