WAKATOBI, BAUBAUPOST.COM — Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka, menyerukan penguatan kepedulian sosial dan kolaborasi lintas sektor dalam pembangunan daerah saat melaksanakan Safari Ramadan di Wakatobi, Kamis (12/3/2026), yang dirangkaikan dengan penyaluran bantuan kepada masyarakat. “Di Wakatobi, Gubernur Sultra Ajak Perkuat Kepedulian Sosial dan Kolaborasi Pembangunan,”

Dalam kegiatan tersebut, Gubernur menyerahkan bantuan Pasang Baru Listrik (PBL) kepada 93 rumah tangga tidak mampu serta menyalurkan 150 paket sembako sebagai bentuk kepedulian terhadap warga di bulan suci Ramadan.
Ia menegaskan bahwa kepedulian sosial harus diwujudkan secara nyata melalui aksi berbagi dan dukungan terhadap masyarakat kurang mampu, terutama di tengah dinamika ekonomi yang dihadapi daerah.
“Dalam setiap harta yang kita miliki terdapat hak saudara-saudara kita yang membutuhkan. Karena itu, zakat, infak, dan sedekah harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujar Andi Sumangerukka dalam ceramahnya.
Safari Ramadan tersebut juga diisi dengan salat Tarawih berjamaah bersama masyarakat, yang menjadi momentum mempererat hubungan antara pemerintah dan warga.
Sebelumnya, kegiatan diawali dengan buka puasa bersama Bupati dan Wakil Bupati Wakatobi serta jajaran pemerintah daerah sebagai bagian dari upaya membangun harmonisasi antar pemangku kepentingan.
Dalam sambutannya, Gubernur menekankan bahwa Ramadan merupakan momentum strategis untuk memperkuat nilai kejujuran, keikhlasan, dan kesabaran, tidak hanya dalam kehidupan pribadi tetapi juga dalam menjalankan tugas pemerintahan.
“Ibadah puasa bukan hanya berdimensi spiritual, tetapi juga membentuk karakter dan integritas dalam menghadapi tantangan pembangunan,” katanya.
Ia menambahkan, keberhasilan pembangunan daerah tidak dapat dicapai tanpa adanya sinergi dan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan.
“Harmonisasi dan kolaborasi adalah kunci agar program pembangunan berjalan optimal dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dalam ceramahnya, Gubernur juga mengutip kisah Nabi Musa AS yang diriwayatkan oleh Al-Ghazali dalam kitab Mukasyafatul Qulub, yang menekankan pentingnya amal sosial sebagai bentuk kecintaan kepada sesama.
Secara historis, tradisi Safari Ramadan oleh kepala daerah di Indonesia telah berkembang sejak era Orde Baru hingga Reformasi sebagai sarana mendekatkan pemerintah dengan masyarakat, sekaligus memperkuat legitimasi sosial melalui pendekatan keagamaan.
Di tingkat nasional, praktik penguatan kepedulian sosial melalui zakat dan sedekah juga terus didorong oleh Badan Amil Zakat Nasional sebagai bagian dari strategi pengentasan kemiskinan berbasis filantropi Islam.
Sementara itu, secara global, Ramadan dikenal sebagai periode peningkatan aktivitas filantropi di berbagai negara Muslim, termasuk di Timur Tengah dan Asia Selatan, di mana lembaga kemanusiaan internasional mencatat lonjakan donasi untuk membantu kelompok rentan.
Gubernur berharap nilai-nilai kepedulian sosial yang diperkuat selama Ramadan dapat menjadi energi kolektif dalam mendorong pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan di Sulawesi Tenggara.
baca juga:
- Pemilik Restoran, Rumah Makan, dan Komunitas Kuliner di Wakatobi Diberi Pelatihan Peningkatan…
- Dinas Pariwisata Provinsi Sultra Sukses Gelar Pelatihan Kriya Batik di Wakatobi, Peserta Terbaik Difasilitasi Dapatkan HAKI dari Kemenkumham RI
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan Ramadan sebagai titik awal perubahan menuju kehidupan sosial yang lebih adil dan berkeadaban.
“Kita jadikan Ramadan sebagai momentum memperbaiki diri dan memperkuat kebersamaan dalam membangun daerah,” tuturnya.
Melalui kegiatan tersebut, pemerintah daerah berupaya memastikan bahwa pembangunan tidak hanya berorientasi pada infrastruktur, tetapi juga pada penguatan nilai sosial dan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. (*)
baca berita lainnya:
Dinas Pariwisata Provinsi Sultra Sukses Gelar Pelatihan Kriya Batik di Wakatobi
Pelatih Kriya Batik Arie Tourisno Hadi: Peserta Di Wakatobi Sudah Punya Basic Tenun Dan Mampu Mengartikan Filosofi Motif Batik Yang Dilukis
WAKATOBI, BP- Sedikitnya ada 40 orang pelaku usaha kreatif di Wakatobi terlibat dalam Pelatihan Inovasi dan Kreasi Bagi Sumber Daya Manusia Ekonomi Kreatif Sub Sektor Kriya Batik di Kabupaten Wakatobi. “Dinas Pariwisata Provinsi Sultra Sukses Gelar Pelatihan Kriya Batik di Wakatobi.”
Pelatihan ini diinisiasi oleh Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tenggara yang berkolaborasi dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Wakatobi, berlangsung selama tiga hari terhitung sejak tanggal 24-26 Oktober 2023, di Patuno Resort Wakatobi.

Kegiatan ini menghadirkan dua pemateri yaitu dosen Jurusan Tradisi Lisan Fakultas Ilmu Budaya UHO, Arie Toursino Hadi, M.Hum . yang fokus memberikan pelatihan menggunakan canting dan mendesain gambar, dan pemateri lainnya Widhyasmaramurti, S.S., M.A., dosen Jurusan Sastra Jawa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia yang fokus memberikan pelatihan pewarnaan kain menjadi batik.
Kabid Pengembangan Sumber Daya Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara, Sri Resqina Ruspian Laydi, S.I.P., M.Si. mengatakan kegiatan itu bertujuan antara lain mengenalkan seni batik tulis dan teknik pembuatannya kepada sumber daya manusia ekonomi kreatif sub sektor kriya dan meningkatan pengetahuan dan keterampilan sumber daya manusia ekonomi kreatif sub sektor kriya yang berkualitas dan berdaya saing.
“Selain itu, kegiatan ini juga mendorong pengembangan produk batik tulis yang inovatif, kreatif dan sesuai dengan permintaan pasar dan menciptakan peluang sumber pendapatan bagi sumber daya manusia ekonomi sub sektor kriya melalui peningkatan produktivitas dan nilai produk batik tulis.
Dia pun mejelaskan kegiatan yang mengangkat tema kriya batik, menjadi salah satu wadah masyarakat Wakatobi yang memiliki komunitas kriya untuk dilestarikan.
“Di Wakatobi ada komunitas kriya, ada pengrajin tenun, pembuat produk-produk berbahan anyaman, namun pembuatan tenun butuh waktu lama dan pemasaran mahal. Nah, ini batik pembuatannya tidak memakan waktu cukup lama dan yang paling penting harganya bisa menjangkau semua kalangan terutama menengah kebawah,” jelas Sri Resqina ketika diwawancara Baubau Post, Kamis (26/10/2023)

Selain itu, lanjutnya, sebagai bentuk pengembangan peningkatan pengetahuan bagi masyarakat pelaku usaha ekonomi kreatif pada sub sektor kriya, khususnya kriya batik sehingga ke depannya Kabupaten Wakatobi bukan hanya dikenal dengan destinasi wisatanya saja, akan tetapi juga menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat maupun daerah.
Pelatih Kriya Batik Arie Toursino Hadi pun sangat mengapresiasi kegiatan tersebut dan juga peserta yang ikut terlibat yang rata-rata sudah berlatar belakang pelaku usaha. Ada yang bekerja sebagai designer, ada sebagai penenun dan juga ada yang sudah memiliki basic seni.
“Sehingga ketika kita memperkenalkan dan mengajarkan cara membatik, peserta sudah tahu apa yang mesti mereka buat. Misalnya bagaimana membuat batik dengan motif-motif yang cocok bertemakan Wakatobi. Tahu mengartikan filosofi tentang makna motif yang dibuat,” tuturnya, ketika diwawancara, Jumat (27/10/2023).
Arie Toursino Hadi mencontohkan kalau peserta membuat motif terumbu karang atau ikan itu mereka sudah tahu makna filosofinya. Bahkan ada peserta yang membuat mercusuar. “Pokoknya hasil membatik peserta itu unik-unik sehingga saya sesungguhnya berada dalam kelas pelatihan ini belajar lagi. Mereka menginspirasi saya,” lanjutnya.
Dosen Tradisi Lisan UHO itu pun menggambarkan potensi kriya batik di Wakatobi dapat berkembang dari yang awalnya peserta sudah punya basic membuat tenun jadinya dengan adanya pelatihan ini mereka bisa memilih untuk membatik.
“Karena disamping harga batik ini lebih murah dari tenun, pemilihan kain batik lebih tipis dibanding tenun yang bisa dibuat jadi sarung atau selendang. Membatik itu ekspresionis tergantung tangannya ahli menggambar atau melukis. Jadi bisa buat tenun ala Wakatobi dan menjadi souvenir dan oleh-oleh Wakatobi,” tuturnya.

Arie Toursino Hadi mengatakan karya seni membatik bisa diaplikasikan di daerah mana saja di Sultra. Hanya saja ada kendala atau kesulitan yang dihadapi yaitu peralatan membatiknya masih harus didatangkan dari pulau Jawa.
“Yang susah itu alat cantingnya dan malamnya atau waksnya (lilin). Kalau pewarnanya, penenun itu mereka sudah punya. Akan tetapi sebenarnya ada jalan keluarnya yaitu bisa membeli alat cantingnya lalu ada UMKM yang bisa meniru alat cantingnya untuk dibuatkan. Kalau ini bisa diatasi maka bisa mengurangi biaya produksi kriya batik,” tuturnya.
Sementara itu, Sarman Samara, seorang peserta sekaligus Ketua Masyarakat Sadar Wisata (MASATA) Wakatobi mengucapkan terimakasih kepada Dispar Sultra yang sudah memilih Wakatobi untuk membuat pelatihan tersebut dan berkolaborasi dengan Dispar Wakatobi untuk memajukan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
baca juga:
IPM Berada Pada Posisi 4 Nasional Jadi kado HUT ke 192 Kota Kendari
Pemilik Restoran, Rumah Makan, dan Komunitas Kuliner di Wakatobi Diberi Pelatihan Peningkatan Inovasi dan Higienitas Sajian Kuliner Oleh Dispar Sultra
“Harapan kami juga kepada Pemda Wakatobi, pada dinas terkait untuk melanjutkan membuat pelatihan membatik ini secara periodik sehingga batik sebagai budaya Indonesia telah diakui oleh dunia internasional, bisa menjadi sarana melestarikan budaya juga sarana untuk mempromosikan potensi budaya dan potensi pariwisata Wakatobi,” harap Sarman
Sebagai peserta tentu sangat mengapresiasi para narasumber kompeten yang telah turun menyampaikan materi yang sangat relevan dengan kebutuhan para komunitas pegiat seni dalam menenun, membatik dan menganyam.
Diakhir kegiatan ini, peserta dengan karya desain batik terbaik difasilitasi untuk mendapatkan HAKI dari Kemenkumham RI.(*)


