BAUBAU, BAUBAUPOST.COM – Upaya meningkatkan kesiapsiagaan bencana sejak usia dini terus digencarkan oleh Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kota Baubau melalui program Tagana Masuk Sekolah (TMS) yang dilaksanakan di sejumlah sekolah menengah. “Tagana Edukasi Mitigasi Bencana ke Siswa di Baubau Lewat Program TMS,”

Kegiatan tersebut menyasar siswa dan tenaga pendidik di SMPN 18 dan SMAN 5 Baubau. Puluhan peserta mendapatkan edukasi praktis terkait langkah-langkah melindungi diri saat terjadi bencana.
Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Baubau, Dra Hj Amalia, M.Si, mengungkapkan bahwa program ini merupakan bagian dari upaya strategis dalam membangun budaya sadar bencana di lingkungan pendidikan.
Menurutnya, program Tagana Masuk Sekolah merupakan hasil sinergi antara Kementerian Sosial Republik Indonesia dan Kementerian Pendidikan Indonesia dalam memperkuat mitigasi bencana di satuan pendidikan.
Program tersebut juga mengacu pada surat edaran bersama Menteri Pendidikan Nomor 4 Tahun 2019 dan Menteri Sosial Nomor 1 Tahun 2019 tentang mitigasi kebencanaan di lingkungan sekolah.
Dalam pelaksanaannya, siswa diberikan pemahaman mengenai berbagai jenis bencana serta cara menghadapi situasi darurat secara tepat dan cepat.
Selain itu, peserta juga dibekali strategi kesiapsiagaan, termasuk pengorganisasian penanggulangan bencana di lingkungan sekolah serta penentuan tanda bahaya yang mudah dipahami oleh seluruh warga sekolah.
Materi lainnya meliputi penentuan jalur evakuasi dan titik kumpul, mekanisme penyampaian informasi darurat, hingga simulasi kebencanaan yang dilakukan secara berkala.
Amalia menegaskan bahwa tujuan utama program ini adalah membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan menghadapi bencana sejak dini.
“Melalui program ini, diharapkan siswa memiliki kecakapan dalam menghadapi situasi darurat serta mampu melindungi diri sendiri maupun orang lain,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam kegiatan tersebut anggota Tagana Kota Baubau juga memberikan pelatihan mengenai manajemen penanggulangan bencana serta pembentukan tim siaga bencana di sekolah.
Antusiasme peserta terlihat tinggi selama kegiatan berlangsung. Para siswa menunjukkan minat besar terhadap materi yang disampaikan, terutama karena topik tersebut jarang diperoleh dalam pembelajaran formal.
Amalia berharap program Tagana Masuk Sekolah dapat memberikan perlindungan bagi siswa, guru, dan tenaga kependidikan dari risiko bencana.
Selain itu, program ini juga diharapkan mampu meminimalkan gangguan terhadap proses belajar mengajar saat terjadi bencana.
baca juga:
- Investasi Pendidikan, Gubernur Sultra ASR Dorong Peningkatan SDM di Buton Tengah
- SDN 1 Masiri Buton Selatan Hadapi Kekurangan Ruang, Sistem Belajar Disesuaikan
Lingkungan sekolah pun diharapkan menjadi lebih aman dan siap menghadapi berbagai kemungkinan bencana, sekaligus berfungsi sebagai pusat kegiatan masyarakat dalam kondisi darurat.
Sementara itu, pihak SMAN 5 Baubau menyampaikan apresiasi kepada pemerintah dan Tagana atas pelaksanaan program tersebut.
Perwakilan sekolah menilai kegiatan ini sangat bermanfaat karena memberikan pengetahuan penting mengenai kewaspadaan bencana serta langkah-langkah penyelamatan diri.
Dengan adanya program ini, diharapkan kesadaran dan kesiapan generasi muda dalam menghadapi bencana dapat terus meningkat di masa mendatang.(*)
baca berita lainnya:
BAUBAU, BAUBAUPOST.COM— STAI YPIQ Baubau kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga mutu pendidikan tinggi melalui pelaksanaan ujian proposal skripsi yang diikuti mahasiswa dari berbagai program studi, sebagai tahapan awal menuju penyusunan karya ilmiah. “Mahasiswa Antusias Ikuti Ujian Proposal Skripsi, STAI YPIQ Baubau Tegaskan Komitmen Mutu Akademik,”

Kegiatan akademik tersebut berlangsung di kampus yang berlokasi di Jalan R.A. Kartini, Kelurahan Wale, Kecamatan Wolio, Baubau, dengan suasana tertib dan kondusif selama tiga hari, yakni 9 hingga 11 Maret 2026.
Ujian proposal skripsi ini menjadi bagian penting dalam sistem pendidikan tinggi, karena berfungsi sebagai mekanisme evaluasi awal terhadap rencana penelitian mahasiswa sebelum memasuki tahap pengumpulan data dan penulisan skripsi secara utuh.
Secara historis, model ujian proposal telah lama menjadi tradisi akademik di berbagai perguruan tinggi, baik di Indonesia maupun internasional. Di Indonesia, sistem ini berkembang pesat sejak era reformasi pendidikan tinggi pada awal 2000-an yang menekankan penjaminan mutu. Sementara secara global, praktik serupa telah diterapkan di universitas-universitas di Amerika Serikat dan Inggris sebagai bagian dari standar penelitian ilmiah.
Ketua Panitia Ujian Proposal, Anarida, mengatakan bahwa kegiatan ini tidak hanya menguji kesiapan mahasiswa, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran akademik yang penting.
“Ujian proposal ini merupakan tahapan penting yang harus dilalui mahasiswa sebelum menyusun skripsi secara menyeluruh,” ujar Anarida saat ditemui awak media, Jumat (10/4/2026).
Menurut dia, proses ujian berlangsung secara interaktif. Mahasiswa mempresentasikan latar belakang, rumusan masalah, tujuan, hingga metode penelitian di hadapan dosen penguji yang kemudian memberikan masukan konstruktif.
“Diskusi yang terjadi dalam ujian membantu mahasiswa menyempurnakan rancangan penelitian agar lebih terarah dan sistematis,” katanya.
Sejak pagi hari, suasana kampus tampak dipadati mahasiswa yang mengenakan pakaian formal hitam putih. Mereka menunggu giliran dengan penuh kesiapan dan kepercayaan diri untuk memasuki ruang ujian.
Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa dari tiga program studi, yakni Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI), dan Pendidikan Agama Islam (PAI), yang seluruhnya berada di bawah naungan STAI YPIQ Baubau.
Dalam pelaksanaannya, panitia menerapkan penjadwalan yang terstruktur serta koordinasi yang matang sehingga seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar tanpa kendala berarti.
“Satu per satu mahasiswa memasuki ruang sidang untuk memaparkan proposal penelitian di hadapan dosen penguji,” tambah Anarida.
Ia juga menegaskan bahwa komitmen kampus terhadap peningkatan mutu akademik dilakukan secara berkelanjutan melalui berbagai tahapan evaluasi, termasuk ujian proposal skripsi.
“Melalui proses ini, kami berharap mahasiswa mampu menghasilkan penelitian yang matang, berkualitas, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Ujian proposal skripsi juga memiliki peran strategis dalam membentuk kemampuan berpikir kritis mahasiswa, menyusun argumen ilmiah, serta mempertanggungjawabkan ide penelitian secara akademik.
Masukan dari dosen penguji menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk memperbaiki dan menyempurnakan proposal sebelum memasuki tahap penelitian lapangan.
baca juga:
- Investasi Pendidikan, Gubernur Sultra ASR Dorong Peningkatan SDM di Buton Tengah
- Pemerintah Batalkan Sekolah Daring April 2026, Tatap Muka Tetap Jalan
Selain itu, kegiatan ini turut melatih keberanian mahasiswa dalam menyampaikan gagasan secara sistematis dan logis di forum akademik, yang menjadi salah satu kompetensi penting lulusan perguruan tinggi.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, STAI YPIQ Baubau menunjukkan konsistensinya dalam menciptakan lingkungan akademik yang berkualitas dan berorientasi pada pengembangan keilmuan Islam.
Upaya tersebut sejalan dengan kebijakan nasional pendidikan tinggi di Indonesia yang terus mendorong peningkatan kualitas riset dan publikasi ilmiah sebagai indikator utama daya saing lulusan di tingkat global.(*)




https://shorturl.fm/lzTX9