BAUBAU, BAUBAUPOST.COM – Integritas akademik menjadi salah satu pesan utama dalam pelaksanaan Ujian Komprehensif dan Munaqasyah Skripsi mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Yayasan Pendidikan Islam Qaimuddin (YPIQ) Baubau. Ujian yang berlangsung selama tiga hari, 26–28 Agustus 2026, itu menjadi tahap penting untuk memastikan mahasiswa tidak hanya menguasai bidang keilmuan, tetapi juga mampu mempertanggungjawabkan karya ilmiahnya. “Ujian Komprehensif STAI YPIQ Baubau, Mahasiswa Diminta Jujur dan Berintegritas,”

Pelaksanaan ujian dipusatkan di Kampus STAI YPIQ Baubau, Jalan Kartini, Kelurahan Wale, Kecamatan Wolio, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, mulai Rabu (26/8/2026). Forum akademik tersebut mempertemukan mahasiswa dengan dosen penguji untuk menguji penguasaan materi, pemahaman keagamaan, serta kemampuan mempertahankan hasil penelitian yang telah disusun dalam skripsi.
Ketua STAI YPIQ Baubau, La Ode Abdul Salam Al Amin, S.Pd., MMA., menilai ujian komprehensif dan munaqasyah merupakan bagian krusial dalam perjalanan akademik mahasiswa. Menurut dia, tahapan tersebut tidak semestinya dipandang sebagai formalitas menjelang kelulusan, melainkan sebagai ruang untuk menguji keterpaduan ilmu dan kemampuan berpikir ilmiah.
“Ujian komprehensif dan munaqasyah ini bukan sekadar formalitas, melainkan ajang pembuktian atas integrasi keilmuan, kedalaman pemahaman agama, serta pertanggungjawaban ilmiah dari karya tulis yang telah Anda susun,” kata La Ode Abdul Salam.
Karena itu, mahasiswa diminta menyampaikan jawaban dan argumentasi secara rasional, jujur, serta berdasarkan kaidah keilmuan. Kritik dan masukan penguji juga diharapkan tidak dipandang sebagai hambatan, tetapi menjadi bahan untuk memperbaiki kualitas karya sebelum mahasiswa menyandang gelar sarjana.
Ketua Yayasan Pendidikan Islam Qaimuddin (YPIQ) Baubau, Muslihi, M.Si., mengatakan gelar akademik semestinya menjadi konsekuensi dari proses pendidikan yang tidak hanya membentuk kecakapan intelektual, tetapi juga karakter dan tanggung jawab moral. Ia meminta mahasiswa membuktikan komitmen dan integritas yang telah dibangun selama menempuh pendidikan di STAI YPIQ Baubau.

“Ujian komprehensif dan munaqasyah bukan sekadar agenda rutinitas akademis untuk meraih gelar sarjana. Ini adalah ajang pembuktian atas komitmen, integritas, dan kedalaman ilmu,” ujar Muslihi.
Muslihi juga meminta dosen penguji menjalankan proses evaluasi secara objektif, terukur, konstruktif, dan tetap bernuansa pembimbingan. Menurut dia, penilaian yang edukatif penting untuk menjaga mutu akademik sekaligus memastikan lulusan memiliki kemampuan yang dapat dipertanggungjawabkan ketika kembali berkiprah di tengah masyarakat.
Penekanan terhadap integritas akademik tersebut sejalan dengan perkembangan pendidikan tinggi modern yang menempatkan kejujuran ilmiah sebagai fondasi utama kegiatan akademik. Secara historis, praktik perguruan tinggi dan tradisi ilmiah di berbagai negara berkembang melalui prinsip pengujian pengetahuan, pembuktian argumentasi, dan pertanggungjawaban terhadap karya ilmiah. Di Indonesia, penguatan mutu pendidikan tinggi juga terus diarahkan agar gelar akademik tidak berhenti sebagai simbol kelulusan, melainkan mencerminkan kompetensi dan karakter lulusan.
baca juga:
- AZKO Hadir di Baubau, Perluas Akses Solusi Rumah dan Gaya Hidup bagi Masyarakat Pulau Buton
- SDN 2 Baadia Harumkan Nama Baubau ke Tingkat Nasional, Kadis Dikpora La Mane Tekankan Pentingnya Kebiasaan Positif Siswa Dalam Aksi Nyata Program Tujuh kebiasaan Anak Indonesia Hebat
Melalui pelaksanaan ujian selama tiga hari tersebut, STAI YPIQ Baubau diharapkan dapat melahirkan sarjana yang memiliki kompetensi akademik, pemahaman keagamaan, integritas, dan akhlak mulia. Para lulusan diharapkan mampu menggunakan pengetahuan yang diperoleh bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa.(*)
baca berita lainnya:

Keberhasilan itu berawal dari penjaringan yang dilakukan sekolah setelah menerima informasi program melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Baubau. Dari enam sekolah dasar di Kota Baubau yang mengikuti seleksi, SD Negeri 2 Baadia menjadi satu-satunya sekolah yang melaju ke tahap berikutnya setelah mengirimkan video aktivitas peserta didik.
Kepala SD Negeri 2 Baadia, Nursida, S.Pd., M.Pd., mengatakan sekolah memilih empat siswa kelas V yang dinilai memiliki kemampuan beragam, mulai dari Polisi Cilik (Pocil), seni suara, fashion, hingga olahraga. Keempatnya ialah Muhammad Nur Arafat Purnama, Wa Ode Amiratun Azkiyani Mbone, Yumn Mulyadin, dan Anandita Zahra.
“Dari penjaringan itu kami menemukan empat anak yang memiliki berbagai karakter dan keterampilan. Ada yang menjadi Polisi Cilik, suka menyanyi solo, memiliki kemampuan di bidang fashion, hingga berprestasi dalam bulu tangkis melalui O2SN,” kata Nursida saat diwawancarai Baubau Post, Rabu (19/8/2026).

Muhammad Nur Arafat Purnama mengikuti lomba Pocil dan tengah menjalani pelatihan di Polres Baubau. Wa Ode Amiratun Azkiyani Mbone mewakili sekolah pada FLS3N cabang menyanyi solo, Yumn Mulyadin pada cabang bulu tangkis, sedangkan Anandita Zahra mengikuti lomba fashion show. Keempat siswa itu juga disebut memiliki prestasi akademik sebagai juara kelas.
Seleksi tingkat Sultra berlangsung berjenjang. Dari 129 sekolah dasar yang mengikuti seleksi provinsi, enam sekolah lolos tahap pertama. Setelah melalui penilaian video dan wawancara, SD Negeri 2 Baadia bersama SD Negeri 12 Gu, Kabupaten Buton Tengah, ditetapkan sebagai wakil Sultra di tingkat nasional.
Bagi SD Negeri 2 Baadia, program tersebut bukan sekadar kompetisi, melainkan sarana membangun kebiasaan anak melalui bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, serta tidur tepat waktu. Sekolah melibatkan orang tua melalui jurnal aktivitas harian untuk memantau penerapan kebiasaan tersebut di rumah. “Kebiasaan bangun pagi tidak bisa hanya dilakukan oleh anak, tetapi harus bersinergi dengan orang tua. Karena itu kami membuat jurnal aktivitas harian yang diisi oleh orang tua,” ujar Nursida.

Pembina SD Negeri 2 Baadia, Salmiani, S.Pd., mengatakan proses seleksi dimulai dari video yang menggambarkan aktivitas siswa sejak bangun pagi hingga tidur tepat waktu, kemudian dilanjutkan wawancara. Setelah ditetapkan sebagai Sahabat Sekolah Dasar tingkat nasional, sekolah mulai menyiapkan aksi nyata dengan melibatkan lingkungan pendidikan melalui sinergi sekolah, keluarga, masyarakat, dan media. “Pencapaian ini menjadi motivasi bagi SD Negeri 2 Baadia untuk terus memperkuat pendidikan karakter dan membiasakan peserta didik menerapkan nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
baca juga:
- AZKO Hadir di Baubau, Perluas Akses Solusi Rumah dan Gaya Hidup bagi Masyarakat Pulau Buton …
- Wacana Revisi UU Pemilu, Eksistensi Bawaslu Kabupaten/Kota Dinilai Harus Dipertahankan dan Diperkuat
Secara nasional, Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat resmi diluncurkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada 27 Desember 2024 sebagai bagian dari upaya membentuk generasi sehat, cerdas, dan berkarakter menuju Indonesia Emas 2045. Program Sahabat Sekolah Dasar 2026 sendiri menempatkan murid sebagai agen perubahan dan menggabungkan gerakan tersebut dengan Gerakan Rukun Sama Teman. Dalam konteks global, gagasan pendidikan yang mengembangkan kepribadian, bakat, kemampuan mental dan fisik anak juga telah menjadi prinsip internasional sejak Konvensi Hak Anak PBB diadopsi pada 20 November 1989.(*)



