BUTON SELATAN, BP – Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Buton Selatan menyiapkan serangkaian program pembinaan keagamaan untuk mengisi Ramadan 1447 Hijriah, dengan fokus pada kunjungan langsung ke masyarakat di berbagai kecamatan. Langkah ini menjadi strategi utama untuk menciptakan suasana Ramadan yang lebih religius dan kondusif. “Ramadan 1447H/2026M Bermakna, Pembinaan Keagamaan Jadi Fokus Kemenag Buton Selatan,”

Kegiatan tersebut mulai dirancang sejak awal tahun melalui rapat koordinasi internal. Seluruh jajaran Kemenag, termasuk Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) dan penyuluh agama, diarahkan untuk mengambil peran aktif dalam pembinaan umat. Persiapan ini dilakukan agar aktivitas yang digelar selama Ramadan dapat menjangkau seluruh wilayah administratif Kabupaten Buton Selatan.
Plt Kepala Kemenag Buton Selatan Ilham mengatakan bahwa pendekatan langsung dipilih untuk memperkuat komunikasi dengan masyarakat. Menurutnya, kunjungan tatap muka selama Ramadan telah terbukti efektif meningkatkan pemahaman keagamaan di berbagai daerah. “Kegiatan Ramadan tahun ini kami fokuskan untuk melakukan kunjungan-kunjungan pembinaan,” ujarnya, Kamis (5/2/2026)
Ia menambahkan bahwa pembinaan juga akan disebarkan melalui media sosial sebagai sarana edukasi publik. Penggunaan kanal digital tersebut dimaksudkan untuk menjangkau generasi muda yang kini lebih banyak mengakses informasi melalui platform daring. “Baik secara langsung maupun melalui media sosial, semua kami optimalkan,” tegas Ilham.
Program pembinaan ini mendapat dukungan pemerintah daerah, yang sejak lama bekerja sama dengan Kemenag dalam penguatan kehidupan beragama. Dalam sejarahnya, sinergi pemerintah daerah dan Kemenag menjadi landasan penting bagi berbagai pembangunan spiritual di Sulawesi Tenggara, termasuk kegiatan Ramadan yang rutin digelar setiap tahun.
Secara nasional, pembinaan keagamaan selama Ramadan telah menjadi tradisi berbasis kebijakan sejak era Kementerian Agama awal didirikan pada 1946. Melalui kebijakan tersebut, pemerintah Indonesia menempatkan bulan Ramadan sebagai momentum strategis untuk memperkuat moderasi beragama dan kesadaran sosial masyarakat.
Sementara secara global, sejumlah negara berpenduduk mayoritas muslim seperti Mesir, Turki, dan Arab Saudi juga menerapkan pola pembinaan keagamaan melalui program edukasi Ramadan. Kunjungan ulama, ceramah publik, hingga kegiatan sosial menjadi ciri khas penyelenggaraan Ramadan di berbagai belahan dunia. Tradisi serupa, menurut Ilham, menjadi inspirasi untuk memperkuat praktik lokal di Buton Selatan.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan pembinaan akan menyasar seluruh kecamatan melalui jadwal yang telah disusun di tingkat kabupaten. Penyuluh agama akan melakukan ceramah, pendampingan keagamaan, serta mengajak masyarakat berpartisipasi dalam kegiatan sosial bernuansa religius. Semua aktivitas tersebut dirancang untuk menciptakan suasana Ramadan yang lebih hidup.
Ilham menegaskan bahwa Ramadan harus mampu menjadi pembeda dari bulan lainnya, baik dari sisi aktivitas maupun atmosfer sosial. “Ramadan ini harus menjadi pembeda. Kalau di bulan lain kegiatan keagamaan berjalan biasa, maka di Ramadan kita semarakkan dengan kegiatan yang benar-benar bernuansa agama,” jelasnya.
Selain pembinaan, Kemenag juga mengimbau masyarakat untuk menjaga ketertiban dan kerukunan selama menjalankan ibadah puasa. Kesadaran tersebut dinilai penting karena perbedaan pandangan keagamaan kerap muncul dalam masyarakat. “Yang paling utama adalah menjaga ketertiban dan kerukunan, karena perbedaan itu pada dasarnya bersifat cabang,” katanya.
Ia juga mengajak masyarakat mengisi Ramadan dengan amal ibadah dan kegiatan sosial sebagai bentuk kepedulian yang berdampak luas. Tradisi ini, menurutnya, telah lama menjadi kekuatan masyarakat Indonesia sejak masa awal kemerdekaan, ketika kegiatan gotong royong dan santunan Ramadan berkembang secara masif.
baca juga:
- Kajian Teknis Selesai, Kantor Bupati Busel Siap Dibangun 2026, La Ode Harwanto:Ini Program Strategis…
- Sekda La Ode Harwanto Sebut Pemkab Buton Selatan Bahas Reformulasi Pola Kerja Paruh Waktu, WFH Dua Hari Jadi Opsi
Selain itu, sikap saling menghormati antarumat beragama turut ditekankan. Kondisi multikultural Indonesia dianggap menjadikan nilai toleransi sebagai fondasi penting selama bulan suci. “Kita kedepankan saling menghargai dan menghormati, sehingga suasana Ramadan benar-benar terasa damai,” ungkap Ilham.
Dengan serangkaian kegiatan tersebut, Kemenag berharap Ramadan tahun ini dapat menjadi momentum peningkatan spiritual masyarakat Buton Selatan. Ilham menutup keterangannya dengan harapan agar bulan suci memberi dampak positif bagi perubahan pribadi umat Islam. “Harapan kita, Ramadan ini menjadi Ramadan yang berkualitas sehingga setelah selesai Ramadan kita kembali menjadi insan yang fitri,” pungkasnya.(*)
baca berita lainnya:
Manasik Tingkat Kecamatan Dimulai, Persiapan Haji Buton Selatan 2026 Kian Matang

Tahapan manasik tersebut diselenggarakan selama tiga hari, yakni Jumat hingga Minggu, dan dipusatkan di Gedung Kantor Urusan Agama (KUA) Kabupaten Buton Selatan. Sebanyak 25 jemaah dari empat kecamatan tercatat mengikuti agenda pembinaan tersebut, didominasi peserta dari Kecamatan Siompu Barat.
Kepala Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kabupaten Buton Selatan, Hj. Nurhayati, SE, memastikan bahwa seluruh dokumen perjalanan—mulai dari paspor, BIO VISA, hingga visa Arab Saudi—telah diselesaikan tanpa hambatan. “Alhamdulillah, semua dokumen utama sudah lengkap diterima. Kini fokus kita adalah pemantapan manasik,” ujarnya.
Menurut dia, penyelesaian dokumen lebih awal merupakan langkah strategis agar jemaah dapat berkonsentrasi pada kesiapan fisik dan mental. “Kami ingin jemaah benar-benar siap menjalankan ibadah, sehingga waktu yang tersisa sebelum keberangkatan dapat dimanfaatkan untuk pembinaan,” tambahnya.
Pada hari pertama dan kedua manasik, materi pembekalan meliputi pemahaman tata cara ibadah, rukun haji, hingga simulasi perjalanan. Kegiatan ini juga melibatkan penyuluh agama setempat sebagai pemateri utama. “Manasik Kecamatan ini menjadi fondasi penting agar jemaah memahami alur ibadah secara sistematis,” tutur Nurhayati.
Dinas Kesehatan Kabupaten Buton Selatan juga turut hadir memberikan pembekalan mengenai kesehatan selama berhaji. Materi tersebut mencakup teknik menjaga stamina, pola konsumsi, hingga pencegahan kelelahan saat melaksanakan rangkaian ibadah. “Kesiapan fisik sangat menentukan kelancaran ibadah haji. Kami sampaikan edukasi kesehatan agar jemaah siap menghadapi cuaca ekstrem,” jelasnya.
Usai rangkaian manasik awal ini, Kemenhaj Buton Selatan juga menjadwalkan pelaksanaan manasik lanjutan setelah Idulfitri, dengan fokus pada praktik ibadah. “Setelah lebaran ada manasik praktik agar jemaah tidak lupa dan semakin memahami setiap tahapannya,” kata Nurhayati.
Peserta manasik berasal dari Kecamatan Sampolawa sebanyak dua orang, Kecamatan Kedatua tiga orang, Kecamatan Siompu Barat 18 orang, dan Kecamatan Siompu dua orang. Rentang usia jemaah berkisar 50–60 tahun, dengan peserta tertua berusia 72 tahun. Komposisi ini menunjukkan dominasi jemaah usia produktif-lansia ringan, yang dianggap lebih stabil dalam kesiapan fisik.
Secara historis, penyelenggaraan manasik haji merupakan praktik yang telah diterapkan Indonesia sejak awal 1970-an melalui pembinaan Departemen Agama, dan terus berkembang menjadi sistem berjenjang mulai dari tingkat Kabupaten hingga tingkat kelompok. Secara internasional, Arab Saudi juga sejak 2000-an menetapkan standar edukasi jemaah bagi setiap negara untuk menekan risiko kecelakaan dan kepadatan saat puncak ibadah.
baca juga:
Pemkab Buton Selatan Susun Pola Kerja Baru, Sekda La Ode Harwanto Tegaskan Kehadiran Fisik Pekerja Paruh Waktu Tetap Prioritas untuk Percepatan Pembangunan
Penantian 11 Tahun, Akhirnya Buton Selatan Mulai Bangun Kantor Bupati pada 2026, La Ode Harwanto:Ini Program Strategis Pemerintah Busel Dibawah Kepemimpinan Bupati H Muh Adios
Manasik haji menjadi bekal wajib karena setiap musim haji selalu dihadapkan pada tantangan besar seperti cuaca ekstrem, volume jemaah, serta rute perjalanan panjang. Historis mencatat bahwa tragedi Mina tahun 1990 yang menelan lebih dari seribu korban menjadi titik balik penting dalam penguatan sistem edukasi global sebelum keberangkatan jemaah seluruh dunia.
Dengan berbagai persiapan yang telah diselesaikan, Kemenhaj Buton Selatan menegaskan kesiapan jemaah tinggal memasuki tahap pendalaman materi. “Kami berharap jemaah berangkat dengan pemahaman yang matang dan menjalankan ibadah dengan tenang,” tutup Nurhayati.(*)

