Laporan: Ardi Toris

DISELA-sela kesibukanya, Walikota Baubau Dr HAS Tamrin MH meluangkan waktunya untuk berdiskusi terkait pandangannya mengenai kebudyaan. Memang selama menjabat Walikota Baubau hingga saat ini, salah satu misinya adalah mempopulerkan budaya peninggalan Buton yang begitu kaya dan masih terpelihara.

Dalam pandangannya di era modern budaya mengalami semacam degradasi. Kalau produk kebudayaan berupa benda, “Ada penyusutan” katanya. Penyusutan itu terjadi bersamaan dengan munculnya kemajuan tekhnologi dewasa ini. Disis lain, doktor ilmu pemerintahan itu mengatakan kebudayaan itu terus berkembang dan itulah yang mewarnai nilai-nilai peradaban.

Walikota Baubau HAS Tamrin dan Wakil Walkota Baubau La Ode Ahmad Monianse ketika menerima penghargaan WTP mengenakan pakaian adat Buton

“Kita tahu budaya ini bisa berkembang, bisa berkembang kearah kemajuan dan bisa berkembang kearah penyusutan dengan adanya modernisasi ini, sehingga kita harus lakukan revitalisasi kebudayaan,” tuturnya.

Lebih dalam dia menjelaskan bicara budaya bisa berupa benda dan bisa berupa non benda. Sasaran kemajuan peradaban bisa berkembang kearah kemajuan peradaban manusia, baik yang berwujud benda dan bisa berwujud nilai-nilai. Lanjutnya, budaya bisa berupa benda-benda purbakala, situs-situs budaya, cagar budaya, bisa juga berupa seni, seni tari, seni suara, seni keterampilan, semua itu budaya.

“Namun budaya juga bisa berupa ritual-ritual, seperti haroa, pekakandea, bongkana tao, mata’a, kasambu-sambu, ritual pulau makasar, dan ritual batu poaro. Budaya tidak kembang kempis, tetap menunjukan taringnya. Budaya populer, dia tidak redup di dalam kemajuan zaman,” katanya lugas.

Menurut AS Tamrin, budaya yang berbentuk nilai-nilai inilah yang menjadi takaran lingkaran manusia bahkan menjadi identitas utama. Budaya non benda tidak dapat dilihat tetapi dapat dirasakan secara nurani.
Nilai-nilai yang tidak terlihat ini merupakan identitas diri, identitas etnis sebuah komunitas, karena ini meyangkut moral dan etika.

Budaya yang mengandung nilai-nilai, di setiap lokasi-lokasi kesultanan di seluruh Indonesia ini merupakan kebanggaan tersendiri. Ada dalam bentuk pantun, pitata-pititi, seloka, bahkan dalam bentuk slogan persatuan.

AS Tamrin mencontohkan seperti di Jambi kita kenal ada slogan “Sepucuk Jambi Sembilan Lurah,”. secara filosifis slogan itu berarti menggambarkan satu kesatuan kebangsaan, satu kesatuan rakyat dan wilayah Jambi dalam bingkai negara kesatuan Republik Indonesia, juga melambangkan kebesaran dari Sepucuk Jambi Sembilan Lurah dari sialang lantak besi sampai durian batakuk Rajo dan Tanjung Jabung.

Benteng Keraton Buton

Demikian juga di bugis ada nilai budaya yang dikenal dengan istilah “Sipakatau, Sipakelebbi, Sipakainge’. Taro ada, Taro Gau,”.

Sipakatau merupakan sifat memanusiakan manusia. Artinya, sebagai manusia kita harus saling menghormati, berbuat santun, dan tidak membeda-bedakan dalam kondisi apapun tanpa memandang suku, agama, ras, dan golongan kepada sesama manusia.

Sipakalebbi merupakan sifat saling memuliakan atau menghargai. Sifat menghargai artinya manusia merupakan makhluk yang senang jika dipuji dan diperlakukan dengan baik dan layak. Dan sifat memuliakan memiliki arti sebagai larangan untuk melihat kekurangan yang ada pada diri orang lain. Dan Taro Ada, Taro Gau artinya tetapkan kata, tetapkan perbuatan.

Itu, lanjutnya, merupakan nilai-nilai dan menjadi identitas kebanggan para pendukung nilai-nilia itu.
“Nah di Baubau ini sebagai daerah yang pernah menjadi pusat pemeritahan Kesultanan Buton juga memiliki banyak nilai-nilai budaya, misalnya ada yang berwujud kabanti, ada berwujud pesan-pesan leluhur ada sarapatanguna. Nilai-nilai itu ada yang ditampilkan secara transparan, ada yang tersirat, dan ada pula yang berupa ungkapan.

baca juga: SMAN 1 Baubau Ajak Siswa Belajar di Sekolah jika Tak Miliki Data Internet

Nilai-nilai budaya itu harus direvitaslisai dan terus dilestarikan agar identitas kita sebagai orang Buton terus terjaga. Tidak hanya direvitalisasi, tapi juga harus bisa dipopulerkan sehingga bisa dikenal di dunia luar. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pin It on Pinterest