Peliput: Amirul

BATAUGA, BP – Dialog terkait transparansi surat keterangan domisili (Suked) Pengganti KTP-l antara massa pendukung dan simpatisan Paslon nomor urut dua Muhamad Faizal La Imu dan Wa Ode Hasniwati dengan Kepala Dinas Catatan Sipil dan Kependudukan berlangsung ricuh, Selasa (21/2).
Massa geram dengan sikap Kepala Discapilduk, Drs Nadir yang menolak memberikan data Suked koletif sudah dikeluarkan pertanggal 14 Februari, atau sehari sebelum hari pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Busel 2017.
Sikap Nadir tetap bersikukuh tidak akan memberikan data suket koletif itu tanpa melalui prosedur yang telah ditetapkan yakni harus bersurat kepada Bupati. Tak terima sikap Kadiscapilduk perwalian massa semakin geram hingga mengatakan Kadiscapilduk menabrak asas keterbukaan informasi publik
Pucak geram massa hingga menjadi kericuhan akibat salah satu oknum pegawai magang Discapilduk memaki salah satu perwalian massa yang sedang berdialog, Samsul pun geram karena tak terima dengan bahasa kasar tersebut,
Samsul mendatangi oknum honorer tersebut seakan menantang dan hingga ingin memukulnya, beruntung pihak keamanan yang sejak awal sigap mengawal jalannya aksi berhasil mengamankan keduanya.
Akibat persoalan itu sebagia massa yang ikut masuk didalam kantor Discapilduk dikeluarkan oleh pihak keamanan. Aksi dorong pun tidak terelahkan bahkan salah satu oknum SatpolPP dengan keras mengeluarkan massa aksi itu.
Tak sampai disitu, kericuan kembali terjadi diluar kantor discapilduk lantaran salah satu anggota kepolisian yang tak lain adalah Kapolsek Batauga mendapat dorongan hingga terjatuh saat mengamankan suasana yang sedikit mereda. Kejadian ini sempat memanas kembali namun dengan sigap pihak kepolisan dibantu satpol PP berhasil meredam suasana.
Wakapolres Buton, Kompol Totok H SIK yang berusaha untuk meredam situasi, dengan mengamankan jendral lapangan Samsul yang tidak lain adalah salah satu peserta aksi yang mendapat perkataan kasar dari oknum honorer Capil.
Sementara itu, Kepala discapilduk, Drs Nadir yang awalnya menemui demonstran langsung diamankan diruangan Sekretaris dinasnya saat kericuan berlangsung lantaran kondisi psikologis massa sudah tak memungkinkan untuk melanjutkan kembali forum dialog terkait sejumlah dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh Capil.
Awalnya, aksi unjukrasa yang dilakukan massa pendukung dan simpatisan paslon nomor urut dua, Faizal-Hasniwati menutut transparansi terkait jumlah suked yang telah dikeluarkan oleh Capil Busel untuk kemudian disingkronkan dengan jumlah suket yang ditemukan saat proses pemungutan suara pada 15 februari lalu. Namun Drs Nadir menolak permintaan demonstran. Alasannya, seluruh data yang ada di capil itu tidak dapat dikeluarkan tanpa pesetujuan dari Pj, Bupati Busel, Dr H OMN H Ilah Ladamay.
“Kami tidak bisa mengeluarkan itu, kecuali ada persetujuan dari Bupati,” ungkap Drs Nadir kepada Demonstran.
Selain itu, lanjutnya, data suked yang ada hanya boleh diberikan oleh KPU. Artinya, selain lembaga KPU, data suket yang ada saat ini itu tidak bisa diberikan oleh pihak lain selain KPU.
“Kami hanya bisa keluarkan kecuali atas permintaan KPU saja,” tambah Nadir.
Namun berdasarkan ketentuan dan mekanisme yang terterah dalam lembaran suked berfungsi sebagai pengganti E-KTP masyarakat yang telah melakukan perekaman atau benar-benar warga setempat namun belum memiliki atau sementara mengurus pindah penduduk yang sedang mengurus administrasi Kesehatan, Kartu Keluarga dan kebutuhan administrasi lainnya.
“Jadi suket inibukan hanya untuk KPU. Apalagi ini menyangkut urusan daerah. Dimana transparansi Capil hari ini,” Tanya salah satu demonstran, Roma Pare.
Sebelum membubarkan diri, massa mengancam akan melaporkan masalah tersebut ke pihak kepolisian karena disinyalir kadiscapilduk sengaja munutup-nutupi informasi.
“kami akan melaporkan ini sesuai dengan undang-undang tentang keterbukaan informasi,” ancam Roma Pare. (*)

Pin It on Pinterest