Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Buton Selatan La Ode Rusli SKM


Peliput : Amirul
BATAUGA,BP-Pemerintah Kabupaten Buton Selatan terus fokus berupayakan menekan angka stunting.

Buton Selatan diketahui masuk dalam prioritas nasional atau daerah lokus dalam hal penanganan stunting, karena diketahui Buton Selatan persoalan stunting tercatat cukup tinggi.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Buton Selatan La Ode Rusli SKM
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Buton Selatan La Ode Rusli SKM

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Busel La Ode Rusli SKM mengatakan kenapa Buton Selatan di Sultra masuk lokus karena presentasi stunting cukup tinggi. Diawal pendataan masalah stunting di Buton Selatan tercatat sebesar 48,7 persen. Namun perlahan-lahan pemerintah daerah menurunkan maslah tersebut dan capaian penanganan stunting saat ini berada di posisi kisaran 25-27 persen.

“Pendataan stunting dilakukan oleh teman-teman pihak universitas, kita hanya memperoleh data dari mereka itu yang dijadikan oleh kementerian Kesehatan sehingga Buton Selatan itu menjadi hal prioritas penanganan stunting, ” Ucap La Ode Rusli saat ditemui belum lama ini.

Ia menyebutkan, perlawanan stunting itu ada delapan aksi. Sementara yang telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan telah masuk pada aksi ke 6 yakni Meningkatkan sistem pengelolaan data stunting dan cakupan intervensi di tingkat kabupaten/kota dan aksi ke tujuh dan ke delapan akan diimplementasikan pada tahun berikutnya.

“Kita sudah melaksanakan 6 aksi dalam hal penangan stanting atau sementara pada pendekatan bagaimana menajemen itu sendiri, nanti di tahun 2021 kita akan intervensi permasalahan stunting,” katanya

Ia tidak meyembutkan secara detail berapa banyak persoalan stunting di Busel, tetapi kecamatan tertinggi persoalan stunting adalah di ibu kota Kabupaten yakni Kecamatan Batauga. Selanjutnya disusul Kecamatan Siompu Barat.

“Di Buton Selatan kecamatan Batauga yang tertinggi, terus kalau tidak salah itu di Siompu Barat.Di ibu kota yang banyak karena permasalahan stunting ini adalah spesifik maka pendekatannya spesifik,”katanya.

Penuntasan permasalahan stunting, kata Rusli bukan hanya tugas Dinas Kesehatan semata, tetapi stakholder terkait, disitu ada 12 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) turut berkolaborasi menuntaskan persoalan stunting.

“Di Dinas Kesehatan hanya bagaimana pendekatan sistem, tetapi spesifiknya dilakukan OPD, misalnya Dinas PUPR bagaimana pengadaan jamban keluarga, ditingkat masyarakat bagaimana perpipaan dan sektor lainnya. Kalau di Disdukcapil bagaimana anak ketika dia lahir, bagaimana administrasi pencatatan akta kelahiran kependudukannya, begitu pula Dinas Ketahanan Pangan tetang bagaimana terpenuhinya keanekaragaman tanaman pangan di desa, kecamatan , sehingga kebutuhan akan imtek, dari pangan ini tercukupi ditingkat rumah tangga khususnya bagi baik balita,” jelasnya.

Kata Rusli, untuk intervensi stunting dimulai dari ketika awal istri mengalami konsepsi hingga 1000 hari kehidupannya.

“Jadi pada awal konsepsi itu kita sudah ada intervensi penanganan pencegahan stunting hingga 1000 hari kelahirannya dan intervensi pemerintah sudah melakukannya sehingga kedepan tidak ada lagi bayi, balita atau anak indonesia terutama di Buton Selatan adanya stunting,” ujarnya

Menurutnya, perkara stunting bukan tinggi rendahnya anak, tetapi perkara stunting adalah bagaimana bangsa Indonesia menyiapkan sumber daya manusia yang unggul untuk masa depan, sehingga dapat menyamai negera-negara yang lain yang telah maju.

Ia menambahakan, dalam penenaganan dan pencegahan stunting tentu segala upaya akan dilakukan, salah satunya penguatan manejemen., selain itu hadirnya partisipasi atau 12 OPD bersinergi serta berkolaborasi menanganani persoalan stunting. (*)

Nonton Video Berikut dari YouTube BaubauPost TV Channel:

PU PROVINSI SULTRA PERBAIKI SEMENTARA JEMBATAN DI DESA LA UKI, BUTUR PAKAI DANA PEMELIHARAAN

JEMBATAN PENGHUBUNG YANG RUSAK PARAH INI DIPERBAIKI SEKITAR BULAN MEI 2020. JEMBATAN INI MERUPAKAN SATU-SATUNYA JEMBATANG PENGHUBUNG TIGA DESA DI KABUPATEN BUTON UTARA UNTUK MENUJU IBUKOTA KABUPATEN. MESKI HANYA MENGGANTI KAYU-KAYU YANG LAPUK, TAPI MASYARAKAT BUTUR AMAT BERSYUKUR ATAS RESPON YANG DIBERIKAN OLEH PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA. @BAUBAUPOST TV CHANNEL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pin It on Pinterest