Peliput: Hengki TA

LABUNGKARI, BP – Terdapat dua desa di Kabupaten Buton Tengah (Buteng), bakal menggelar pemilihan kepala desa (pilkades) pergantian antar waktu (PAW) pada 22 Januari 2022 mendatang. Dua desa yang menggelar Pilkades PAW yaitu, Desa Wantopi Kecamatan Mawasangka Timur (Mastim) dan Desa Baruta Kecamatan Sangia Wambu.

Untuk PAW tesebut, sudah diatur dalam undang-undang terkait desa, dimana apabila satu kepala desa mengundurkan diri dan atau meninggal dunia dengan sisa masa jabatan di atas satu tahun, maka perlu diadakan pemilihan antar waktu di desa itu.

Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (BPMD) Buteng Armin

Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (BPMD) Buteng Armin saat dikonfirmasi diruangannya mengatakan, penyelenggaraan Pilkades PAW di Desa Wantopi dan Desa Baruta, sebab pimpinan kedua desa itu ada yang meninggal dunia dan mengundurkan diri dari jabatannya.

“Kepala Desa Wantopi meninggal dunia, dengan sisa masa jabatan dua tahun, sementara Kepala Desa Baruta ia memgundurkan diri karena alasan kesehatannya kurang membaik,” jelasnya.

Lanjutnya, untuk mekanisme pemilihan nanti, mekanismenya lebih menarik dibanding pemilihan kepala desa seperti biasa. Dimana, setiap desa yang melakukan pemilihan, terlebih dahulu melakukan Musyawarah Desa (Musdes), untuk memilih para calon PAW Kepala Desa.

“Jadi para calon kepala desa PAW ini, mereka dipilih oleh peserta yang hadir melalui forum Musdes,” ungkapnya.

Sementara, untuk calon kepala desa PAW sendiri terbuka untuk umum. Namun hanya dibatasi tiga calon saja, berbeda dengan pemilihan kepala desa pada umumnya.

Kemudian, tidak semua masyarakat desa bisa ikut dalam forum Musdes, hanya perwakilan dari unsur-unsur masyarakat yang ada di desa yang bisa masuk dalam forum tersebut, antara lain Tokoh adat, tokoh agama, tokoh pendidikan, tokoh masyarakat, perwakilan nelayan, perwakilan petani, perwakilan perempuan serta unsur masyarakat lainnya.

Selain itu, mekanisme pemilihan antar waktu tersebut, dari jauh hari sudah di sosialisasikan berdasarkan Permendagri nomor 112 tahun 2015, tentang pemilihan kepala desa serta perubahan permendagri nomor 65 tahun 2017.

“Apabila dalam Musdes tersebut tidak mufakat dan tidak melahirkan pimpinan di desa, maka akan diadakan voting dimana pesertanya juga mereka yang melakukan musyawarah itu,” tuturnya.

baca juga: Perangkat Masjid di Buteng Dapat Kenaikan Gaji

Harapannya, setelah terpilihnya Kepala desa pada pemilihan PAW tersebut, Kepala Desa terpilih bisa menjalankan roda pemerintahan di desa itu. baik secara musyawarah ataupun voting. Namun, jika pemilihan itu dilakukan sevara voting, maka ia meminta ke panitia di desa agar melakukan voting yang dikemas seperti pemilihan umum dan harus ada bilik suara, kotak suara, dan surat suara.(*)

Comments are closed.