Peliput: Gustam — Editor: Ardi Toris

PASARWAJO, BP- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buton memanfaatkan ritual budaya lokal seperti Posuo dan Dhole-dhole sebagai sarana untuk mengedukasi masyarakat dalam upaya memerangi stunting.

Seperti yang dibahas dalam rapat koordinasi Aksi II sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lingkup Pemkab Buton, terkait Penyusunan Program Penurunan Stunting, di Aula Kantor Bappeda Buton belum lama ini.

Rapat Koordinasi Edukasi pencegahan Stanting Foto Gustam–BaubauPost

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Buton, Ahmad Mulia menyebut, permasalahan stunting di Kabupaten Buton diperlukan kerja sama dari stakeholder terkait untuk melakukan sosialiasi dan edukasi di masyarakat.

“Semua OPD bergerak untuk melakukan pencegahan stunting sesuai dengan tupoksinya masing-masing,” ujarnya.

Ahmad menjelaskan, penanganan stunting di Buton, perlu menggunakan tradisi budaya lokal, seperti Posuo dan Dhole-dhole. “Posuo diperuntukan bagi gadis remaja sebelum memasuki kehidupan rumah tangga. Ini penting, sehingga nantinya dalam edukasi ke masyarakat dapat dijadikan sarana publishing untuk mengedukasi masyarakat dalam mencegah stunting,” jelasnya.

Hal serupa juga berlaku pada ritual Dhole-dhole, Ahmad mengungkapkan, ritual Dhole-dhole merupakan sarana untuk menguatkan imun ala masyarakat Buton.

“Nah, Pencegahan stunting adalah pada 1000 hari kehidupan. Kita di Buton, ketika masih bayi dilakukan ritual Dhole-dhole. Ritual ini untuk menguatkan imun bayi. Ini juga dapat digunakan sebagai sarana untuk mencegah stunting pada 1000 hari kehidupan tersebut,” terangnya.

Ahmad Mulia secara tegas meminta semua OPD terkait untuk secepatnga menyusun program kerja, serta langkah-langkah strategis dalam upaya penurunan stunting di Kabupaten Buton kedepannya. (*)

Pin It on Pinterest