Peliput Alyakin Editor: Hasrin Ilmi

 

Dokter Forensik Polda Sultra Kompol dr, Mauluddin

PASARWAJO, BP – Sosok mayat perempuan yang ditemukan jajaran Polsek Kapuntori dengan kondisi sujud telungkup didalam hutan Desa Waondowolio Kecamatan Kapuntori Kabupaten Buton diduga kematian korban tidak wajar, Pasalnya, berdasarkan hasil otoupsi dari tim Kedokteran Forensik Bidoktes Polda Sulawesi Tenggara dan Dokter dari Fakultas kedokteran Halu Oleo (UHO) tidak menemukan tanda kekerasan pada tubuh korban.

Kompol Dokter Forensik Polda Sulawesi Tenggara (Sultra) dr Mauluddin dikonfirmasi Baubau Post Post usai melakukan otopsi di RSUD Palagimata Kota Baubau mengatakan Atas permintaan Polres Buton dalam hal Ini Kasat Reskrim Polres Buton, Iptu Hasanuddin SH MH dan Polsek Kapuntori,Iptu Bahri, SH bahwa ditemukan satu mayat, maka Kedokteran Forensik Bidoktes Polda Sulawesi Tenggara dibantu Tim dokter dari Fakultas kedokteran UHO melakukan otopsi pada korban.

“Kita melakasanakan autopsi dan proses identifikasi terhadap satu mayat yang ditemukan Polsek Kapuntori dan Korban ditemukan tidak mengenakan celana dalam, sehingga korban dikategorikan mati tidak wajar,” ungkapnya

Dikatakan, dari hasil autoupsi, yang pertama dilakukan mencari tahu identitas, namun, sampai pelaksanaan autoupsi tidak ada satupun tanda pengenal yang ada didalam kantong jenazah maupun di tubuh korban tanda pengenal.

Apa bila tidak ada tanda pengenal maka, Lanjutnya, kita melakukan identifikasi lewat sidik jari, namun seluruh tangan dalam keadaan rusak akibat pembusukan lanjut. sehingga sidik jari tidak dapat dilakukan dan Ciri ciri korban, rambut warna hitam, berombak ikal melewati bahu, ukuran panjang rata rata 27-28 Cm, Gigi maju kedepan, jarang atau Tongos.

“Identifikasi berikutnya lewat gigi, untuk jenazah secara umum 150 Cm, kemudian dari gigi itu menunjukkan usia antara 25- 50 tahun serta Dari bentuk dahinya, dapat dipastikan mayat itu adalah wanita, walaupun alat kelamin dan rahim sudah pembusukan lanjut,” Jelasnya

Kata dia, Perkiraan kematian korban itu lebih dari tujuh hari, sejak diperiksa dan itu ditandai dengan adanya kerusakan kulit yang sangat lanjut sehingga sebagian sisa tulang dan paling lama satu bulan.

Menurutnya, Penyebab kematian korban tidak dapat diidentifikasi karena sudah pembusukan lebih lanjut namun dimungkinkan korban ada trauma tumpul pada rahang atas yang sifatnya tidak terlalu berat karena tidak merusakan tulang tapi dia hanya menyisakan resapan darah sedikit.

“Jadi penyebab kematian pada korban, tidak kami temukan tanda tanda sajam, karena pembusukan lanjut dan hampir terjadi seluruh tubuh, tetapi kami hanya menemukan Jejang intrafital dirahang, itupun kalau kekerasan itu lebih mengarah pembekapan, kalau ini kekerasan,” Katanya

Untuk luka berat dengan kondisi jenazah sudah pembusukan lanjut sehingga sulit ditemukan oleh pihak dokter Forensik Bidoktes, Pasalnya, tidak ada kerusakan berat pada tengkorak kepala, tidak ada pendaharan di rongga dada dan perut akibat adanya kekerasan tajam.

“Yang kami temukan, pada bagian rahang atas ini, jelas radang atau resapan darah intrafital, artinya ada trauma tumpul pada rahang atas ini sifatnya tidak terlalu berat karena tidak merusakan tulang tapi dia hanya menyisakan resapan darah sedikit,” katanya

Sambungnya, Yang ditemukan lagi pada jenazah itu bahwa ada pada tanda tanda kakinya itu keriput, karna kedinginan dan kena air dan basah artinya, menjelang kematiannya itu masih mengalami situasi yang dingin dan basah.

“Khas kaki korban, alas kaki tebal ini menunjukkan orang yang kuat berjalan, pekerja kuat karena dia sering berjalan dan berjalan tanpa alasan kaki, yang jelas ini berhubungan dengan terhalangnya jalan napas diera hidung dan mulut, atau karena pembekapan atau terhalang kepala jatuh ketanah dan suasana korban masih mengalami diingin dan basah,” ujarnya

Untuk diketahui autoupsi oleh tim Kedokteran Forensik Bidoktes Polda Sulawesi Tenggara dan Dokter dari Fakultas kedokteran Halu Oleo (UHO) di RSUD Palagimata Kota Baubau mulai pukul 19.30-21.30 wita, serta dalam waktu dekat, tulang korban yang akan dijadikan sampel akan diusulkan ke Laboratorium DNA dijakarta untuk membandingkan jika ada keluarga korban yang ingin menceknya. (*)

Pin It on Pinterest