BATAUGA,BP-Kasus tumpahan minyak kelapa sawit (CPO) di perairan Batauga, Kabupaten Buton Selatan (Busel) pada Desember 2018 lalu hingga saat ini masih terus berproses di Dirjen Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) RI.

Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Buton Selatan, Untung mengatakan, pertemuan keenam yang akan dijadwal tanggal 17 Maret ini, pihak perusahaan PT. Gebari Medan Segara akan menyampaian kesanggupan seberapa besar nilai yang akan ditanggung oleh perusahaan dalam mengganti kerugian masyarakat Kelurahan Majapahit, dan restorasi lingkungan selama 10 tahun.

“Pada pertemuan kelima antara pemda Busel, Kementerian Lingkungan Hidup RI, semestinya pihak perusahaan telah menyampaikan kesanggupannya, namun ditangguhkan dan akan dilakukan pada pertemuan keenam,” kata Untung, saat ditemui belum lama ini

Untung berharap pada pertemuan ke enam yang difaslitasi oleh Dirjen Penegakan Hukum KLH RI, pihak perusahaan sudah mengetahui besaran kesanggupan perusahaan mengganti kerugian yang ditimbulkan pada kasus tumpahan minyak CPO di pesisir perairan Keluarahan Majapahit dan Lamanairi yang terjadi awal tahun lalu tersebut.

Menurutnya, dalam beberapa kali pertemuan yang dilakukan sebelumnya bersama pihak perusahaan di KLH RI. Untung melihat bahwa pihak perusahan memiliki ihtikad baik untuk menyelesaikan persoalan ini dan dapat teralisasi tahun ini

“Semoga proses penyelesaian kasus tumpahan minyak CPO dipesisir perairan Kelurahan Majapahit dan Lamanairi yang menyebabkan rusak ekosistem dan terganggunya kesehatan masyarakat sekitar, dapat diselesaikan tahun ini,” katanya

Lanjutnya, tetapi jika tidak ditemukan kesepakatan, maka kemungkinan Pemda Buton Selatan akan menempuh jalur hukum, atau melalui pengadilan.

“Kalau lewat jalur hukum ini sanksinya akan lebih besar ganti ruginya, karena akan berhadapan dengan negara. Maka dari itu jalur difasilitasi atau normatif ini merupakan jalan tengah untuk mendapatkan titik temu kesepakatan,” tukasnya

Sementara berdasarkan hasil analisa, penelitian dan verifikasi faktual dari tim ahli dari KLH menyatakan bahwa kerusakan lingkungan yang terjadi akibat tumpahan CPO tersebut nilai restorasi selama 10 tahun sebesar ratusan miliar ditambah kompensasi kerugian korban masyarakat disekitar kawasan akibat terpapar CPO kurang lebih 3,5 miliar

Diketahui, pada Desember 2018 lalu, kapal tugboat TT 57 yang dinakodai Sugut (33) menarik kapal tongkang milik PT Kebari Medan Segara bertolak dari Kabupaten Poso menuju Kota Baru Kalimantan. Karena kapal tugboat mati mesin dan saat irtu cuaca buruk , kedua kapal tersebut terbawa ganasnya ombak di kearah bibir pantai dan akhirnya karam. Tongkang yang dihatam ombak ke karang terus menerus akhirnya satu sekat palka penyimpan minyak kepala sawit bocor dan memuntahkan 3700 liter CPO hingga membuat perairan Batuaga tercemar.

Peliput : Amirul

Pin It on Pinterest