Laporan: Noval Latif

DURASITIMES.COM- Umat Muslim di negara Singapura merayakan lebaran Idul Fitri 1443 H pada tanggal 3 Mei 2022. Hal ini sebagaimana dilansir dari The Strait Times.

Pemimpin Majelis Agama Islam Singapura (MUIS) Nazirudin Mohd Nasir sebelumnya mengumumkan kapan jatuhnya hari lebaran pada Minggu malam.

ilustrasi

Menurut Mohd Nasir perbedaan terjadi menurut perhitungan astronomis, hilal pada bulan Syawal setelah Ramadhan tidak muncul pada sore hari setelah terbenamnya matahari pada hari Minggu,

“Bulan sabit – yang secara tradisional menandai awal bulan baru – juga tidak terlihat,” tambahnya.

Mufti menjelaskan bahwa di Singapura adanya perbedaan pada awal Hijriah atau penanggalan Islam sangat sering terjadi di masa lalu dan mungkin terjadi lagi di masa depan.

Mufti menjelaskan bahwa di Singapura, adanya perbedaan pada awal Hijriah atau penanggalan Islam sangat sering terjadi di masa lalu, dan mungkin terjadi lagi di masa depan.

“Memang bulan sabit juga belum terlihat di beberapa negara lain, akibatnya mereka akan merayakan Idul Fitri pada Selasa 3 Mei, seperti Singapura,” katanya.

Selain Singapura Bangladesh, India, dan Pakistan juga termasuk diantara negara-negara yang merayakan lebaran pada hari Selasa 2 Mei 2022.

“Selama kita berpegang teguh pada prinsip-prinsip iman kita dan bimbingan Nabi Muhammad, perbedaan penentuan kalender Islam adalah sesuatu yang sudah diduga dan bukan sesuatu yang mengkhawatirkan,” ucapnya.

Mufti menjelaskan bahwa umat Islam diajarkan bahwa jika bulan samar-samar atau kabur, mereka menganggap Ramadhan berjumlah 30 hari.

Menurut penanggalan Islam, beberapa bulan bisa berlangsung 29 hari dan yang lain 30 hari.

Para ahli telah menggunakan dua kriteria utama yaitu perhitungan berdasarkan astronomi dan penampakan bulan untuk menentukan apakah bulan sabit terlihat jelas.

Namun demikian, di Singapura bulan sabit umumnya sangat sulit terlihat karena kondisi iklim yang sering berawan.

Oleh karena itu, lanjutnya, Singapura menggunakan kriteria yang disepakati bersama yang digunakan oleh empat negara regional dalam MABIMS, pertemuan informal para menteri agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura, dalam menentukan penampakan bulan sabit.

Tolak ukur ini ini telah ditinjau dan disempurnakan oleh empat negara tersebut sejak 2017, dan direvisi pada 2021, berdasarkan lebih dari 700 titik data penampakan bulan sabit dari seluruh dunia.

Berdasarkan kriteria tersebut disimpulkan bulan sabit atau hilal tidak terlihat di Singapura saat matahari terbenam pada 29 Ramadan.

baca juga: Undang Rusia dan Ukraina, Sebagai Jawaban Jokowi Atas Ancaman Amerika Memboikot KTT G20 di Bali

“Mufti bersama para ahli ilmu falak (astronomi) berusaha untuk melakukan penampakan fisik hilal, tetapi tidak berhasil yaitu hilal tidak terlihat. Juga jelas bahwa ufuk barat mendung dengan awan,” ucapnya.

Mufti menekankan bahwa otoritas agama dari negara-negara MABIMS lainnya melaporkan bulan sabit terlihat dalam penampakan mereka hanya di tempat-tempat tertentu di wilayah mereka sendiri. “Hasil individu mereka valid dalam konteks masing-masing,” katanya.(***)