Peliput: Hengki TA

BAUBAU, BP – Dalam pengembangan kasus yang dilakukan pihak kepolisian terkait maraknya pembusuran di Kota Baubau, Polres Baubau berhasil mengamankan tiga siswa salah satu SMP di Kota Baubau masing masing berinisal F,I dan R. Ketiganya ditangkap karena dalam kesehariannya melakukan pekerjaan sampingan “Nyambi” sebagai pembuat dan pedagang busur.

Hal itu diungkapkan Wakapolres Baubau Kompol Suparno Agus Chandra Kusuma SH SIk dalam konferensi pers yang diadakan di Media Center Polres Baubau, Rabu (07/12). Suparno menjelaskan, tiga bocah yang kedapatan membuat busur itu berdasarkan informasi yang dihimpun pihak kepolisian terkait maraknya busur, sehingga melakukan razia pada tiap sekolah se Kota Baubau.

“Selasa (06/12) kita menju SMPN 2 Baubau karena kita mendapatkan informasi dari pengembangan yang kita lakukan,
kita melakukan koordinasi dengan pihak sekolah, kita dapatkan beberapa yang kita curigai, kita interogasi ada beberapa hasil ynag kita amankan, orang dan barang. Busur, topeng dan terali motor milik F, I dan R. Kita juga menemukan barang temuan berupa busur dan tas namun tidak di ketahi pemiliknya,” jelas Suparno.

Dijelaskan berdasarkan pengakuan para tersangka, sejauh ini ketiganya belum pernah melakukan pembusuran, hanya membuat dan menjual busur-busur tersebut seharga Rp 5 hingga Rp 10 ribu perbusur.

“Kami amankan (busur) di rumhanya masing-masing, yang dijualnya sudah 11 buah, kemudian yang ada ditangan pelaku ada satu buah. Yang diberikan lagi kepada temannya untuk contoh ada tiga buah,” katanya.

Dilanjutkan, pihak kepolisian juga berjanji akan mengusut tuntas masalah permbusuran yang terjadi di Kota Baubau saat ini, mengingat isu busur membusur yang kini marak sangat meresahkan masyarakat, terutama dari sisi keamanan.

Lebih lanjut, Polres Baubau juga akan memberikan efek jera terhadap ketiga pelaku, dan tidak bisa memberikan efek yang lebih keras, dikarenakan ketiganya masih dibawah umur. Dan diharapkan, dalam hal ini semua pihak turut berperan untuk meminimalisir berkembangnya kejahatan seperti pembusuran, dikarenakan kepolisian dianggap tidak bisa jika hanya bekerja sendiri tanpa bantuan dari masyarakat.

“Psikososial yang ada di Kota Baubau sangat memprihatinkan, sudah bergeser antara moral, dan perlu kita bekerjasama dengan baik. Fonemena ini bukan hanya tugas kepolisan, walalupun ketertiban dan keamanan kita yang melakukan, namun muaranya banyak yang harus bertanggungjawab termasuk keluarga, lingkungan, aparat pemerintah yang harus punya andil,” tandasnya.(*)

Pin It on Pinterest