• Bupati Arusani: Kami Akan Bersurat ke Provinsi Agar Meninjau Ulang Izinnya

Peliput : Amirul
Batauga,BP-Bencana abrasi yang terjadi di aliran sungai dusun Kolowu, Kelurahan Masiri, Kecamatan Batauga telah melebar dan sangat memprihatinkan.

Puluhan hektar lahan perkebunan masyarakat dan bahkan fasilitas umum jalan perkantoran di Kelurahan Masiri sebagian bahu jalannya telah amblas tergerus akibat abrasi. Selain itu, arus sungai yang semakin melebar telah mengancam pemukiman warga Kolowu yang tidak jauh dari sisi sungai.

Sejumlah OPD merelai warga dan pemilik pertambang pasir dan kerikil yang nyaris adu jotos di jalan yang terkena abrasi depan perkantoran Masiri

Warga setempat menilai aktifitas pengambilan pasir dan batuan kerikil yang masif dengan menggunakan alat berat di sungai Kolowu menjadi penyebab dari semua musibah tersebut.
Kamis (24/2) puluhan warga Dusun Kolowu berkumpul di lokasi abrasi guna menghentikan aktifitas alat berat yang sedang beroperasi ditepi sungai tersebut.

Mereka menuntut agar aktifitas pengambilan pasir dan kerikil di sungai Kolowu dihentikan bahkan meminta izin tambang galian C yang dikeluarkan pihak Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara itu dicabut, sehingga tidak terjadi lagi kerusakan lingkungan yang berdampak pada sosial masyarakat.

Saat Bupati Buton Selatan H. La Ode Arusani bersama anggota DPRD Busel serta OPD Lingkup Busel meninjau lokasi terjadinya abrasi, namun bertepatan dengan itu tiba-tiba pemilik tambang muncul dilokasi.

Puluhan warga telah menunggu petunjuk Bupati Busel, emosi mendekati pemilik tambang untuk menumpahkan segala kekesalannya, namun tidak mau kalah, pemilik berdalih bahwa dia melakukan aktifitas pengambilan material pasir dan kerikil di sungai Kolowu telah memiliki izin yang diterbitkan oleh Pemprov Sultra.
Emosi warga semakin tersulut dan mendekati pemilik hingga hendak memukul. Namun sejumlah OPD yang berada ditempat merelai sejumlah warga dan meminta pemilik untuk pulang secepatnya dan meninggalkan lokasi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Salah seorang warga Masiri penolak aktifitas penambangan di sungai Kolowu, Adulan menilai penyebab abrasi hingga menghancurkan puluhan hektar perkebunan masyarakat, mengancam pemukiman warga serta merusak sejumlah fasilitas jalan raya perkantoran disebabkan aktifitas penambangan pasir dan kerikil yang masif sejak setahun lalu.

Kata dia, sebelum adanya aktifitas penambangan pasir dan kerikil dengan menggunakan alat berat, kondisi bantaran sungai Kolowu aman-aman saja, bahkan dicurah hujan yang cukup deras. Namun setelah adanya penambangan itu, arus sungai semakin hari semakin melebar hingga terjadi musibah saat ini.

“Saya meminta pemerintah agar menghentikan segala aktifitas penambangan di sungai Kolowu, karena jika tidak dilakukan maka pemukiman kami akan habis, tempat mencari makan dan aset serta lahan perkebunan akan semakin tergerus abrasi,” tegasnya.
Bupati Buton Selatan H. La Ode Arusani mengatakan akan bersurat meminta kepada pemerintah provinsi Sultra agar meninjau kembali izin yang telah diterbitkan itu.

baca juga: Serap Aspirasi Masyarakat, Bappeda Busel Gelar Konsultasi Publik
“Kita akan meminta surat izin penambangan pasir dan kerikil di sungai Kolowu ditinjau kembali oleh Pemprov Sultra, dan mencari solusi agar kondisi abrasi ini dapat diatasi,” tutupnya. (*)